KABARBURSA.COM - Pergerakan dolar Amerika Serikat pada akhir pekan ini menunjukkan perubahan arah yang cukup jelas, seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pernyataan Iran yang membuka kembali Selat Hormuz untuk jalur komersial, langsung menggeser sentimen pasar dari mode defensif menuju aset berisiko.
Dalam situasi seperti ini, dolar yang selama konflik berfungsi sebagai safe haven justru mulai ditinggalkan.
Indeks dolar tercatat turun 0,3 persen ke level 97,96, setelah sempat menyentuh 97,632, titik terendah dalam tujuh pekan. Secara mingguan, pelemahannya mencapai 0,6 persen dan memperpanjang tren turun dua pekan berturut-turut.
Dalam rentang dua minggu terakhir, indeks ini sudah terkoreksi sekitar 2,1 persen dan menjadi penurunan terbesar sejak akhir Januari.
Namun, gerak Greenback tidak berdiri sendiri. Hal ini terjadi bersamaan dengan perubahan harga aset global lainnya. Harga minyak anjlok setelah pembukaan Selat Hormuz, pasar saham Amerika Serikat menguat tajam, dan obligasi pemerintah AS mengalami penguatan yang mendorong imbal hasil turun.
Kombinasi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang dolar.
Namun, pelemahan dolar dalam fase ini belum mencerminkan perubahan fundamental yang lebih dalam. Tekanan yang terjadi lebih banyak berasal dari proses unwinding terhadap posisi defensif yang dibangun selama konflik.
Dengan kata lain, dolar melemah karena risiko mereda, bukan karena ekonomi Amerika Serikat menunjukkan pelemahan struktural.
Hal ini terlihat dari sikap pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed. Meskipun dolar turun, ekspektasi suku bunga tidak sepenuhnya berubah menjadi dovish secara agresif.
Data menunjukkan probabilitas pemangkasan suku bunga pada Desember berada di atas 50 persen, naik dari sekitar 29,5 persen sebelumnya. Namun pada saat yang sama, inflasi yang masih relatif tinggi membuat arah kebijakan tetap menjadi variabel yang belum pasti.
Yen Menguat 0,6 Persen, Euro Naik
Di pasar mata uang utama, yen Jepang menguat terhadap dolar dengan penguatan sekitar 0,6 persen ke level 158,22. Pergerakan ini juga mencerminkan pelemahan dolar, meskipun kebijakan Bank of Japan sendiri belum menunjukkan perubahan.
Gubernur BOJ Kazuo Ueda menegaskan bahwa suku bunga kemungkinan tetap dipertahankan setidaknya hingga Juni, didukung oleh kondisi suku bunga riil yang masih rendah dan profit korporasi yang solid.
Euro juga bergerak menguat, naik tipis 0,1 persen ke USD1,1789 setelah sempat menyentuh USD1,1848, level tertinggi dalam delapan pekan. Secara mingguan, euro mencatat kenaikan 0,6 persen dan melanjutkan tren penguatan tiga pekan berturut-turut.
Di balik itu, pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan Bank Sentral Eropa, dengan peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil dan bergeser ke periode berikutnya.
Sementara itu, poundsterling bergerak relatif stabil dengan kenaikan 0,1 persen ke USD1,3546, mencatat penguatan dua pekan beruntun.
Mata uang berbasis risiko seperti dolar Australia juga ikut menguat 0,2 persen ke USD0,7178, mendekati level tertinggi empat tahun, menunjukkan bahwa arus dana mulai kembali ke aset yang lebih sensitif terhadap pertumbuhan global.
Dalam konteks ini, pergerakan dolar AS mencerminkan satu pola yang konsisten, bahwa setiap kali risiko geopolitik mereda, tekanan terhadap dolar meningkat karena kebutuhan terhadap aset lindung nilai menurun.
Namun, arah jangka menengah tetap akan ditentukan oleh faktor domestik Amerika Serikat, terutama inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed.
Dengan demikian, pelemahan dolar saat ini lebih tepat dibaca sebagai koreksi berbasis sentimen dibandingkan perubahan tren jangka panjang. Selama ketidakpastian terkait arah suku bunga masih tinggi dan ekonomi AS tetap menunjukkan ketahanan, dolar masih memiliki penopang fundamental.
Pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada bagaimana pasar menilai keseimbangan antara meredanya risiko global dan arah kebijakan moneter ke depan.(*)