KABARBURSA.COM – Selat Hormuz kembali menjadi perhatian pasar energi global setelah meningkatnya ketegangan pasca serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Apalagi, saat ini pemerintah Iran memutuskan untuk menutup Selat Hormuz dan mengancam akan melakukan serangan balasan terhadap AS.
Untuk diketahui, penyerangan dan penutupan jalur ini memiliki dampak besar bagi perdagangan minyak dunia. Sebab, Selat Hormuz mengalirkan sekitar 20 hingga 22 persen konsumsi minyak mentah dan liquefied natural gas (LNG) dunia per hari, dengan volume transit mendekati 21 juta barel minyak mentah, kondensat, dan produk turunannya.
Posisi strategis tersebut menjadikan setiap eskalasi di kawasan Teluk sebagai faktor langsung terhadap persepsi risiko pasokan global.
Secara struktur pasokan, sekitar 20 persen suplai minyak dunia dan sepertiga perdagangan LNG internasional melewati Selat Hormuz. Arus tersebut berasal dari eksportir utama seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
Lebih dari 80 persen volume minyak yang melintasi jalur ini dikirim ke kawasan Asia, dengan China, India, Jepang, dan Korea Selatan sebagai konsumen dominan.
Ketergantungan tinggi negara-negara Asia terhadap jalur ini membuat volatilitas geopolitik di kawasan tersebut langsung tercermin pada pergerakan harga dan premi risiko energi.
Harga Diprediksi Naik 10 Persen
Pasca meningkatnya ketegangan, harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga menembus level di atas USD79 per barel. Kenaikan tersebut dipicu oleh kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan apabila Iran melakukan pembatasan atau intervensi terhadap lalu lintas pelayaran di selat.
Secara kapasitas, Iran memiliki kemampuan untuk mengganggu distribusi yang dapat berdampak pada pemangkasan ekspor sekitar 1,6 hingga 2 juta barel per hari dalam skenario gangguan signifikan.
Dalam konteks stok minyak global, keseimbangan pasokan dan permintaan saat ini berada dalam fase yang relatif ketat. Data neraca minyak internasional menunjukkan cadangan komersial di sejumlah negara konsumen utama berada pada level yang tidak jauh di atas rata-rata historis lima tahun terakhir.
Gangguan pasokan harian dalam kisaran 1 hingga 2 juta barel berpotensi mengurangi bantalan stok secara cepat apabila berlangsung lebih dari beberapa pekan, terutama pada periode permintaan musiman tinggi di Asia.
Perusahaan Minyak Alihkan Rute Distribusi
Sebagai respons terhadap peningkatan risiko, sejumlah perusahaan pelayaran mulai mempertimbangkan pengalihan rute distribusi melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan untuk menghindari kawasan Laut Merah dan Teluk.
Pengalihan ini memperpanjang waktu tempuh serta meningkatkan biaya logistik dan premi asuransi kapal tanker. Dampak biaya tambahan tersebut tercermin dalam kenaikan tarif pengangkutan dan berkontribusi terhadap pembentukan premi risiko di pasar energi berjangka.
Di sisi mitigasi, Arab Saudi memanfaatkan jalur pipa East-West yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur dengan pelabuhan di Laut Merah sebagai alternatif distribusi. Kapasitas pipa tersebut memberikan ruang pengalihan sebagian volume ekspor tanpa melalui Selat Hormuz, meskipun tidak sepenuhnya menggantikan kapasitas transit harian yang melewati selat.
Langkah serupa juga dilakukan oleh eksportir lain dengan mengoptimalkan fasilitas penyimpanan dan terminal alternatif untuk menjaga kesinambungan arus pasokan.
Kondisi ini menempatkan pasar minyak dalam fase sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Premi risiko meningkat karena potensi gangguan di chokepoint utama energi dunia dapat berdampak langsung pada suplai global yang mencapai sekitar 100 juta barel per hari.
Dalam situasi tersebut, pergerakan harga tidak hanya dipengaruhi oleh realisasi gangguan fisik, tetapi juga oleh ekspektasi pasar terhadap kemungkinan eskalasi lanjutan.
Bagi negara importir utama di Asia, stabilitas Selat Hormuz berkorelasi langsung dengan keamanan energi dan tekanan inflasi domestik. Lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya impor energi serta memengaruhi neraca perdagangan dan kebijakan moneter.
Oleh karena itu, perkembangan situasi di kawasan Teluk menjadi variabel utama dalam pembentukan sentimen pasar komoditas dan pasar keuangan global pada periode pasca serangan tersebut.(*)