KABARBURSA.COM – Delapan negara yang tergabung dalam OPEC+ pada Minggu, 1 Maret 2026 mengumumkan bahwa akan meningkatkan produksi minyak mentah, di tengah serangan besar-besaran yang dilancarkan pasukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Seperti dilansir Associated Press, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC itu dalam pertemuan kemarin, yang sebenarnya telah dijadwalkan sebelum perang dimulai, menyatakan akan menaikkan produksi sebesar 206.000 barel per hari pada April. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan para analis.
Negara-negara yang meningkatkan produksi meliputi Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.

Terkait serangan di berbagai titik kawasan, termasuk terhadap dua kapal yang melintas di Selat Hormuz –jalur sempit di mulut Teluk Persia– berpotensi membatasi kemampuan negara-negara untuk mengekspor minyak ke seluruh dunia. Hal itu kemungkinan besar akan mendorong kenaikan harga minyak mentah dan bensin, menurut para ahli energi.
Merujuk Rystad Energy, sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari, atau sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia, dikirim melalui Selat Hormuz, menjadikannya titik sempit (chokepoint) paling krusial bagi perdagangan minyak global.
“Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati Selat Hormuz, arteri vital bagi perdagangan dunia, sehingga pasar lebih khawatir apakah barel minyak dapat bergerak daripada soal kapasitas cadangan di atas kertas,” kata Jorge León, wakil presiden senior dan kepala analisis geopolitik Rystad kepada Associated Press, Minggu, 1 Maret 2026.
Kapal tanker yang melintasi selat tersebut, yang di bagian utara berbatasan dengan Iran, mengangkut minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Iran.
Sebagaimana diketahui, Iran sempat menutup sementara sebagian wilayah selat tersebut pada pertengahan Februari untuk apa yang disebutnya sebagai latihan militer. Gangguan lanjutan terhadap jalur pengiriman tersebut dapat menyebabkan pasokan menurun dan harga minyak meningkat.
“Jika arus pengiriman melalui Teluk terhambat, tambahan produksi hanya akan memberikan sedikit kelegaan dalam jangka pendek, sehingga akses terhadap jalur ekspor jauh lebih penting dibanding target produksi yang diumumkan,” pungkas León. (*)