Logo
>

Semakin Mendidih, Harga Minyak Melonjak Hingga Tujuh Persen

Selama sesi perdagangan, harga Brent berjangka naik USD6,27, atau 6,8 persen menjadi USD98,96 per barel

Ditulis oleh Hutama Prayoga
Semakin Mendidih, Harga Minyak Melonjak Hingga Tujuh Persen
Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: AI untuk KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Harga minyak melonjak sekitar tujuh persen pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026 dan ditutup pada level tertinggi sejak 2022, setelah meroket hingga 29 persen selama sesi. Hal ini terjadi karena Arab Saudi dan anggota OPEC lainnya memangkas pasokan di tengah meluasnya perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Harga minyak sempat meroket lebih dari 20 persen di awal perdagangan, namun kemudian menurun setelah AS dan negara-negara Kelompok Tujuh (G7).

Mengutip Reuters, selama sesi perdagangan, harga Brent berjangka naik USD6,27, atau 6,8 persen menjadi USD98,96 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik USD3,87, atau 4,3 persen menjadi USD94,77. Menurut Reuters, ini merupakan harga tertinggi untuk Brent dan WTI sejak Agustus 2022.

Adapun di awal sesi perdagangan, harga Brent melonjak sebesar USD26,81 menjadi USD119,50 per barel, dan WTI mencapai level tertinggi sesi di USD119,48.

Catatan Itu merupakan harga intraday tertinggi untuk kedua patokan minyak mentah tersebut sejak Juni 2022, sebanding dengan rekor tertinggi sepanjang masa sebesar USD147,50 per barel untuk Brent dan USD147,27 untuk WTI pada Juli 2008.

Adapun Sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026 lalu, harga Brent telah melonjak hingga 65 persen dan WTI sebesar 78 persen.

Perang tersebut praktis telah menutup Selat Hormuz, jalur yang dilalui oleh sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia. Namun, sebuah kapal tanker minyak yang dioperasikan oleh Yunani berlayar melalui Selat tersebut dengan muatan minyak mentah Saudi, sebuah pertanda bahwa beberapa kapal komersial masih berupaya untuk melewati jalur vital tersebut.

Presiden AS Donald Trump disebut akan meninjau sejumlah opsi untuk mengendalikan harga minyak, termasuk kemungkinan upaya bersama dengan negara lain guna melepaskan minyak mentah dari cadangan strategis.

Sebuah sumber Reuters menyebut opsi lainnya ialah termasuk membatasi ekspor AS, melakukan intervensi di pasar berjangka minyak, menghapuskan beberapa pajak federal, dan mencabut persyaratan hukum bahwa bahan bakar domestik hanya boleh diangkut dengan kapal berbendera AS.

"Alternatif yang tersedia terbatas, seperti memanfaatkan cadangan minyak strategis, tetapi jika dibandingkan dengan potensi besarnya gangguan pasokan jika Selat Hormuz tetap tertutup lebih lama, alternatif tersebut hanyalah setetes air di lautan," kata analis UBS, Giovanni Staunovo. (*). 
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Hutama Prayoga

Hutama Prayoga telah meniti karier di dunia jurnalistik sejak 2019. Pada 2024, pria yang akrab disapa Yoga ini mulai fokus di desk ekonomi dan kini bertanggung jawab dalam peliputan berita seputar pasar modal.

Sebagai jurnalis, Yoga berkomitmen untuk menyajikan berita akurat, berimbang, dan berbasis data yang dihimpun dengan cermat. Prinsip jurnalistik yang dipegang memastikan bahwa setiap informasi yang disajikan tidak hanya faktual tetapi juga relevan bagi pembaca.