KABARBURSA.COM - Mata uang rupiah ditutup menguat sebanyak 86 poin ke level Rp16.802 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 23 Februari 2026. Penguatan ini tidak lepas dari perseteruan antara AS dan Iran.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar terus mengamati putaran ketiga pembicaraan nuklir antara AS dan Iran pada hari Kamis di Jenewa. Menurutnya, hal ini meningkatkan harapan bahwa ketegangan dapat mereda.
Hal tersebut disampaikan Ibrahim berkaca dari komentar Menteri Luar Negeri Iran Abbas, Araghchi yang mengatakan bahwa ada peluang bagus untuk mencapai solusi diplomatik kedua negara.
"Komentar yang ditafsirkan pasar sebagai sinyal kesediaan untuk berkompromi," ujar dia dalam keterangannya.
Ibrahim menambahkan sentimen juga datang dari Presiden AS, Donald Trump yang akan mengenakan tarif 10 persen pada impor global selama 150 hari berdasarkan Pasal 122 undang-undang perdagangan AS, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan rezim tarif sebelumnya yang lebih luas.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyebut laporan APBN Januari 2026 menjadi katalis selanjutnya. Diketahui, Kementerian Keuangan menyampaikan APBN membukukan defisit sebesar Rp54,6 triliun atau setara dengan 0,21 persen produk domestik bruto (PDB).
Sementara itu, belanja negara sudah mencapai Rp227,3 triliun per Januari 2026. Realisasi itu setara 5,9 persen dari target belanja negara sepanjang tahun ini sebesar Rp3.842,7 triliun.
"Artinya, belanja negara masih lebih banyak dari pendapatan negara. Oleh sebab itu, defisit APBN mencapai Rp54,6 triliun atau setara 0,21% dari PDB. Aangka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026," terang Ibrahim.
Adapun untuik perdagangan besok, Selasa, 24 Februari 2026, Ibrahim memprediksikan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif.
"Namun ditutup menguat direntang Rp16.770- Rp16.800," pungkasnya. (*)