KABARBURSA.COM — Lonjakan harga bahan bakar mulai terasa di Amerika Serikat seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Rata-rata harga solar eceran di negara tersebut dilaporkan menembus USD5 per galon atau sekitar Rp84.500 per galon atau menjadi yang kedua kalinya dalam sejarah mencapai level tersebut.
Data lembaga pemantau pasar bahan bakar GasBuddy menunjukkan kenaikan ini terjadi pada Senin, kemarin, lantaran dipicu terganggunya pasokan global akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Kenaikan harga solar ini bukan sekadar isu energi. Para ekonom menilai dampaknya bisa menjalar ke berbagai sektor ekonomi global, terutama karena solar digunakan dalam industri manufaktur dan distribusi logistik.
Biaya produksi dan distribusi yang meningkat berpotensi diteruskan ke konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang. Kondisi ini juga berisiko memicu inflasi energi yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi, termasuk di Amerika Serikat menjelang agenda politik domestik.
Dilansir dari Reuters, Selasa, 17 Maret 2026, lonjakan harga solar di atas USD5 per galon terakhir kali terjadi pada Desember 2022. Saat itu pasar energi global masih terguncang akibat invasi Rusia ke Ukraina.
Kini, tekanan kembali muncul akibat konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah memasuki pekan ketiga. Kawasan Timur Tengah diketahui menjadi pemasok utama solar dunia sekaligus penghasil minyak mentah yang cocok untuk produksi bahan bakar tersebut.
Situasi semakin memburuk setelah Iran melakukan blokade hampir penuh di Selat Hormuz. Jalur ini menjadi salah satu titik vital perdagangan energi global.
Blokade tersebut berdampak pada sekitar 10 persen hingga 20 persen pasokan solar global yang diangkut melalui jalur laut. Di sisi lain, penurunan aliran minyak mentah dari Timur Tengah ke kilang di Asia juga memaksa sejumlah fasilitas pengolahan mengurangi produksi, sehingga memperketat ketersediaan solar di pasar global.
Berbagai langkah yang ditempuh pemerintah Amerika Serikat bersama negara-negara industri, termasuk pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar, belum mampu meredam kenaikan harga bahan bakar.
Selain solar, harga bensin di Amerika Serikat juga ikut meningkat. Rata-rata nasional tercatat mencapai USD3,76 per galon atau sekitar Rp63.500 per galon, menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2023.
Analis GasBuddy Patrick De Haan menilai tekanan harga bahan bakar masih akan berlanjut selama gangguan pasokan di Selat Hormuz belum teratasi.
“Sampai kita melihat pemulihan aliran minyak yang signifikan melalui Selat Hormuz, tekanan kenaikan harga bahan bakar kemungkinan akan terus berlanjut,” katanya.
Solar Jadi Urat Nadi Ekonomi AS
Lonjakan harga solar di Amerika Serikat merupakan ancaman langsung bagi aktivitas ekonomi. Data otoritas energi AS menunjukkan konsumsi diesel mencapai sekitar 2,98 juta barel per hari atau setara 125 juta galon per hari.
Porsi tersebut mencakup sekitar 23 persen kebutuhan energi sektor transportasi dan sekitar 6 persen dari total konsumsi energi nasional. Dalam kondisi tertentu, konsumsi distillate bahkan bisa mendekati 3,9 juta barel per hari.
Angka ini menggambarkan betapa krusialnya peran solar dalam menopang aktivitas ekonomi AS. Bahan bakar ini digunakan secara luas mulai dari truk logistik, kereta barang, hingga alat berat di sektor industri dan manufaktur.
Kenaikan harga solar dengan cepat merembet ke berbagai sektor. Biaya distribusi barang meningkat, ongkos produksi naik, dan pada akhirnya harga barang ikut terdorong naik di tingkat konsumen.
Tekanan tersebut semakin berat seiring terganggunya pasokan global. Sekitar 10 hingga 20 persen perdagangan diesel dunia melalui jalur Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini diperkirakan memangkas pasokan hingga 3 sampai 4 juta barel per hari.
Pembatasan jalur oleh Iran membuat aliran minyak mentah ke kilang di Asia tersendat. Dampaknya, produksi diesel global ikut menurun sehingga pasokan makin ketat di pasar internasional.
Kombinasi konsumsi tinggi di Amerika Serikat dan gangguan pasokan global membuat harga solar melonjak tajam. Kondisi ini membuka risiko inflasi energi yang lebih luas dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.