Logo
>

Saat Harga Naik, China Menarik Rem Impor Minyak Dunia

Strategi beli saat murah dan menahan impor ketika harga tinggi membuat China menjadi penentu batas bawah dan atas harga minyak global.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Saat Harga Naik, China Menarik Rem Impor Minyak Dunia
Para karyawan memeriksa peralatan yang digunakan di kilang minyak mentah di provinsi Heilongjiang, Tiongkok, yang berbatasan dengan Rusia. Foto: Getty Images via SCMP

KABARBURSA.COM — Pergerakan harga minyak mentah global selama beberapa bulan terakhir tak bisa dilepaskan dari satu pemain yang kerap bekerja di balik layar. China, importir minyak terbesar di dunia, secara perlahan membentuk batas bawah dan batas atas harga melalui pola belanja yang jarang disorot.

Analis komoditas dan energi dari Reuters, Clyde Russell, mengatakan Beijing memiliki kebiasaan membeli minyak dalam jumlah besar ketika harga dinilai murah, lalu menahan impor saat harga melonjak. Pola itu tidak langsung terlihat karena ada jeda waktu berbulan-bulan sejak kontrak kargo disepakati hingga pengiriman tiba.

“Salah satu dinamika yang paling jarang dibicarakan dari pasar minyak mentah global adalah peran China dalam menetapkan batas bawah dan batas atas harga,” tulis Russell di Reuters yang dikutip Jumat, 27 Februari 2026.

Harga minyak dunia sendiri sedang menanjak. Kontrak Brent sempat menyentuh USD72,50 per barel atau sekitar Rp1,22 juta per barel, level tertinggi dalam hampir tujuh bulan. Angka tersebut melonjak sekitar 23 persen dibanding posisi terendah pada 16 Desember di USD58,72 per barel atau setara Rp989 ribu per barel.

Kenaikan ini terjadi di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan di kawasan Teluk Persia. Namun di sisi lain, lonjakan harga justru membuat China mulai mengatur ulang strategi impornya.

Beralih ke Minyak Lebih Murah

Menurut Russell, ada tanda-tanda awal bahwa China mulai mengurangi pembelian minyak yang mengacu pada harga Brent dan beralih ke jenis yang lebih kompetitif. “China tampaknya membeli minyak Rusia dengan diskon besar dan mengurangi impor minyak yang lebih mahal yang mengacu pada Brent,” tulisnya.

Minyak Afrika Barat seperti dari Nigeria dan Angola menjadi salah satu yang terdampak. Karena harganya mengikuti Brent, jenis ini menjadi relatif lebih mahal. Produsen pun terpaksa memberikan potongan harga lebih besar agar kargo tetap terserap pasar.

Diskon yang ditawarkan bahkan mencapai USD5 per barel atau sekitar Rp84.250, naik dari sebelumnya sekitar USD3 per barel atau Rp50.550. Namun potongan harga tersebut belum cukup menarik minat. Selain harga yang masih dianggap tinggi, ongkos angkut dari Afrika ke Asia juga meningkat. Pada saat yang sama, produsen Timur Tengah justru menurunkan harga jual resmi mereka.

Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia, memangkas harga jual resmi Arab Light untuk pengiriman Maret selama empat bulan berturut-turut. Harganya kini setara dengan rata-rata Oman dan Dubai, turun dari sebelumnya premium USD0,30 per barel atau sekitar Rp5.055. Ini menjadi level terendah sejak Desember 2020.

Situasi ini membuat kilang-kilang China lebih banyak menyerap minyak dari Teluk.

Impor Afrika Menyusut

Data perusahaan analisis Kpler menunjukkan arus minyak dari Afrika ke China mulai berkurang. Impor pada Februari diperkirakan hanya 978 ribu barel per hari dan naik tipis menjadi 1,04 juta barel per hari pada Maret. Angka ini masih jauh di bawah rata-rata kuartal keempat 2025 yang mencapai 1,25 juta barel per hari.

Sebaliknya, impor minyak Rusia jenis Urals justru meningkat tajam. Pengiriman dari pelabuhan Eropa diperkirakan mencapai 824 ribu barel per hari pada Februari, naik dari 741 ribu barel per hari pada Januari dan 444 ribu barel per hari pada Desember.

Lonjakan ini terjadi setelah India, pembeli utama lain minyak Rusia, sepakat dengan Amerika Serikat untuk mengurangi pembelian sebagai bagian dari kesepakatan dagang.

Jenis Urals sendiri memiliki karakteristik yang mirip dengan Arab Light maupun Bonny Light dari Nigeria, sehingga mudah menggantikan pasokan lain dalam proses pengolahan.

Russell melihat langkah China kali ini mengulang strategi yang pernah dilakukan sebelumnya. Saat konflik singkat antara Israel dan Iran pada Juni tahun lalu mendorong harga naik, Beijing juga menahan volume impor. Dengan kata lain, selain beralih ke minyak yang lebih murah, China kemungkinan juga mengurangi total pembelian karena harga yang sudah terlalu tinggi.

Pola ini membuat pergerakan pasar minyak global tidak hanya ditentukan oleh geopolitik dan kebijakan produsen, tetapi juga oleh keputusan belanja energi dari satu negara. Peran China memang sering tak terlihat dalam pergerakan harian harga. Namun seperti ditulis Russell, perubahan impor yang datang terlambat justru menjadi penentu arah pasar dalam jangka menengah.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).