Logo
>

Perputaran Ekonomi Kurban 2026 Diproyeksi Rp26,89 triliun, Jawa Mendominasi

INDEF dan IDEAS memproyeksikan ekonomi kurban 2026 mencapai Rp26,89 triliun. Namun distribusi hewan dan daging kurban dinilai masih timpang dan terkonsentrasi di Jawa.

Ditulis oleh Yunila Wati
Perputaran Ekonomi Kurban 2026 Diproyeksi Rp26,89 triliun, Jawa Mendominasi
Indef mencatat surplus ekonomi kurban di Jawa mencapai Rp21,42 triliun atau sekitar 79,67 persen dari total pangsa nasional. (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Perputaran ekonomi nasional dari momentum Idul Adha 1447 Hijriah atau 2026 diperkirakan tetap berada di level jumbo. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan nilai transaksi ekonomi kurban tahun ini mencapai Rp26,89 triliun.

Angka tersebut berasal dari simulasi mikro ekonomi kurban nasional yang dilakukan Center for Sharia Economic Development (CSED) Indef. Kepala CSED Indef Nur Hidayah, mengatakan proyeksi itu mencerminkan besarnya aktivitas ekonomi yang berputar selama musim kurban berlangsung.

Menurut Nur, jumlah hewan kurban tahun ini diperkirakan mencapai 1,59 juta ekor. Jumlah tersebut terdiri dari sekitar 493 ribu ekor sapi dan 1,09 juta kambing atau domba.

Dari total hewan tersebut, distribusi daging kurban diproyeksikan mencapai sekitar 99.290 ton. Volume itu disebut setara dengan pemenuhan kebutuhan protein hewani harian seluruh penduduk Indonesia selama kurang lebih 2,5 hari.

Jalur Distribusi Didominasi Pulau Jawa

Namun di balik besarnya perputaran ekonomi tersebut, Indef justru menyoroti ketimpangan distribusi kurban antarwilayah. Aktivitas ekonomi kurban masih sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Indef mencatat surplus ekonomi kurban di Jawa mencapai Rp21,42 triliun atau sekitar 79,67 persen dari total pangsa nasional. Sementara beberapa wilayah timur Indonesia justru mengalami kekurangan pasokan yang cukup tajam.

Papua misalnya hanya mencatat nilai distribusi sekitar Rp0,11 triliun atau setara 0,41 persen dari total nasional. Sedangkan Maluku tercatat hanya sekitar Rp0,03 triliun atau 0,10 persen.

Nur menilai kondisi tersebut menunjukkan distribusi ekonomi kurban memiliki tingkat ketimpangan yang bahkan lebih tinggi dibanding struktur ekonomi nasional secara umum. Karena itu, Indef mulai mendorong perlunya formulasi distribusi lintas wilayah agar pasokan daging kurban lebih merata.

Meski demikian, Indef mengingatkan distribusi lintas daerah tetap harus mempertimbangkan prinsip aulawiyat atau prioritas lingkungan terdekat. Sebab dimensi sosial dan kedekatan komunal dinilai tetap menjadi esensi utama dalam ibadah kurban.

Selain distribusi, Indef juga menyoroti pentingnya inovasi pengolahan daging kurban. Menurut Nur, pola distribusi daging segar memiliki keterbatasan waktu sehingga sulit menjangkau wilayah dengan kebutuhan tinggi namun akses logistik terbatas.

Karena itu, daging kurban mulai didorong untuk diolah menjadi produk tahan lama seperti kornet, rendang kaleng, maupun produk beku (frozen food). Model tersebut dinilai mampu memperpanjang umur distribusi sekaligus memperluas jangkauan penerima manfaat.

IDEAS: Jumlah Sapi Kurban Turun

Sementara itu, lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) juga memproyeksikan nilai ekonomi kurban nasional tahun ini berada di level yang sama, yakni Rp26,89 triliun. Simulasi IDEAS memperkirakan sekitar 1,90 juta rumah tangga akan menjadi pekurban pada Idul Adha tahun ini.

Peneliti IDEAS Tira Mutiara, mengatakan simulasi dilakukan dengan menghitung populasi Muslim yang memiliki pengeluaran di atas lima kali garis kemiskinan di tingkat kabupaten dan kota. Kelompok tersebut dinilai memiliki kemampuan ekonomi untuk menjalankan ibadah kurban.

IDEAS juga mencatat adanya perubahan pola konsumsi masyarakat dalam memilih hewan kurban. Tekanan ekonomi membuat masyarakat mulai beralih ke hewan dengan harga yang lebih terjangkau.

Jumlah sapi kurban diproyeksikan turun sekitar 10,17 ribu ekor dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan kambing dan domba diperkirakan berkurang sekitar 3,43 ribu ekor.

Dampaknya, total distribusi daging nasional juga ikut turun sekitar 1,85 ribu ton dibanding 2025. Nilai ekonomi kurban tahun ini bahkan sedikit lebih rendah dibanding tahun lalu yang mencapai Rp27,10 triliun.

Menurut IDEAS, kecenderungan masyarakat memilih hewan berbobot lebih kecil menjadi indikator awal adanya penyesuaian daya beli. Permintaan terhadap kambing dan domba berbobot 20 kilogram hingga 40 kilogram disebut mulai meningkat.

Tekanan biaya hidup, kenaikan harga pangan, dan naiknya harga ternak dinilai menjadi faktor utama yang mengubah pola belanja ibadah masyarakat. Meski begitu, aktivitas ekonomi kurban tetap menjadi salah satu perputaran uang terbesar di luar momentum Ramadan dan Lebaran.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79