Logo
>

OPEC Genjot Produksi 206 Ribu Barel usai AS-Israel Gempur Iran

Delapan negara OPEC+ menaikkan output minyak April 2026 di tengah serangan AS-Israel ke Iran dan risiko gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz.

Ditulis oleh Syahrianto
OPEC Genjot Produksi 206 Ribu Barel usai AS-Israel Gempur Iran
Ilustrasi: Suasana sebuah pertemuan tahunan OPEC. (Foto: Dok. OPEC)

KABARBURSA.COM – Delapan negara yang tergabung dalam OPEC+ pada Minggu, 1 Maret 2026 mengumumkan bahwa akan meningkatkan produksi minyak mentah, di tengah serangan besar-besaran yang dilancarkan pasukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Seperti dilansir Associated Press, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC itu dalam pertemuan kemarin, yang sebenarnya telah dijadwalkan sebelum perang dimulai, menyatakan akan menaikkan produksi sebesar 206.000 barel per hari pada April. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan para analis.

Negara-negara yang meningkatkan produksi meliputi Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.

OPEC+ menetapkan tambahan produksi total 206 ribu barel per hari untuk April 2026 dengan kontribusi terbesar berasal dari Arab Saudi dan Rusia masing-masing 62 ribu barel per hari. (Foto: Dok. OPEC) 
 

 

Terkait serangan di berbagai titik kawasan, termasuk terhadap dua kapal yang melintas di Selat Hormuz –jalur sempit di mulut Teluk Persia– berpotensi membatasi kemampuan negara-negara untuk mengekspor minyak ke seluruh dunia. Hal itu kemungkinan besar akan mendorong kenaikan harga minyak mentah dan bensin, menurut para ahli energi.

Merujuk Rystad Energy, sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari, atau sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia, dikirim melalui Selat Hormuz, menjadikannya titik sempit (chokepoint) paling krusial bagi perdagangan minyak global. 

“Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati Selat Hormuz, arteri vital bagi perdagangan dunia, sehingga pasar lebih khawatir apakah barel minyak dapat bergerak daripada soal kapasitas cadangan di atas kertas,” kata Jorge León, wakil presiden senior dan kepala analisis geopolitik Rystad kepada Associated Press, Minggu, 1 Maret 2026.

Kapal tanker yang melintasi selat tersebut, yang di bagian utara berbatasan dengan Iran, mengangkut minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Iran.

Sebagaimana diketahui, Iran sempat menutup sementara sebagian wilayah selat tersebut pada pertengahan Februari untuk apa yang disebutnya sebagai latihan militer. Gangguan lanjutan terhadap jalur pengiriman tersebut dapat menyebabkan pasokan menurun dan harga minyak meningkat.

“Jika arus pengiriman melalui Teluk terhambat, tambahan produksi hanya akan memberikan sedikit kelegaan dalam jangka pendek, sehingga akses terhadap jalur ekspor jauh lebih penting dibanding target produksi yang diumumkan,” pungkas León. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.