Logo
>

Perbankan Mulai Rem Penyaluran Kredit, Ada Apa?

LDR dijaga di bawah batas BI, bank pilih perkuat dana murah untuk tekan biaya dana dan menjaga margin di tengah permintaan kredit yang melemah.

Ditulis oleh Yunila Wati
Perbankan Mulai Rem Penyaluran Kredit, Ada Apa?
Bank Mega (MEGA) menjadi salah satu contoh perbankan yang menetapkan loan to deposit ratio (LDR) di kisaran 70 persen untuk menjaga CASA. (Foto: Wikimedia Commons)

KABARBURSA.COM – Lanskap industri perbankan nasional sepanjang awal 2026 mulai menunjukkan pergeseran arah yang cukup jelas. Di tengah ketidakpastian global yang belum mereda, bank-bank tidak lagi agresif mendorong penyaluran kredit. Mereka mulai menahan laju ekspansi dan mengalihkan fokus pada penguatan likuiditas.

Perubahan ini tercermin dari kebijakan rasio loan to deposit ratio (LDR) yang dijaga lebih konservatif. PT Bank Mega Tbk (MEGA), misalnya, secara terbuka menetapkan LDR di kisaran 70 persen. LDR ini berada di bawah rentang ketentuan Bank Indonesia yang berkisar 78 persen hingga 92 persen. 

Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan menjaga ketahanan likuiditas, bahkan dengan konsekuensi dikenakan tambahan giro wajib minimum (GWM).

Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib, menyatakan bahwa pengalaman krisis sebelumnya menjadi dasar pendekatan tersebut. Ia menyebut dalam kondisi tekanan, potensi penarikan dana nasabah dapat mencapai sekitar 30 persen dari total simpanan. Dengan begitu, cadangan likuiditas menjadi prioritas utama dalam pengelolaan bank.

Pendekatan serupa juga terlihat pada PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP). Sepanjang 2025, LDR bank ini berada di level 70,4 persen. Angka ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan dana pihak ketiga yang lebih tinggi dibandingkan penyaluran kredit. 

Memasuki 2026, manajemen memproyeksikan rasio tersebut akan tetap dijaga di sekitar 80 persen. Di sini, NISP mencoba untuk bersikap tetap berhati-hati dalam ekspansi.

Presiden Direktur OCBC Indonesia Parwati Surjaudaja, menyebut bahwa struktur pendanaan bank saat ini lebih banyak ditopang oleh pertumbuhan dana murah atau current account saving account (CASA). 

Komposisi ini dinilai menjaga profitabilitas tetap stabil, karena biaya dana yang rendah memberikan ruang bagi margin bunga untuk tetap terjaga.

Di sisi lain, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga melihat kondisi likuiditas masih berada dalam posisi yang longgar, seiring permintaan kredit yang belum menunjukkan penguatan signifikan. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan, menyebut lemahnya permintaan kredit menjadi salah satu faktor yang membuat likuiditas tetap terjaga, meskipun bank tetap menargetkan LDR di kisaran 85 persen hingga 90 persen.

Peran CASA pada Kredit Perbankan

Fokus pada CASA menjadi benang merah dari strategi yang dijalankan perbankan. Dana murah yang berasal dari giro dan tabungan menjadi komponen utama dalam menekan cost of fund, sekaligus menjaga net interest margin (NIM) tetap berada pada level yang kompetitif. 

Dalam struktur ini, bank tidak hanya mengejar pertumbuhan dana, tetapi juga kualitas pendanaan yang lebih efisien.

Peran CASA menjadi semakin penting karena secara langsung menentukan ruang gerak bank dalam menyalurkan kredit. Dengan biaya dana yang lebih rendah, bank memiliki fleksibilitas dalam menetapkan suku bunga kredit tanpa harus mengorbankan margin. 

Hal ini juga berdampak pada daya saing produk pembiayaan di tengah kondisi pasar yang lebih selektif.

Strategi penghimpunan dana murah pun semakin terintegrasi dengan penguatan layanan digital. Bank mendorong penggunaan aplikasi mobile banking dan ekosistem pembayaran untuk menjadikan rekening nasabah sebagai sumber utama transaksi harian. 

Selain itu, layanan cash management bagi korporasi dan program loyalitas menjadi bagian dari upaya mempertahankan saldo dana murah dalam jangka panjang.

Jika ditarik dalam satu rangkaian, data menunjukkan bahwa industri perbankan tidak hanya merespons perlambatan eksternal dengan menahan kredit, tetapi juga memperkuat fondasi internal melalui likuiditas. 

Dari penyesuaian LDR hingga percepatan akumulasi CASA, seluruh langkah tersebut membentuk pola yang mengarah pada stabilitas, di tengah dinamika global yang masih bergerak tidak pasti.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79