KABARBURSA.COM — Perang di Iran mulai memukul sektor pertanian Amerika Utara. Petani di Amerika Serikat (AS) dan Kanada yang sejak awal sudah khawatir menghadapi musim dengan keuntungan tipis bahkan kerugian kini harus menghadapi ancaman baru, yakni kesulitan mendapatkan pupuk untuk musim tanam musim semi.
Harga pupuk yang masih tersedia di pasar melonjak tajam. Dalam beberapa pekan terakhir, harga naik lebih dari sepertiga setelah konflik Iran mengganggu perdagangan global.
Amerika Serikat sendiri sangat bergantung pada impor pupuk. Dalam beberapa tahun, hampir setengah kebutuhan pupuk urea negara itu dipasok dari luar negeri. Namun saat ini pasokan pupuk urea di pasar Amerika diperkirakan berkurang sekitar 25 persen dari kebutuhan normal petani untuk musim tanam musim semi.
Seorang analis pasar pupuk mengatakan pasokan bisa semakin langka jika pupuk yang seharusnya dikirim ke Amerika dialihkan ke negara lain yang berani membayar lebih mahal.
Analis pasar pupuk StoneX, Josh Linville, mengatakan harga pupuk di New Orleans, yang menjadi pelabuhan utama masuknya impor pupuk ke Amerika Serikat, saat ini jauh lebih rendah dibandingkan harga global.
Menurutnya harga yang ditawarkan di pelabuhan tersebut bisa mencapai sekitar USD119 per ton metrik lebih murah dari harga internasional atau setara sekitar Rp2 juta per ton.
“Saya tidak hanya khawatir kapal yang membawa pupuk akan berbalik arah ke tujuan lain yang menawarkan harga lebih tinggi. Bahkan ada kemungkinan orang membeli pasokan pupuk di tongkang lalu memindahkannya ke kapal untuk diekspor kembali,” kata Linville, dikutip dari Reuters, Sabtu 14 Maret 2026.
Di tingkat petani, dampak kekurangan pupuk mulai terasa. Banyak petani yang belum membeli pupuk untuk musim tanam musim semi kini menemukan pusat distribusi pupuk kosong atau hanya menjual pupuk dengan harga sangat tinggi. Seorang petani di Saskatchewan, Kanada, David Altrogge, mengatakan kondisi ini membuat para petani sangat khawatir.
“Situasi ini benar-benar membuat bulu kuduk merinding,” ujarnya.
Ia menjelaskan seorang broker sempat memberi tahu bahwa salah satu distributor pupuk di daerahnya bahkan berhenti memberikan penawaran harga karena stok yang semakin menipis. Altrogge sendiri membeli pupuk urea pada Desember lalu. Namun jika ia membeli pupuk sekarang, harganya akan jauh lebih mahal.
Ia memperkirakan biaya pembelian pupuk bisa naik sekitar CAD44.000 atau sekitar USD32.070 setara sekitar Rp542 juta dibandingkan harga sebelumnya.
Beberapa petani di wilayahnya kini menghadapi kenaikan harga tersebut atau bahkan tidak bisa membeli pupuk sama sekali. Gangguan pasokan ini berkaitan langsung dengan konflik Iran yang memutus salah satu jalur utama perdagangan pupuk dunia.
Lebih dari 30 persen ekspor pupuk nitrogen global serta bahan baku pupuk seperti sulfur biasanya dikirim melalui Selat Hormuz yang kini praktis tertutup akibat konflik.
Berbeda dengan China, banyak negara tidak memiliki cadangan strategis pupuk. Bahkan sebagian besar distributor pupuk di Amerika tidak menyimpan stok besar karena sistem distribusi pupuk berjalan dengan pola pengiriman cepat sesuai kebutuhan.
Ekonom The Fertilizer Institute, Veronica Nigh, mengatakan sistem distribusi pupuk memang tidak dirancang untuk menyimpan cadangan besar. “Tidak banyak pupuk yang tersedia di gudang. Industri ini sangat bergantung pada sistem pasokan tepat waktu,” ujarnya.
Lamanya penutupan Selat Hormuz menjadi faktor penting bagi ketersediaan pupuk global. Pupuk yang dikirim dari kawasan Teluk bisa memerlukan waktu berminggu-minggu untuk sampai ke pasar seperti Amerika Serikat.
Setelah tiba di pelabuhan, pupuk tersebut masih harus dipindahkan ke tongkang sungai, truk atau kereta untuk dikirim ke lahan pertanian.
Masalahnya sebagian besar pupuk harus digunakan sebelum tanaman mulai tumbuh. Jika pupuk tiba terlambat maka pasokan tersebut tidak bisa lagi digunakan untuk musim tanam 2026.
Pemerintah Amerika Serikat mulai merespons situasi ini. Menteri Pertanian AS Brooke Rollins mengatakan pemerintah sedang menyiapkan langkah untuk mengatasi krisis pupuk tersebut. “Presiden sangat menyadari tantangan ini dan berbagai masalah yang muncul. Kami sangat dekat untuk mengumumkan beberapa solusi,” kata Rollins.
Pemerintah juga sedang mencari berbagai cara untuk menekan biaya pupuk sekaligus berdiskusi dengan anggota parlemen mengenai kemungkinan tambahan bantuan bagi petani. Saat ini pemerintahan Presiden Donald Trump sedang menyalurkan bantuan sebesar USD12 miliar atau sekitar Rp202,8 triliun kepada petani Amerika.
Kelompok petani bahkan mendesak Kongres untuk menyetujui bantuan tambahan guna menghadapi krisis ini. Federasi Biro Pertanian Amerika sebelumnya memperingatkan bahwa kekurangan pupuk berpotensi memengaruhi pasokan pangan Amerika Serikat.
Di sisi lain, isu kenaikan harga pupuk juga memicu perhatian politik. Senator Josh Hawley meminta Jaksa Agung Pam Bondi menyelidiki kemungkinan praktik penggelembungan harga oleh perusahaan pupuk.
Menurut Hawley, harga pupuk telah melonjak hingga sekitar 32 persen sejak perang dimulai dan ia menilai kenaikan tersebut tidak wajar. Ia juga telah mengirim surat kepada perusahaan pupuk terbesar di Amerika untuk meminta penjelasan mengenai lonjakan harga tersebut.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.