KABARBURSA.COM – Ketika industri susu nasional terus berbicara soal peningkatan produksi dalam negeri, satu persoalan lama yang masih membayangi adalah mengenai kebutuhan susu Indonesia terus tumbuh dari tahun ke tahun, tetapi sebagian besar pasokannya masih bergantung pada bahan baku impor.
Isu itulah yang secara tidak langsung menjadi latar kunjungan Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Olivier Zehnder, ke Pabrik Kejayan Nestlé Indonesia di Pasuruan, Jawa Timur, Kamis, 11 Juni 2026.
Kunjungan tersebut tidak hanya melibatkan jajaran manajemen Nestlé Indonesia, tetapi juga dihadiri perwakilan International Labour Organization (ILO) dan Swisscontact. Selain meninjau fasilitas produksi, delegasi juga mengunjungi peternak sapi perah rakyat dan koperasi yang selama ini menjadi bagian dari rantai pasok susu segar Nestlé di Jawa Timur.
Di tengah tantangan peningkatan produksi susu nasional, Olivier menilai penguatan sektor peternakan tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. “Penguatan sektor susu yang berkelanjutan membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak,” kata Olivier dalam keterangannya yang diterima KabarBursa.com, Sabtu, 13 Juni 2026.
Menurut dia, selama kunjungan berlangsung pihaknya berkesempatan berdialog dengan peternak, koperasi, pemerintah daerah, serta mitra industri yang terlibat dalam ekosistem susu nasional. “Dalam hal ini, Nestlé Indonesia telah menjadi mitra penting yang berkontribusi meningkatkan produktivitas dan standar kualitas,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi relevan mengingat industri pengolahan susu nasional selama ini masih menghadapi tantangan pasokan bahan baku domestik. Rendahnya produktivitas peternak rakyat membuat industri harus menutup kekurangan pasokan melalui impor bahan baku susu dari luar negeri.
Di sisi lain, perusahaan pengolahan susu membutuhkan pasokan yang stabil, baik dari sisi volume maupun kualitas, untuk memenuhi kebutuhan produksi yang terus meningkat.
Nestlé Indonesia mengklaim telah membangun kemitraan dengan peternak sapi perah rakyat dan koperasi sejak 1975. Melalui skema tersebut, perusahaan memperoleh pasokan susu segar sekaligus menjalankan program pendampingan bagi peternak.
Direktur Technical Nestlé Indonesia Antonio Prochilo mengatakan kemitraan dengan peternak merupakan bagian penting dari strategi perusahaan dalam membangun rantai pasok yang lebih kuat.
“Melalui kolaborasi ini, kami berupaya memperkuat rantai pasok susu berkelanjutan agar lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan peternak di Indonesia,” kata Antonio.
Menurut perusahaan, pendekatan tersebut tidak hanya bertujuan menjaga ketersediaan bahan baku, tetapi juga meningkatkan daya saing peternak lokal di tengah kebutuhan industri yang semakin besar.
Selain mengandalkan kemitraan dengan peternak, Nestlé juga memperkenalkan sejumlah inisiatif keberlanjutan yang diterapkan di Pabrik Kejayan. Di antaranya pengolahan air limbah melalui fasilitas Wastewater Treatment Plant (WWTP) serta penggunaan Biomass Boiler Plant untuk mendukung operasional yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Praktik keberlanjutan juga diterapkan di tingkat peternak melalui pemanfaatan limbah ternak menjadi energi biogas dan pupuk organik.
Factory Manager Pabrik Kejayan Nestlé Indonesia Imelda Mayasari mengatakan hubungan antara peternak dan fasilitas produksi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan industri susu nasional.
“Melalui pemanfaatan susu segar yang dihasilkan oleh para peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur, penerapan standar operasional yang bertanggung jawab, serta berbagai inisiatif keberlanjutan, kami terus berupaya menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat setempat dan mendukung peningkatan perekonomian daerah serta memastikan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Meski demikian, tantangan terbesar sektor susu nasional sesungguhnya tidak hanya terletak pada keberlanjutan lingkungan atau kemitraan usaha. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana meningkatkan produktivitas peternak sapi perah rakyat agar mampu memenuhi kebutuhan industri yang terus berkembang.
Karena itu, kunjungan Dubes Swiss ke Pasuruan dapat dibaca sebagai sinyal bahwa masa depan industri susu Indonesia tidak hanya bergantung pada investasi pabrik dan teknologi, tetapi juga pada kemampuan membangun ekosistem peternakan yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan impor secara bertahap.
Susu Lokal Masih Kalah Jauh dari Impor
Di balik kunjungan Duta Besar Swiss ke Pabrik Kejayan Nestlé Indonesia, tersimpan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar aktivitas industri susu. Indonesia hingga kini masih menghadapi ketergantungan tinggi terhadap impor susu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Data Kementerian Pertanian menunjukkan produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) saat ini baru mampu memenuhi sekitar 21 persen kebutuhan nasional. Sementara kebutuhan susu Indonesia telah mencapai sekitar 4,6 juta ton per tahun. Dengan kata lain, hampir 79 persen kebutuhan nasional masih harus dipenuhi dari impor.
Angka tersebut menjelaskan mengapa isu pengembangan peternak sapi perah terus menjadi perhatian pemerintah maupun pelaku industri.
Masalahnya bukan hanya pada pasokan, tetapi juga pada kesenjangan antara produksi dan kebutuhan. Data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menunjukkan kebutuhan susu nasional telah mencapai sekitar 4,7 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru berada di kisaran 1 juta ton. Artinya, Indonesia masih menghadapi defisit susu sekitar 3,7 juta ton setiap tahun.
Kondisi tersebut membuat pemerintah menyiapkan langkah yang tidak kecil. Melalui Peta Jalan Pemenuhan Susu Segar Nasional 2025–2029, pemerintah menargetkan impor satu juta ekor sapi perah dalam lima tahun ke depan untuk mengejar swasembada susu pada 2029. Pada tahun itu, produksi susu nasional ditargetkan mencapai lebih dari 8 juta ton sehingga ketergantungan terhadap impor dapat ditekan secara signifikan.
Tantangan lain berada di tingkat peternak. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat populasi sapi perah Indonesia baru sekitar 541 ribu ekor. Mayoritas peternak masih merupakan peternak rakyat berskala kecil dengan jumlah kepemilikan sapi yang terbatas, sehingga produktivitas nasional sulit meningkat secara cepat. Akibatnya, meskipun permintaan susu terus tumbuh, produksi domestik belum mampu mengejar kebutuhan industri pengolahan susu.
Ironisnya, ketergantungan impor itu terjadi ketika konsumsi susu masyarakat Indonesia masih tergolong rendah dibanding negara-negara tetangga. Berdasarkan data BPS yang dikutip akademisi IPB, konsumsi susu nasional baru sekitar 16,5 liter per kapita per tahun. Angka ini masih jauh di bawah Thailand yang mencapai sekitar 33 liter dan Malaysia sekitar 50 liter per kapita per tahun.
Artinya, jika konsumsi susu masyarakat Indonesia meningkat seiring pertumbuhan penduduk, pendapatan, dan program Makan Bergizi Gratis, kebutuhan susu nasional berpotensi melonjak jauh lebih cepat daripada kemampuan produksi dalam negeri. Di sinilah tantangan terbesar industri susu Indonesia berada. Bukan hanya meningkatkan konsumsi, tetapi juga memastikan peternak lokal mampu mengejar kebutuhan pasar yang terus membesar.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.