Logo
>

Putra Khamenei, Mojtaba, Jadi Pemimpin Tertinggi Iran: Prospek Reformasi Ekonomi?

Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran memunculkan pertanyaan baru tentang arah reformasi ekonomi di tengah sanksi, inflasi tinggi, dan konflik dengan AS serta Israel.

Ditulis oleh Syahrianto
Putra Khamenei, Mojtaba, Jadi Pemimpin Tertinggi Iran: Prospek Reformasi Ekonomi?
Ayatollah Ali Khamenei pada 6 September 2016 menyampaikan pidato di Hosseinieh Imam Khomeini pada peringatan tragedi Mina. (Foto: khamenei.ir)

KABARBURSA.COM – Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru, menggantikan ayahnya Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan awal perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. 

Penunjukan tersebut memunculkan pertanyaan baru mengenai arah kebijakan politik dan ekonomi negara itu, termasuk peluang reformasi di tengah tekanan sanksi dan konflik yang terus meningkat.

Associated Press dan Reuters melaporkan bahwa Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin sebelumnya, ditetapkan sebagai penerus oleh lembaga ulama Iran yang dikenal sebagai Majelis Ahli. Ayatollah Ali Khamenei memimpin Iran sejak 1989 hingga kematiannya.

Sebagai pemimpin tertinggi, Mojtaba Khamenei akan memegang otoritas tertinggi dalam sistem politik Iran, termasuk kendali atas kebijakan luar negeri, program nuklir, serta pengawasan terhadap presiden dan parlemen yang dipilih melalui pemilu.

Penunjukan tersebut juga memberi kendali langsung atas Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan kelompok garis keras lain yang memainkan peran besar dalam keamanan serta ekonomi Iran.

Reuters dalam analisis berjudul “Iran defies Trump, elevates Khamenei’s son Mojtaba as successor” oleh Samia Nakhoul dan Parisa Hafezi menilai keputusan tersebut merupakan sinyal bahwa kepemimpinan Iran memilih jalur konfrontasi dibandingkan kompromi.

Langkah tersebut dipandang sebagai penolakan langsung terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menyebut Mojtaba Khamenei sebagai sosok yang “tidak dapat diterima”.

“Menjadikan Mojtaba sebagai penerus berarti menggunakan skenario yang sama,” kata Alex Vatanka, peneliti senior di Middle East Institute.

“Ini merupakan penghinaan besar bagi Amerika Serikat untuk melakukan operasi sebesar ini, mengambil risiko besar, dan akhirnya membunuh seorang pria berusia 86 tahun, hanya untuk kemudian digantikan oleh putranya yang juga garis keras.”

Reformasi Ekonomi Dipertanyakan

Para analis menilai bahwa kepemimpinan Mojtaba kemungkinan kecil akan membuka jalan bagi reformasi ekonomi atau pendekatan baru terhadap Barat.

Mojtaba dikenal sebagai ulama garis keras yang selama bertahun-tahun menentang kelompok reformis yang mendorong keterlibatan diplomatik dengan negara Barat.

Hubungannya yang erat dengan IRGC, yang menguasai sebagian besar sektor keamanan dan ekonomi Iran, memberi pengaruh besar dalam struktur kekuasaan negara.

Reuters mencatat bahwa keputusan menunjuk Mojtaba mengirim pesan tegas bahwa kepemimpinan Iran tidak melihat jalan lain selain konfrontasi dan ketahanan untuk mempertahankan sistem politik yang ada.

“Tidak ada sosok yang muncul sekarang yang akan mampu berkompromi,” kata Paul Salem, peneliti senior di Middle East Institute. “Ini adalah pilihan garis keras yang diambil pada momen garis keras.”

Tekanan Ekonomi Menguat

Penunjukan Mojtaba juga terjadi ketika Iran menghadapi tekanan ekonomi yang berat.

Reuters melaporkan bahwa negara tersebut sedang berjuang dengan ekonomi yang terpukul, inflasi yang melonjak, runtuhnya nilai mata uang, serta meningkatnya kemiskinan.

Situasi tersebut diperburuk oleh protes domestik yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir, yang sebagian dipicu oleh kondisi ekonomi.

Seorang pejabat regional yang dekat dengan Teheran mengatakan kepada Reuters bahwa kepemimpinan baru kemungkinan akan memperketat kontrol domestik untuk menjaga stabilitas.

“Mojtaba tidak punya pilihan selain menunjukkan tangan besi,” kata pejabat tersebut. “Bahkan jika perang berakhir, akan ada represi internal yang sangat keras.”

Risiko Isolasi dan Sanksi

Prospek ekonomi Iran juga akan sangat dipengaruhi oleh hubungan negara tersebut dengan Amerika Serikat.

Departemen Keuangan AS telah menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba Khamenei sejak 2019 karena dianggap mewakili pemimpin tertinggi dalam kapasitas resmi meskipun tidak memegang jabatan pemerintahan formal.

Sejumlah analis menilai kepemimpinan baru dapat memperpanjang isolasi ekonomi Iran jika hubungan dengan Barat tetap memburuk.

Alan Eyre, mantan diplomat Amerika Serikat dan pakar Iran, menyebut Mojtaba sebagai figur yang bahkan lebih keras dibandingkan ayahnya.

“Mojtaba bahkan lebih garis keras daripada ayahnya,” kata Eyre, seraya menambahkan bahwa ia merupakan kandidat yang didukung oleh Garda Revolusi.

Dengan konflik yang masih berlangsung dan tekanan ekonomi domestik yang meningkat, kepemimpinan baru Iran menghadapi tantangan besar dalam menstabilkan perekonomian negara yang telah lama berada di bawah bayang-bayang sanksi internasional dan ketegangan geopolitik.

Para analis memperkirakan arah kebijakan Mojtaba dalam menghadapi Barat dan mengelola konflik regional akan menjadi faktor penentu apakah Iran dapat keluar dari tekanan ekonomi atau justru memasuki fase isolasi yang lebih dalam. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.