Logo
>

Penuhi Lonjakan Listrik Ekonomi Hijau ASEAN Perlu Dana hingga USD200 Miliar

Temuan itu tertuang dalam laporan 2026 Southeast Asia's Green Economy Report yang dirilis Bain & Company bersama Standard Chartered.

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Penuhi Lonjakan Listrik Ekonomi Hijau ASEAN Perlu Dana hingga USD200 Miliar
Penuhi Lonjakan Listrik Ekonomi Hijau ASEAN Perlu Dana hingga USD200 Miliar

KABARBURSA.COM - Lonjakan kebutuhan listrik dari kawasan industri hijau, pusat data, hingga fasilitas pengisian energi kendaraan listrik diproyeksikan melonjak drastis dalam beberapa tahun mendatang. Dalam horizon tiga sampai empat tahun ke depan, konsumsi daya dari sektor-sektor tersebut diperkirakan meningkat hampir tiga kali lipat hingga melampaui 100 terawatt per jam.

Temuan itu tertuang dalam laporan 2026 Southeast Asia's Green Economy Report yang dirilis Bain & Company bersama Standard Chartered. Laporan tersebut memperkirakan kebutuhan ekspansi energi hijau di kawasan akan menyedot investasi lebih dari USD200 miliar. Nilai itu mencerminkan masifnya kebutuhan infrastruktur energi di tengah akselerasi transformasi ekonomi rendah karbon di Asia Tenggara. Seperti dinukil reuters di Jakarta, Senin 18 Mei 2026.

Sebagian besar aliran dana diprediksi terkonsentrasi pada pembangunan pusat data atau data center. Bahkan, hampir seluruh operator disebut rela menanggung biaya listrik lebih tinggi demi menghindari keterlambatan koneksi jaringan yang dapat menghambat operasional bisnis digital mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa keandalan pasokan energi kini menjadi komoditas strategis di tengah ledakan ekonomi berbasis data.

Saat ini, nilai ekonomi hijau Asia Tenggara diperkirakan mencapai sekitar USD290 miliar dan berpotensi meningkat menjadi USD430 miliar pada 2030. Namun demikian, laporan tersebut menyoroti bahwa hanya sekitar 60 persen dari total belanja hijau senilai USD540 miliar yang diproyeksikan muncul dalam rantai nilai sektor listrik dan kendaraan listrik kawasan hingga akhir dekade nanti yang dinilai memiliki jalur implementasi kredibel dalam situasi saat ini.

Hambatan struktural masih menjadi batu sandungan utama. Dalam lima tahun terakhir, sekitar 50 hingga 60 persen proyek energi terbarukan di Vietnam, Thailand, dan Indonesia dilaporkan batal terealisasi akibat beragam kendala sistemik. Mulai dari ketidakjelasan skema perjanjian jual beli listrik, proses perizinan yang berbelit, hingga regulasi koneksi jaringan listrik yang dinilai belum memadai.

Di sisi lain, pertumbuhan kebutuhan listrik di Asia Tenggara diperkirakan melampaui kemampuan pengembangan jaringan transmisi yang ada. Kawasan ini bahkan diperkirakan menghadapi defisit investasi jaringan listrik sekitar USD18 miliar per tahun hingga 2035. Situasi tersebut memperlihatkan adanya disparitas antara laju industrialisasi hijau dengan kesiapan infrastruktur energi penopangnya.

Perubahan lanskap global turut memperumit dinamika tersebut. Aturan main ekonomi hijau dunia kini mengalami pergeseran seiring transformasi struktural global. Jika sebelumnya isu keberlanjutan menjadi poros utama, kini banyak negara mulai menempatkan keamanan energi dan pertumbuhan ekonomi sebagai prioritas yang lebih dominan. Akibatnya, agenda transisi hijau pun semakin sarat dengan kalkulasi geopolitik dan kepentingan strategis nasional.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.