KABARBURSA.COM — Langkah OPEC+ menaikkan target produksi minyak kembali jadi sorotan. Di atas kertas, suplai memang bertambah. Namun di lapangan, pasokan global masih terhambat akibat konflik Iran yang belum mereda.
Dalam pertemuan daring, kelompok produsen minyak tersebut sepakat menaikkan target produksi sebesar 188.000 barel per hari pada Juni 2026. Ini menjadi kenaikan bulanan ketiga secara beruntun.
Namun, kenaikan ini dinilai lebih bersifat simbolis ketimbang riil. Selama jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz masih terganggu akibat perang Iran, tambahan produksi tersebut belum sepenuhnya bisa mengalir ke pasar.
Analis Rystad Energy sekaligus mantan pejabat OPEC, Jorge Leon, menilai kebijakan ini lebih banyak mengirim pesan ke pasar dibanding benar-benar menambah pasokan.
“OPEC+ sedang mengirim pesan dua lapis ke pasar, yaitu keberlanjutan meskipun Uni Emirat Arab keluar, dan kontrol meskipun dampak fisik terbatas,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Minggu 3 Mei 2026.
Ia juga menegaskan bahwa peningkatan produksi saat ini masih bersifat administratif. “Walaupun produksi meningkat di atas kertas, dampak nyata terhadap pasokan fisik tetap sangat terbatas karena kendala di Selat Hormuz. Ini bukan soal menambah barel, melainkan menunjukkan bahwa OPEC+ masih memegang kendali,” katanya.
Konflik Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026 membuat jalur vital Selat Hormuz terganggu. Dampaknya langsung terasa pada ekspor minyak dari negara-negara utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, hingga Uni Emirat Arab.
Padahal sebelum konflik, negara-negara tersebut merupakan produsen yang masih memiliki kapasitas untuk meningkatkan produksi..Bahkan jika jalur Hormuz kembali dibuka, pelaku industri memperkirakan butuh waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan agar aliran minyak kembali normal.
Di tengah gangguan ini, harga minyak global melonjak hingga menembus USD125 per barel atau sekitar Rp2.112.500. Lonjakan ini mulai memicu kekhawatiran akan krisis bahan bakar, khususnya avtur, dalam satu hingga dua bulan ke depan, sekaligus meningkatkan tekanan inflasi global.
Data OPEC menunjukkan produksi minyak seluruh anggota hanya mencapai rata-rata 35,06 juta barel per hari pada Maret 2026. Angka ini turun tajam sebesar 7,70 juta barel per hari dibanding Februari, dengan penurunan terbesar berasal dari Arab Saudi dan Irak akibat hambatan ekspor.
Menariknya, target produksi Arab Saudi justru dinaikkan menjadi 10,291 juta barel per hari pada Juni, jauh di atas realisasi produksi yang dilaporkan hanya sebesar 7,76 juta barel per hari pada Maret.
Kondisi ini menegaskan bahwa kebijakan produksi OPEC+ saat ini lebih berfungsi sebagai sinyal stabilitas pasar dibanding solusi nyata untuk kekurangan pasokan.
Dengan kata lain, pasar minyak global kini berada dalam situasi paradoks. Produksi ditingkatkan, tetapi distribusi tetap tersendat. Selama konflik geopolitik belum mereda, tambahan suplai hanya akan menjadi angka di atas kertas, bukan solusi di lapangan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.