KABARBURSA.COM - Penutupan Selat Hormuz akibat perang Iran yang dipicu serangan Israel dan Amerika Serikat disebut bakal membawa dampak ke sektor logistik.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi telah mewanti-wanti industri logistik akan kenaikan biaya pelayaran terkait penutupan Selat Hormuz.
Sebab di samping logistik dan transportasi, harga minyak dunia juga otomatis terkerek akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah tersebut.
"Pasti akan berpengaruh. Biasanya kalau yang awalnya dari Selat Hormuz, kemudian (perusahaan) harus mengalihkan pelayaran. Berarti apa? Transportasi pun juga naik, logistik pun juga naik," ujarnya saat dihubungi KabarBursa.com, Rabu, 4 Maret 2026.
Ibrahim menilai, kenaikan biaya perjalanan kapal pengangkut logistik hingga komoditas seperti minyak dikarenakan waktu tempuh hingga biaya pengeluaran ekstra yang harus dipikul pelaku usaha.
"Di sana kan pada saat kita menepi saja, untuk kapal tongkang atau kapal tanker itu kan pasti kena biaya, per jam kena charge. Ini jadi semakin mahal harga charge-nya. Dengan kondisi Selat Hormuz ditutup, ya ini pasti akan berdampak terhadap kenaikan harga minyak," jelasnya.
Di lain sisi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sempat menyebut, stok bahan bakar minyak (BBM) nasional yang termasuk ketersediaan elpiji sementara ini mencapai 23 hari.
Stok BBM Indonesia tersebut diklaim aman dan di atas standar minimum nasional sebanyak 21 hari. Stok BBM nasional juga ditetapkan berdasarkan kapasitas penyimpanan di dalam negeri yang maksimal sampai 25 hingga 26 hari.
Ibrahim mengatakan, stok BBM Indonesia dengan estimasi pemakaian 23 hari masih terhitung aman, meskipun impor BBM dapat terhalang perang Iran vs Israel-AS.
"Menteri ESDM sudah bicara bahwa untuk sekitar 20 hari ke depan BBM masih cukup bagus. Sebenarnya kita sudah tidak lagi membahas tentang masalah BBM akan naik atau turun. Karena memang persediaannya sampai 20 hari itu sudah ada," jelasnya.
Ibrahim menggaris bawahi, pemerintah masih punya waktu 20 hari untuk menambah dan mengamankan stok BBM dalam negeri di masa mendatang.
"Kita tinggal menunggu nanti setelah 20 hari itu. pemerintah sudah punya waktu 20 hari untuk mencari importir-importir baru. Misalnya dari Amerika atau dari Rusia untuk mengimpor minyak mentahnya," terangnya.
"Jadi dengan waktu 20 hari, Indonesia punya nafas gitu. Sehingga enggak usah ditakutkan, karena pemerintah kan sudah memberikan informasi yang jelas," pungkasnya.(*)