KABARBURSA.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah sebesar 60 poin ke level Rp17.988 pada perdagangan Kamis, 11 Juni 2026.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan tersebut didasari oleh sentimen geopolitik di Timur Tengah, yakni Selat Hormuz. Menurutnya, kondisi yang masih berkecamuk itu membuat harga minyak mentah dunia melonjak.
"Blokade Iran selama berbulan-bulan terhadap selat tersebut, yang biasanya dilalui seperlima dari pengiriman minyak dan gas global, telah membuat harga minyak tetap tinggi," ujar dia dalam keterangannya.
Ibrahim mengatakan, pasukan Amerika Serikat (AS) mulai melancarkan serangan tambahan terhadap beberapa target di Iran. Menurutnya, serangkaian serangan yang semakin meningkat dan mengancam ini akan menyulut kembali perang skala penuh.
Selain itu, sentimen juga datang dari harga konsumen AS yang naik 4,2 persen pada bulan Mei 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, laju tercepat dalam tiga tahun. Sebagian besar didorong oleh biaya energi yang lebih tinggi.
"Laporan inflasi memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama dan bahkan dapat melanjutkan pengetatan kebijakan moneter akhir tahun ini jika tekanan harga terus berlanjut," ungkapnya.
Menurut Ibrahim, kontrak berjangka suku bunga sekarang menunjukkan peningkatan kemungkinan setidaknya satu kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun, sebuah perubahan tajam dari ekspektasi awal tahun ini.
"Investor sekarang menunggu data harga produsen AS yang akan dirilis Kamis nanti untuk petunjuk lebih lanjut tentang prospek inflasi dan jalur kebijakan Fed," pungkasnya.
Sementara itu untuk perdagangan besok, Jumat, 12 Juni 2026, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.980- Rp18.030. (*)