Logo
>

Rupiah Dijaga Stabil, BI Antisipasi Dampak Konflik Global

Langkah ini ditempuh melalui optimalisasi berbagai instrumen kebijakan moneter yang dinilai krusial

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Rupiah Dijaga Stabil, BI Antisipasi Dampak Konflik Global
Ilustrasi Kantor Bank Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan eksternal nasional di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Langkah ini ditempuh melalui optimalisasi berbagai instrumen kebijakan moneter yang dinilai krusial untuk meredam tekanan dari gejolak global.

Otoritas moneter tersebut juga membuka ruang penyesuaian kebijakan secara adaptif. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas makroekonomi agar tetap terjaga di tengah lanskap global yang kian tidak menentu.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah akan terus dijaga, termasuk selama periode libur Lebaran 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi mitigasi terhadap potensi volatilitas pasar yang dipicu konflik kawasan Timur Tengah.

Destry menjelaskan, meskipun pasar domestik berhenti beroperasi selama libur, perdagangan rupiah di pasar offshore tetap berlangsung. Dinamika tersebut, kata dia, berpotensi menimbulkan implikasi terhadap stabilitas ekonomi nasional jika tidak diantisipasi dengan cermat.

Pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa (17/3), nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp16.997 per dolar Amerika Serikat. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada hari yang sama berada di posisi Rp16.982 per dolar AS.

Bank Indonesia mencatat, hingga 16 Maret 2026, rupiah mengalami depresiasi sebesar 1,29 persen secara point to point dibandingkan posisi akhir Februari 2026. Pelemahan ini sejalan dengan tren yang juga dialami oleh sejumlah mata uang negara berkembang lainnya terhadap dolar AS.

Dari sisi arus modal, tekanan juga mulai terasa. Sepanjang Maret 2026, investasi portofolio mencatat arus keluar bersih (net outflows) sebesar 1,1 miliar dolar AS, dipicu meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Kendati demikian, secara kumulatif pada Januari hingga Februari 2026, aliran modal dan finansial masih mencatat arus masuk bersih (net inflows) sebesar 1,6 miliar dolar AS. Di sisi lain, neraca perdagangan Januari 2026 hanya mencatat surplus sebesar 1,0 miliar dolar AS—menurun dibandingkan surplus 2,5 miliar dolar AS pada Desember 2025. Penurunan ini dipengaruhi oleh melemahnya permintaan ekspor nonmigas.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, fundamental eksternal Indonesia masih menunjukkan daya tahan. Posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2026 tercatat sebesar 151,9 miliar dolar AS. Angka ini setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor, atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah—jauh di atas ambang batas kecukupan internasional.

Dengan bantalan devisa yang solid, ruang stabilisasi tetap terbuka. BI pun bersiap menjaga keseimbangan, di tengah pusaran ketidakpastian global yang terus bereskalasi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.