KABARBURSA.COM – PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) merekomendasikan sejumlah saham dan instrumen reksa dana pendapatan tetap di tengah tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih berada dalam fase downtrend.
Strategi ini dinilai relevan seiring outlook pasar sepekan 4–8 Mei 2026 yang diperkirakan bergerak dalam kondisi risk-off moderat.
Equity Analyst IPOT, David Kurniawan, mengatakan tekanan pasar masih didominasi faktor eksternal, khususnya eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada lonjakan harga energi global.
“Kondisi selat Hormuz secara fundamental memberikan tekanan besar berupa kenaikan biaya produksi bagi negara-negara net importir energi, yang pada gilirannya dapat memicu risiko inflasi serta menggerus daya beli masyarakat secara luas,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima KabarBursa.com Senin, 4 Mei 2026.
Dalam situasi tersebut, sektor konsumsi dan transportasi diperkirakan menghadapi tekanan yang lebih besar akibat kenaikan biaya operasional. Sebaliknya, sektor berbasis komoditas seperti nikel dan crude palm oil (CPO) dinilai lebih tahan terhadap gejolak karena didukung keterbatasan pasokan global serta kebijakan domestik yang menopang harga.
Secara teknikal, kondisi ini menempatkan IHSG dalam tren penurunan jangka menengah dengan potensi menguji area support di kisaran 6.918 hingga 6.696. Oleh karena itu, investor disarankan untuk lebih defensif dan selektif dalam memilih saham, dengan fokus pada emiten yang memiliki fundamental kuat dan momentum teknikal yang mendukung.
IPOT merekomendasikan beberapa saham unggulan yang dinilai memiliki peluang trading menarik dalam jangka pendek.
Salah satu rekomendasi utama adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dari sektor energi, dengan rekomendasi buy pada harga saat ini 11.600, target price 12.200 atau potensi kenaikan 5,17 persen, serta stop loss di 11.300 atau minus 2,59 persen, dengan risk to reward ratio 1:2,0. Saham ini dinilai berpotensi breakout all time high didukung lonjakan volume transaksi yang tinggi.
Selanjutnya, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dari sektor perkebunan direkomendasikan buy on pullback dengan entry di kisaran 1.680 hingga 1.700 dari harga saat ini 1.725. Target price ditetapkan di 1.800 atau potensi kenaikan 7,14 persen, dengan stop loss di 1.620 atau minus 3,57 persen dan risk to reward ratio 1:2,0. Penguatan harga CPO yang tengah berada dalam tren naik menjadi katalis utama bagi pergerakan saham ini, ditambah posisinya yang konsisten berada di atas MA5.
Rekomendasi berikutnya adalah PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dari sektor properti dan kawasan industri, dengan rekomendasi buy di harga 1.785, target price 1.960 atau potensi kenaikan 9,80 persen, serta stop loss di 1.700 atau minus 4,76 persen dan risk to reward ratio 1:2,1. Secara teknikal, saham ini telah kembali bergerak di atas rata-rata MA5 dan MA20, dengan indikator MACD yang menunjukkan tren penguatan lanjutan.
Selain saham, IPOT juga merekomendasikan instrumen pendapatan tetap berupa obligasi pemerintah seri FR106. Instrumen ini dinilai menarik di tengah volatilitas pasar karena menawarkan stabilitas dengan kupon tahunan sebesar 7,125 persen dan yield to maturity (YTM) di level 6,86 persen, lebih kompetitif dibandingkan rata-rata yield obligasi tenor 10 tahun Indonesia.(*)