KABARBURSA.COM - Mata uang rupiah ditutup melemah ke level Rp16.997 pada perdagangan Senin, 16 Maret 2026. Pelemahan ini terjadi karena tensi geopolitik di Timur Tengah yang masih berlangsung.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan poin yang perlu diperhatikan dalam konflik di Timur Tengah ialah Selat Hormuz. Ia mengatakan marinir Amerika Serikat (AS) kini sudah mulai mendekat ke selat tersebut.
"Di sisi lain juga, antara Iran serta AS-Israel terus melakukan serangan timbal balik dalam pertempuran tersebut. (1:05) Ini mengindikasikan bahwa Iran masih sanggup untuk melakukan perlawanan," ujar dia dalam keterangannya, Senin, 16 Maret 2026.
Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump juga memberikan ultimatum kepada siapapun yang bisa menangkap pemimpin baru Iran. Menurut Ibrahim, hal ini yang membuat kegaduhan di Timur Tengah kembali memanas.
Sementara itu, lanjut dia, wilayah-wilayah AS yang berada di Timur Tengah seperti Irak, Uni Emirat Arab, dan Dubai juga tak luput dari serangan.
Ibrahim juga menyoroti mengenai pertemuan Bank Central Amerika yakni The Fed yang akan menggelar pertemuan pada pekan depan untuk membahas suku bunga. Ia memperkirakan The Fed bisa saja menahan bahkan menaikkan suku bunga di tengah kenaikan harga minyak.
Kita melihat bahwa dengan kenaikan harga minyak mentah, ada kemungkinan besar ini akan berdampak terhadap inflasi. Dengan begitu, kemungkinan besar Bank Central Amerika masih akan pertahankan suku bunga dan juga bisa menaikkan melihat kondisi yang ada," jelasnya.
Adapun pada pada perdagangan besok, Selasa, 17 Maret 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan kembali melemah di level Rp16.990 hingga di Rp17.050. (*)