Logo
>

Prabowo Bicara Dolar, Ekonom: Pelemahan Rupiah Tetap Terasa hingga ke Desa

Ekonom menilai pernyataan soal masyarakat desa tidak memakai dolar berpotensi memunculkan persepsi negatif di tengah tekanan rupiah.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
Prabowo Bicara Dolar, Ekonom: Pelemahan Rupiah Tetap Terasa hingga ke Desa
Presiden Prabowo Subianto saat menyinggung pejabat dan pengusaha ketika membahas dolar AS dalam acara koperasi desa di Nganjuk. (Foto: Dok. BPMI Setpres/Cahyo)

KABARBURSA.COM – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak menggunakan dolar Amerika Serikat (AS) menuai kritik dari kalangan ekonom. 

Di tengah nilai tukar rupiah yang masih tertekan di kisaran Rp17.600 per dolar AS dan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), pernyataan tersebut dinilai berpotensi menimbulkan persepsi negatif di pasar keuangan.

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai anggapan bahwa masyarakat desa tidak terdampak gejolak dolar merupakan kekeliruan mendasar dalam memahami hubungan ekonomi global dan domestik.

“Bukan soal orang desa pegang dolar atau tidak, namun soal seberapa dalam urat nadi perekonomian desa telah terikat pada rantai pasok global yang digerakkan oleh dolar Amerika Serikat,” ujar Achmad, Senin, 18 Mei 2026.

Menurut dia, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di layar perdagangan, tetapi berdampak langsung terhadap harga kebutuhan pokok masyarakat perdesaan, mulai dari pupuk, pakan ternak, bahan bakar minyak (BBM), hingga ongkos distribusi sembako.

Data pertengahan Mei 2026 menunjukkan rupiah sempat menyentuh Rp17.614 per dolar AS, menjadi level terlemah sepanjang sejarah. Dalam periode yang sama, IHSG juga terkoreksi sekitar 19,55 persen secara year-to-date.

“Ada anomali yang mengkhawatirkan ketika Badan Pusat Statistik merilis pertumbuhan ekonomi triwulan pertama tahun 2026 yang cukup impresif sebesar 5,61 persen, namun pasar keuangan justru berdarah-darah akibat arus modal keluar yang masif,” kata dia.

Achmad menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat desa tidak dapat dipisahkan dari dinamika ekonomi global. “Tidak ada satu jengkal pun tanah perdesaan yang benar-benar terisolasi dari dampak makroekonomi global,” katanya.

Menurut Achmad, angka-angka tersebut bukan sekadar abstraksi di atas kertas atau konsumsi para pialang modal modal semata, melainkan realitas keras yang menjadi penentu harga pupuk, pakan ayam, hingga bensin di kios-kios kecil seluruh perdesaan Indonesia. 

“Untuk memahami bagaimana fenomena makro yang kompleks ini bekerja, kita dapat menggunakan analogi sebuah hulu sungai,” tambahnya.

Achmad menganalogikan ekonomi global bak sebuah hulu sungai besar, di mana dolar Amerika Serikat saat ini bertindak sebagai arus utama yang mengalirkan air ke seluruh wilayah hilirnya. 

“Perekonomian desa adalah petak-petak sawah yang berada jauh di ujung hilir sungai tersebut,” sambung dia.

Petani di desa, kata Achmad, mungkin tidak pernah menginjakkan kaki ke hulu sungai, tidak pernah melihat pabrik-pabrik yang berdiri di sana, dan tidak pernah membeli air langsung dari sumbernya. 

Namun, ketika air di hulu sungai tersebut tercemar atau menyusut drastis, petak sawah di hilir akan langsung merasakan dampaknya, mulai dari tanaman yang mengering hingga gagal panen.

“Dalam konteks ini, depresiasi rupiah adalah proses menyusutnya kualitas air yang sampai ke hilir, yang memaksa para petani membayar lebih mahal untuk mendapatkan volume air yang sama guna mempertahankan kelangsungan hidup mereka,” jelasnya.

Ia menjelaskan, transmisi pelemahan rupiah paling terasa di sektor pertanian dan peternakan. Sekitar 70 persen bahan baku pakan ternak nasional, seperti soybean meal dan jagung, masih bergantung pada impor. Kenaikan kurs otomatis mendorong biaya produksi peternak rakyat.

Pada pertengahan Mei 2026, harga jagung mencapai Rp7.000 per kilogram dan soybean meal berada di level Rp8.700 per kilogram. Dalam dua bulan terakhir, harga pakan ayam naik sekitar Rp400 hingga Rp650 per kilogram.

Di sektor pupuk, situasi global juga memperburuk tekanan biaya. Penutupan Selat Hormuz dan pembatasan ekspor pupuk dari China menyebabkan harga urea dunia melonjak lebih dari 40 persen. 

Meski pemerintah telah menurunkan harga eceran tertinggi pupuk subsidi menjadi Rp1.800 per kilogram untuk urea dan Rp1.840 per kilogram untuk NPK, petani yang bergantung pada pupuk nonsubsidi tetap menghadapi lonjakan harga.

Tekanan tersebut tercermin dalam Nilai Tukar Petani (NTP) April 2026 yang tercatat 125,24, turun 0,09 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan ini menunjukkan kenaikan biaya produksi lebih tinggi dibanding peningkatan harga jual hasil pertanian.

“Pelemahan rupiah bukan sekadar angka di layar gawai para pialang saham di Jakarta, melainkan sebuah hantaman senyap yang merayap masuk ke dapur-dapur keluarga di pelosok negeri,” ujar Achmad.

Selain pertanian, dampak pelemahan rupiah juga terasa di sektor energi. Indonesia masih mengimpor lebih dari separuh kebutuhan minyak nasional, dengan konsumsi sekitar 1,6 juta barel per hari dan produksi domestik sekitar 650 ribu barel per hari.

Dengan asumsi kurs APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS dan harga minyak 70 dolar AS per barel, tekanan saat ini dinilai cukup berat karena harga minyak dunia telah menembus 105 dolar AS per barel. Kondisi ini mendorong subsidi energi membengkak menjadi Rp210 triliun.

Menurut Achmad, jika beban fiskal semakin besar dan pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM, dampaknya akan langsung terasa hingga ke desa melalui kenaikan ongkos transportasi dan harga barang kebutuhan pokok.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan April 2026 mencapai 2,42 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 3,06 persen dan andil 0,90 persen.

Achmad menekankan bahwa masyarakat desa justru lebih rentan terhadap gejolak harga karena sebagian besar pengeluaran mereka terserap untuk kebutuhan pangan. Tingkat kemiskinan di perdesaan tercatat 12,29 persen, lebih tinggi dibanding perkotaan sebesar 7,5 persen.

“Menganggap perdesaan terisolasi dari dinamika dolar adalah ilusi ekonomi yang berbahaya,” tegasnya.

Sementara itu, sebelumnya analis pasar modal dari Traderindo, Wahyu Tri Laksono, buka suara soal pernyataan Presiden lebih merupakan upaya komunikasi publik untuk menenangkan masyarakat.

“Pernyataan tersebut lebih kepentingan public relations soal pelemahan rupiah yang mengasumsikan lemahnya pemahaman masyarakat umum demi kepentingan status quo atau menenangkan masyarakat. Kurang berdasarkan kepentingan ekonomi investor,” ujar Wahyu kepada Kabarbursa.com.

Menurut dia, komentar Presiden bukan faktor utama pelemahan IHSG, tetapi berpotensi menjadi sentimen tambahan di tengah tekanan yang sudah besar akibat perubahan komposisi indeks MSCI.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 15 Mei 2026, IHSG melemah 135,58 poin atau 1,98 persen ke level 6.723,32. Secara mingguan, indeks turun 3,53 persen.

Wahyu mengatakan level 6.745 menjadi support penting. Jika level tersebut ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan penurunan menuju area 5.882.

“Jelas pelemahan mata uang rupiah berdampak luas terhadap masyarakat desa, terkait impor BBM, kedelai misalnya,” kata Wahyu.

Pernyataan Presiden Prabowo disampaikan saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan peluncuran operasional 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, 16 Mei 2026.

Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan, “Rupiah begini, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok. Pangan aman, energi aman.”

Bagi sebagian pelaku pasar, pernyataan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa stabilitas pasar keuangan belum menjadi prioritas utama pemerintah. Meski demikian, tekanan utama terhadap rupiah dan IHSG tetap berasal dari faktor global, seperti penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik, dan arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".