KABARBURSA.COM – Setelah sempat tenang lantaran Presiden Donald Trump menyatakan bahwa konflik AS-Israel Vs Iran tidak akan berlangsung lama, pasar global kembali resah. Keresahan ini membuat seluruh indeks dalam Wall Street melemah pada penutupan perdagangan Sabtu pagi WIB, 14 Maret 2026.
Indeks utama Amerika Serikat seluruhnya mencatat penurunan harian sekaligus mingguan. Dow Jones Industrial Average turun 119,38 poin atau 0,26 persen ke level 46.558,47. Begitu pula dengan S&P 500 melemah 40,43 poin atau 0,61 persen ke posisi 6.632,19/
Sementara, Nasdaq Composite terkoreksi lebih dalam dengan penurunan 206,62 poin atau 0,93 persen ke level 22.105,36.
Tekanan pasar juga terlihat pada indeks saham berkapitalisasi kecil. Russell 2000 menutup perdagangan di level terendah tahun ini. Kondisi ini menandakan pelemahan yang lebih luas di segmen perusahaan kecil yang biasanya lebih sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi.
Kontrak Berjangka WTI Meroket
Pergerakan saham ini terjadi bersamaan dengan volatilitas tajam pada pasar energi global. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan depan ditutup di level USD98,71 per barel atau naik 3,11 persen dalam satu hari perdagangan.
Sementara itu, minyak Brent menguat 2,67 persen ke posisi USD103,14 per barel dan kembali bertahan di atas ambang USD100 untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022.
Kenaikan harga minyak terjadi meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat melonggarkan sementara sanksi terhadap minyak Rusia guna meredakan kekhawatiran terhadap pasokan global.
Tapi ternyata kebijakan tersebut tidak cukup menenangkan pasar karena eskalasi konflik di Timur Tengah justru semakin meluas.
Kontrol lran Diperketat
Trump menyatakan, Amerika Serikat akan menekan Iran dengan sangat keras dalam sepekan ke depan. Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan bahwa konflik telah meluas ke sejumlah negara di kawasan, termasuk Lebanon, Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman.
Perkembangan inilah yang kemudian memicu kekhawatiran baru mengenai stabilitas jalur distribusi energi global.
Situasi semakin kompleks setelah Iran memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi penghubung sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyatakan bahwa perang tersebut berpotensi menimbulkan gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah terjadi di pasar global.
Di tengah kondisi tersebut, volatilitas pasar energi dinilai sangat tinggi dan sulit dijelaskan hanya oleh faktor fundamental. Senior Wealth Advisor sekaligus Market Strategist Murphy & Sylvest Paul Nolte, mengatakan fluktuasi yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir bahkan menyerupai dinamika ekstrem yang biasanya terjadi di pasar kripto.
Menurut dia, kondisi pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen emosional dibandingkan faktor ekonomi murni. Nolte menilai situasi tersebut membuat aktivitas perdagangan menjadi jauh lebih sulit diprediksi.
Ia mengatakan investor cenderung menunggu hingga kondisi pasar lebih stabil sebelum mengambil keputusan investasi. Proses tersebut diperkirakan dapat berlangsung selama beberapa pekan ke depan seiring perkembangan konflik geopolitik.
Data Ekonomi AS Direvisi Turun
Selain faktor geopolitik dan energi, pasar juga menghadapi tekanan dari data ekonomi Amerika Serikat. Departemen Perdagangan merevisi turun pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal IV secara signifikan. Kenyataan ini memperkuat kekhawatiran mengenai perlambatan aktivitas ekonomi.
Data pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) menunjukkan indikator inflasi utama yang menjadi acuan Federal Reserve relatif tidak banyak berubah. Namun sejumlah indikator lain justru menunjukkan tanda pelemahan permintaan, termasuk pada sektor barang tahan lama.
Kombinasi data tersebut menciptakan situasi yang cukup kompleks bagi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat. Di satu sisi, beberapa indikator ekonomi menunjukkan perlambatan. Di sisi lain, lonjakan harga energi berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi.
Kepala Ekonom Pasar Spartan Capital Securities Peter Cardillo, mengatakan kondisi inflasi yang masih relatif tinggi membuat Federal Reserve kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuan lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan pasar.
Menurut dia, lonjakan harga energi berpotensi menyalurkan tekanan inflasi baru ke berbagai sektor ekonomi. Hal tersebut dapat membuat ruang penurunan suku bunga dalam waktu dekat menjadi semakin terbatas.
Saham Teknologi Rontok, Utilitas Catatkan Kinerja Terbaik
Dari sisi sektor, saham teknologi menjadi penyumbang penurunan terbesar dalam indeks S&P 500 pada perdagangan hari itu. Sementara sektor utilitas justru mencatat kinerja terbaik di tengah meningkatnya minat investor pada saham defensif.
Sektor keuangan juga mengalami tekanan cukup besar sepanjang pekan dengan penurunan sekitar 3,4 persen. Penurunan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kualitas kredit di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
Beberapa saham individual juga mengalami tekanan tajam. Adobe turun sekitar 7,6 persen setelah perusahaan mengumumkan bahwa CEO Shantanu Narayen akan meninggalkan jabatannya setelah pengganti ditunjuk.
Pengumuman tersebut kembali memicu kekhawatiran investor mengenai arah strategi perusahaan di tengah perubahan teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Saham Meta Platforms juga turun sekitar 3,8 persen setelah laporan menyebut perusahaan menunda peluncuran model kecerdasan buatan terbaru mereka yang diberi nama Avocado hingga setidaknya bulan Mei.
Secara keseluruhan, tekanan jual terlihat cukup dominan di pasar saham Amerika Serikat. Di Bursa Efek New York, jumlah saham yang turun hampir dua kali lebih banyak dibandingkan saham yang naik dengan rasio sekitar 1,9 banding 1.
Sebanyak 71 saham mencatat level tertinggi baru dalam 52 minggu terakhir, sementara 185 saham justru mencetak level terendah baru. Kondisi serupa juga terlihat di Nasdaq, di mana saham yang turun jauh lebih banyak dibandingkan yang menguat.
Volume transaksi di seluruh bursa Amerika Serikat tercatat sekitar 18,12 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang berada di kisaran 19,84 miliar saham.
Pergerakan pasar menunjukkan bahwa sentimen geopolitik dan dinamika harga energi saat ini menjadi faktor utama yang membentuk arah perdagangan global. Ketidakpastian pasokan minyak dunia serta respons kebijakan moneter bank sentral menjadi dua variabel yang terus diperhatikan investor dalam menentukan posisi di pasar keuangan.(*)