KABARBURSA.COM - Mata uang rupiah ditutup melemah sebesar 75 poin di level Rp16.979 pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026. Pelemahan ini tidak lepas dari perilaku pasar yang memperkirakan tingginya inflasi.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan saat ini pasar memperkirakan skenario inflasi tinggi. Pada awal tahun, para pedagang memperkirakan setidaknya dua kali pemotongan suku bunga dari Federal Reserve (Fed).
"Namun, sejak konflik (di Timur Tengah) dimulai dan setelah keputusan kebijakan Fed pada 18 Maret, mereka mengurangi taruhan dovish,' ujar dia dalam keterangannya, Jumat, 27 Maret 2026.
Sebaliknya, kata Ibrahim, pasar memperkirakan pengetatan sebesar 12 basis poin oleh bank sentral AS. Ia menambahkan suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani Emas dengan mengurangi daya tariknya sebagai aset yang tidak menghasilkan.
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah datang dari dampak bencana Sumatera pada akhir 2025 lalu yang masih terasa pada kuartal II 2026 ini.
"Sebab awal tahun ini gerak ekonomi di wilayah terdampak masih dalam tahap revitalisasi alias perbaikan, sehingga geliat ekonomi di wilayah itu belum berjalan dengan normal dan sedikit banyak mempengaruhi rata-rata nasional," kata Ibrahim.
Kemudian, lanjut Ibrahim, inflasi yang cukup tinggi ikut membuat konsumsi masyarakat sedikit tertahan selama puasa dan hari raya Lebaran berlangsung.
"Membuat dorongan ekonomi dari peristiwa ini tak maksimal seperti tahun-tahun sebelumnya," jelasnya.
Sedangkan untuk perdagangan Senin, 30 Maret 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.980- Rp16.17.030.
"Range rupiah dalam satu minggu Rp16.880-Rp17.100," pungkasnya. (*)