KABARBURSA.COM - Mata uang rupiah ditutup melemah sebesar 67 poin di level Rp16.960 pada perdagangan Jumat, 13 Maret 2026. Pelemahan rupiah ini tidak lepas imbas dari konflik di Timur Tengah.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan harga minyak kembali melonkal setelah pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup.
"Jalur air sempit ini merupakan titik kritis yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan selat tersebut telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global," ujar dia dalam keterangannya, Jumat, 13 Maret 2026.
Menurut Ibrahim, para pelaku pasar dan analis khawatir bahwa lonjakan harga minyak yang besar akan berdampak ke seluruh dunia dalam bentuk guncangan inflasi.
"Harga minyak mentah Brent berjangka, patokan global, terakhir kali berada di sekitar USD100 per barel," ungkapnya.
Bank sentral seperti Federal Reserve, kata Ibrahim, mungkin terpaksa mempertimbangkan kembali pemotongan suku bunga jangka pendek jika inflasi meningkat.
Ia menambahkan biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat menarik lebih banyak investasi asing, sehingga meningkatkan daya tarik dolar.
Selain konflik Iran, Ibrahim melihat jika investor juga memantau data inflasi AS minggu ini. Angka indeks harga konsumen pada hari Rabu menunjukkan inflasi sebagian besar tetap stabil pada bulan Februari dibandingkan bulan sebelumnya.
"Namun, angka tersebut tidak mencerminkan lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak karena kampanye Amerika Serikat (AS)-Israel di Iran," katanya.
Adapun untuk perdagangan Senin pekan depan, 16 Maret 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.960- Rp17.020.
"Untuk range satu minggu Rp16.850-Rp17.150," pungkasnya. (*)