KABARBURSA.COM – Performa sektor eksternal Indonesia kembali menunjukkan taji di awal tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia pada Februari 2026 mencatatkan surplus sebesar USD1,27 miliar.
Capaian ini memperpanjang rekor impresif Indonesia yang berhasil menjaga posisi surplus selama hampir enam tahun terakhir. "Neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut, yaitu sejak bulan Mei tahun 2020," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers daring yang dilihat via YouTube BPS, Rabu, 1 April 2026.
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Februari 2026, total surplus Indonesia telah mencapai USD2,23 miliar. Ateng menjelaskan bahwa performa ekspor non-migas menjadi motor utama penggerak surplus tersebut.
Lonjakan ekspor non-migas pada Februari 2026 didorong oleh beberapa komoditas unggulan yang menjadi andalan emiten di bursa saham. Ekspor nikel dan barang daripadanya (HS 75) tercatat melesat tajam sebesar 74,84 persen secara tahunan (year-on-year).
Sektor lemak dan minyak hewan nabati atau CPO (HS 15) juga mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 16,19 persen pada bulan Februari.
"Peningkatan nilai ekspor Februari di tahun 2026 secara tahunan tersebut terutama didorong oleh peningkatan nilai ekspor non-migasnya, terutama lemak dan minyak hewan nabati serta nikel dan barang daripadanya," jelas Ateng.
Meski demikian, sektor pertambangan lainnya seperti batu bara justru mengalami tekanan dengan penurunan nilai ekspor sebesar 18,21 persen secara kumulatif.
Sinyal Ekspansi Industri
Di sisi impor, BPS mencatat adanya lonjakan signifikan pada kelompok barang modal yang mencapai 33,68 persen. Fenomena ini seringkali dibaca pelaku pasar sebagai sinyal positif ekspansi industri dalam negeri. Kenaikan ini didominasi oleh impor mesin dan peralatan mekanik (HS 84) serta mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85), termasuk alat berat dan perangkat teknologi industri yang menjadi tulang punggung produksi.
"Nilai impor barang modal ini tentunya sebagai pendorong utama, karena kenaikan impornya naik cukup besar," kata Ateng.
Namun, di balik surplus total yang diraih, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam hubungan dagang bilateral dengan beberapa negara mitra, khususnya China.
BPS mencatat China masih menjadi penyumbang defisit terdalam bagi neraca perdagangan RI. "Penyumbang defisit terdalam ada tiga negara, yang pertama Tiongkok itu defisit sebesar USD 4,99 miliar," ungkap Ateng. Selain Tiongkok, Indonesia juga mencatatkan defisit dengan Australia sebesar USD 1,69 miliar dan Singapura sebesar USD 1,48 miliar.
Secara keseluruhan, total nilai ekspor Indonesia periode Januari-Februari 2026 mencapai USD 44,32 miliar, naik 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara total impor berada di angka USD 42,09 miliar. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.