KABARBURSA.COM — Perang yang pecah di sekitar Iran tidak hanya mengirimkan rudal ke langit Teluk Persia. Ia juga menembakkan gelombang kejut ke pasar energi global. Senin, 2 Maret 2026, pagi, harga minyak dan gas melonjak tajam setelah gangguan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz serta serangan terhadap fasilitas produksi memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan dunia.
Kenaikan paling brutal terjadi pada gas alam. Di Eropa, harga melonjak lebih dari 40 persen setelah QatarEnergy menghentikan produksi gas alam cair atau LNG menyusul serangan terhadap fasilitasnya. Qatar selama ini menjadi pemasok utama LNG bagi Eropa, terutama setelah pasokan pipa Rusia menyusut akibat perang di Ukraina. Ketika Qatar berhenti, Eropa langsung merasakan getarannya.
“Infrastruktur berada dalam risiko di seluruh kawasan, dan itu bukan hanya karena serangan yang disengaja, tetapi juga serangan yang tidak disengaja,” kata Managing Director Clearview Energy Partners, Kevin Book, dikutip dari AP, Selasa, 3 Maret 2026. Ia menambahkan, “Pecahan dan puing dari pencegatan rudal bisa jatuh ke fasilitas dan melumpuhkannya juga, dan jadi ada sejumlah tantangan yang muncul dari konflik semacam ini di wilayah dengan begitu banyak produksi energi.”
Pasar merespons cepat. Minyak Amerika Serikat melonjak 6,3 persen ke level USD71.23 per barel atau sekitar Rp1.200.226 per barel. Sementara Brent, patokan internasional, naik 6,7 persen dan ditutup di USD77.74 per barel atau sekitar Rp1.310.969 per barel.
Harga minyak mentah adalah faktor terbesar yang menentukan harga bensin di Amerika Serikat, isu yang sangat sensitif secara politik menjelang pemilu sela Kongres. Di banyak negara lain, kenaikan energi berisiko kembali memantik inflasi yang belum sepenuhnya reda.
Selat Hormuz Menjadi Titik Tegang
Perhatian pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur sempit di ujung selatan Teluk Persia yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Ketika sistem navigasi satelit terganggu dan kapal-kapal tanker memperlambat laju, kekhawatiran membesar.
Perusahaan data Kpler melaporkan lalu lintas tanker turun tajam akibat gangguan sistem navigasi. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris juga melaporkan serangan terhadap beberapa kapal di sekitar selat dan memperingatkan adanya interferensi elektronik tinggi yang mengacaukan sistem pelacakan kapal.
Sebuah kapal tanker berbendera Kepulauan Marshall dihantam drone bermuatan bom di Teluk Oman dan menewaskan satu awak kapal, menurut otoritas Oman. Iran disebut telah mengancam kapal-kapal yang mendekati Hormuz dan diyakini melancarkan sejumlah serangan.
Situasi ini, menurut Book, telah menciptakan “penutupan de facto” Selat Hormuz. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut ditentukan oleh toleransi risiko operator kapal dan kapten di laut. “Kenyataannya perusahaan asuransi menaikkan premi atau dalam beberapa kasus membatalkan polis dan kapten kapal punya kekhawatiran risiko. Begitu juga pemilik kapal dan pengirim barang,” ujarnya.
Arab Saudi juga tidak luput. Televisi pemerintah Saudi melaporkan kerajaan mencegat drone Iran yang menyerang kilang Ras Tanura dekat Dammam dan kilang tersebut dihentikan sementara sebagai langkah pencegahan. Pasar kini bertanya-tanya apakah konflik akan meluas ke negara produsen minyak lain di kawasan Teluk.
Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata nasional sudah naik enam sen menjadi USD2.99 per galon atau sekitar Rp50.382 per galon. Penelitian Federal Reserve Bank of Dallas pada 2019 menunjukkan kenaikan USD10 per barel biasanya berdampak pada kenaikan sekitar 25 sen per galon dalam waktu sekitar 20 hari.
Di Eropa, dampak langsung pada harga pompa relatif lebih kecil karena porsi pajak lebih besar dalam struktur harga bahan bakar. Namun kenaikan energi tetap bisa merembet ke seluruh perekonomian. Ekonom Berenberg Holger Schmieding memperkirakan kenaikan berkelanjutan USD15 per barel dapat menambah sekitar 0,5 poin persentase pada inflasi konsumen Eropa.
Tidak Ada Jalan Pintas Menghindari Hormuz
Memang ada jaringan pipa yang bisa mem-bypass Selat Hormuz, tetapi kapasitasnya tidak cukup untuk menggantikan seluruh volume minyak yang biasanya melintas. Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab masih sangat bergantung pada kapal tanker untuk mengirim sebagian besar ekspor mereka ke pasar global.
Iran sendiri mengekspor sekitar 1,6 juta barel per hari dan seluruhnya melewati selat tersebut. Sebagian besar dikirim ke China. Karena itu, blokade total akan merugikan Teheran sendiri.
“Iran pada dasarnya punya dua cara untuk menutup selat. Satu dengan mengganggu atau menyerang kapal, dan yang lain dengan menanam ranjau,” kata Book. “Dan tanpa Angkatan Laut, kedua hal itu akan sulit. Jadi, jika presiden berhasil ‘menghancurkan,’ dalam kata-katanya, Angkatan Laut Iran, maka prospek penutupan jangka panjang seharusnya menurun, dan itu akan meningkatkan kemungkinan kapal-kapal mulai berlayar lagi.”
Selat ini juga jalur vital LNG. Kontrak berjangka gas Eropa untuk pengiriman April melonjak ke 45.46 euro atau sekitar USD53.26 per unit setara sekitar Rp897.431 setelah QatarEnergy menghentikan produksi. Perusahaan milik negara itu menyalahkan perang sebagai penyebab keputusan tersebut.
Kenaikan harga pada awal pekan ini masih berada dalam rentang USD5 sampai USD10 per barel yang sebelumnya diperkirakan analis hanya karena faktor ketakutan perang. Sebagian risiko bahkan sudah tercermin dalam harga sebelum konflik meletus.
Namun jika gangguan kapal di Hormuz berlangsung lama atau infrastruktur energi negara Teluk lain ikut rusak, lonjakan bisa berlanjut. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut operasi militer terhadap Iran diperkirakan berlangsung empat sampai lima pekan, tetapi Amerika memiliki “ the capability to go far longer.”
Schmieding mengajukan pertanyaan kunci. “Apakah Selat Hormuz akan secara efektif ditutup untuk ekspor minyak dan gas selama lebih dari beberapa minggu. Jika ya, itu akan melukai pertumbuhan global dan menaikkan inflasi global secara nyata.” Ia menambahkan, Trump kemungkinan akan berupaya keras mencegah lonjakan harga energi berkepanjangan menjelang pemilu sela November.
Ia memperkirakan harga minyak bisa kembali ke kisaran USD65 sampai USD70 per barel atau sekitar Rp1.095.250 hingga Rp1.179.500 per barel setelah lonjakan jangka pendek.
Namun analis Verisk Maplecroft Torbjorn Soltvedt melihat risiko eskalasi yang lebih besar. Serangan Iran ke Ras Tanura disebutnya sebagai peningkatan signifikan yang menunjukkan infrastruktur energi utama Teluk berada dalam jangkauan. Jika serangan langsung terhadap fasilitas energi meluas ke negara lain di kawasan, pasar bisa mulai menghitung harga menuju USD90 per barel atau sekitar Rp1.516.500 bahkan lebih.
Dampak ke Indonesia
Sebagai negara net importir minyak, Indonesia berada dalam posisi rentan. Dalam simulasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2026, setiap kenaikan USD1 per barel di atas asumsi harga dasar dapat menambah beban belanja negara sekitar Rp10,3 triliun. Jika harga benar-benar bertahan di kisaran USD100 hingga USD120 per barel, tambahan tekanan terhadap belanja negara berpotensi mencapai ratusan triliun rupiah.
Lonjakan tersebut bukan hanya menyangkut subsidi bahan bakar minyak. Pemerintah juga harus menyiapkan kompensasi tambahan kepada Pertamina serta memperbesar beban subsidi listrik. Ruang fiskal yang sudah sempit bisa semakin tertekan.
Di sisi lain, risiko keuangan juga mengintai. Dalam situasi konflik global, investor cenderung mencari aset aman. Perpindahan dana ke negara maju dapat menekan nilai tukar rupiah. Pelemahan kurs akan memperparah beban impor energi dan memperbesar tekanan inflasi.
Sektor pangan pun tidak kebal. Komoditas seperti kedelai, gandum, dan daging yang masih bergantung pada impor sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dan biaya logistik global. Jika harga minyak naik bersamaan dengan pelemahan rupiah, imported inflation berpotensi terjadi. Kenaikan harga pangan dan energi secara bersamaan bisa menekan daya beli masyarakat.
Situasi ini dinilai jauh lebih serius dibanding ketegangan sebelumnya di Timur Tengah. Gugurnya pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei disebut menjadi titik balik yang memperluas eskalasi konflik, termasuk penutupan Selat Hormuz. Jika jalur itu benar-benar terganggu, bukan hanya sekitar 20 persen pasokan minyak dunia yang terdampak, tetapi juga sekitar 30 persen pasokan LNG global yang melewati kawasan tersebut.
Kombinasi gangguan minyak dan gas akan mendorong harga komoditas energi naik signifikan. Dampaknya bisa merambat ke banyak negara berkembang yang masih berjuang memulihkan ekonomi pascapandemi dan tekanan inflasi global.
Bagi Indonesia, persoalannya menjadi berlapis. Tekanan harga energi, beban subsidi, potensi pelemahan rupiah, dan kenaikan harga pangan dapat terjadi dalam waktu bersamaan. Jika konflik berkepanjangan, risiko perlambatan ekonomi bahkan krisis di sejumlah negara berkembang bukan lagi sekadar skenario terburuk, melainkan kemungkinan yang harus diantisipasi sejak dini.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.