Logo
>

Perang Iran Tekan Petani Dunia, Pupuk Langka dan Harga Pangan Terancam Naik

Perang Iran ganggu pasokan pupuk global, ancam produksi pertanian dan berpotensi dorong kenaikan harga pangan dunia.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Perang Iran Tekan Petani Dunia, Pupuk Langka dan Harga Pangan Terancam Naik
Konflik Iran picu krisis pupuk global, ancam hasil panen dan dorong kenaikan harga pangan di berbagai negara termasuk Indonesia. Foto: Dok. Kementan

KABARBURSA.COM — Konflik di Timur Tengah mulai merembet ke sektor yang paling dasar, yakni pangan. Petani di berbagai negara kini menghadapi tekanan baru setelah pasokan pupuk terganggu akibat konflik Iran yang menghambat jalur distribusi global.

Kenaikan harga energi dan tersendatnya pengiriman melalui Selat Hormuz membuat pasokan pupuk menipis. Padahal, jalur ini biasanya dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia dan hampir sepertiga perdagangan pupuk global.

Dampaknya langsung terasa di negara berkembang yang sangat bergantung pada impor pupuk dari kawasan Teluk. Kondisi ini datang di saat yang tidak tepat, yakni menjelang musim tanam.

Wakil Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia, Carl Skau, mengatakan risiko terbesar bukan hanya pada biaya, tetapi juga pada produksi pangan ke depan. “Dalam skenario terburuk, ini berarti hasil panen lebih rendah dan gagal panen pada musim berikutnya. Dalam skenario terbaik, kenaikan biaya produksi akan dimasukkan ke dalam harga pangan tahun depan,” kata Skau, dikutip dari AP, Jumat, 27 Mei 2026.

Ancaman ini semakin serius karena pupuk merupakan faktor kunci dalam produktivitas pertanian. Dua komponen utama, nitrogen dan fosfat, kini berada dalam tekanan akibat gangguan distribusi.

Nitrogen, termasuk urea yang paling banyak digunakan untuk meningkatkan hasil panen, menjadi yang paling terdampak. Keterlambatan pengiriman dan lonjakan harga gas alam cair sebagai bahan baku utama membuat pasokan semakin terbatas. Sekitar 30 persen perdagangan urea global kini terganggu akibat konflik tersebut. Beberapa negara bahkan sudah mulai merasakan dampak langsungnya.

Ekonom sistem pangan dari University of Texas, Raj Patel, menyebut situasi ini sudah masuk fase kritis. “Musim tanam sudah dimulai. Pupuknya tidak ada,” kata Patel.

Kondisi serupa juga terjadi di Afrika, di mana banyak petani bergantung pada impor pupuk dari Timur Tengah. Keterlambatan distribusi membuat petani harus mengurangi penggunaan pupuk, yang berujung pada penurunan hasil panen. Petani jagung di Kenya, Stephen Muchiri, mengatakan waktu menjadi faktor krusial dalam proses tanam. Keterlambatan sedikit saja bisa berdampak besar pada hasil produksi.

Penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan penggunaan pupuk dapat menurunkan hasil panen hingga sekitar 4 persen dalam satu musim.  Di India, tekanan juga terasa di tingkat petani kecil. Baldev Singh, petani padi berusia 55 tahun di Punjab, mengaku ketidakpastian semakin meningkat. “Sekarang kami hanya menunggu dan berharap,” kata Singh.

Di tengah kondisi ini, pemerintah di berbagai negara mulai mengambil langkah untuk menjaga pasokan dan menahan dampak ekonomi. India, misalnya, telah mengalokasikan anggaran subsidi pupuk sebesar USD12,7 miliar (Rp214,63 triliun) untuk menjaga stabilitas harga di dalam negeri.

Namun, langkah ini juga memiliki konsekuensi. Subsidi besar mengurangi ruang fiskal untuk investasi jangka panjang di sektor pertanian. Di sisi lain, negara produsen pupuk juga menghadapi keterbatasan. China yang merupakan produsen terbesar dunia memprioritaskan kebutuhan domestik, sementara Rusia yang juga pemain utama sudah beroperasi mendekati kapasitas maksimum.

Situasi ini membuat pasar pupuk global semakin ketat dan sulit diimbangi dalam jangka pendek. Direktur di Yara International, Hanna Opsahl-Ben Ammar, menegaskan pentingnya stabilitas rantai pasok pupuk bagi ketahanan pangan global. “Sistem pangan itu rapuh, dan bergantung pada rantai pasok pupuk yang stabil agar petani bisa memproduksi pangan yang dibutuhkan dunia,” Ammar.

Jika gangguan ini berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga konsumen. Penurunan produksi berpotensi mendorong kenaikan harga pangan secara global. Dalam kondisi seperti ini, konflik geopolitik tidak lagi sekadar soal energi atau wilayah. Ia telah menjalar hingga ke meja makan masyarakat dunia.

Impor Pupuk RI Jadi Titik Rawan

Dampak krisis pupuk global akibat konflik di Timur Tengah berpotensi merembet ke Indonesia. Ketergantungan terhadap impor membuat sektor pertanian domestik berada dalam posisi rentan ketika rantai pasok global terganggu.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia masih mengimpor pupuk dalam jumlah besar setiap tahun. Pada 2024, volume impor tercatat mencapai 7,52 juta ton dengan nilai sekitar USD1,97 miliar (Rp33,29 triliun). Angka ini melonjak dibanding 2023 yang berada di kisaran 5,37 juta ton.

Dalam beberapa tahun terakhir, tren impor pupuk memang berfluktuasi. Namun satu hal yang tetap, kebutuhan Indonesia terhadap pasokan luar negeri masih tinggi. Pada 2021, impor bahkan sempat menyentuh sekitar 8,12 juta ton sebelum turun dan kembali naik pada 2024.

Data juga menunjukkan pasokan pupuk nasional berasal dari berbagai negara utama, mulai dari China sebagai pemasok terbesar, hingga Rusia, Kanada, Mesir, Yordania, dan Australia. Pada 2024, misalnya, impor dari China mencapai sekitar 1,59 juta ton. Rusia menyusul dengan sekitar 1,38 juta ton, sementara Kanada berada di kisaran 1,25 juta ton. Mesir juga menjadi salah satu pemasok penting dengan volume sekitar 1,15 juta ton. Adapun Yordania dan Australia berkontribusi dalam jumlah ratusan ribu ton.

Di luar itu, Indonesia juga mengimpor pupuk dari sejumlah negara lain seperti Vietnam, Laos, Belarusia, hingga Norwegia. Pola ini menunjukkan bahwa sumber pasokan pupuk Indonesia cukup beragam dan tidak bergantung pada satu negara saja.

Ketergantungan ini menjadi krusial ketika konflik Iran mengganggu jalur distribusi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi salah satu simpul utama perdagangan energi dan pupuk dunia. Sejumlah negara pemasok utama pupuk Indonesia seperti China, Rusia, hingga kawasan Timur Tengah kini berada dalam bayang-bayang gangguan distribusi dan kenaikan biaya logistik. Kondisi ini berpotensi mendorong harga pupuk di pasar global sekaligus memperketat pasokan.

Dalam situasi normal, fluktuasi impor masih bisa diantisipasi. Namun dalam kondisi krisis, gangguan pasokan berisiko langsung terasa di dalam negeri. Pupuk merupakan faktor utama dalam produksi pertanian. Ketika pasokan terganggu atau harga naik, dampaknya akan langsung menjalar ke biaya tanam petani.

Dalam jangka pendek, tekanan ini mungkin belum sepenuhnya terlihat. Namun jika konflik berkepanjangan, risiko penurunan produksi dan kenaikan harga pangan menjadi sulit dihindari. Dengan struktur impor yang masih besar, Indonesia saat ini memang belum berada dalam kondisi krisis pupuk. Namun, ketergantungan terhadap pasar global membuat sektor pertanian domestik sangat sensitif terhadap gejolak geopolitik yang terjadi jauh dari dalam negeri.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).