KABARBURSA.COM – Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran meningkatkan risiko gangguan besar pada pasokan minyak di Timur Tengah, kawasan yang menjadi tulang punggung energi dunia.
Seperti dilansir CNBC, dalam skenario terburuk, eskalasi ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan menyeret ekonomi global ke fase resesi.
Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di OPEC dengan produksi sedikit di atas 3 juta barel per hari pada Januari. Negara tersebut berbagi garis pantai dengan Selat Hormuz, jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan minyak global.
Lebih dari 14 juta barel per hari melewati Selat Hormuz sepanjang 2025, atau sekitar sepertiga dari total ekspor minyak mentah laut dunia, berdasarkan data perusahaan konsultan energi Kpler.
Sekitar tiga perempat volume itu dikirim ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan. China sendiri menerima sekitar setengah dari impor minyak mentahnya melalui jalur tersebut.
Mantan penasihat energi Gedung Putih era Presiden George W. Bush, Bob McNally, menilai pasar selama ini meremehkan potensi gangguan suplai di kawasan tersebut.
“Ini situasi yang sangat serius,” ujar McNally, pendiri dan presiden Rapidan Energy kepada CNBC, Sabtu, 28 Februari 2026.
Ia memperkirakan harga kontrak berjangka minyak mentah dapat melonjak USD5 hingga USD7 per barel saat perdagangan dibuka, seiring pasar mulai memasukkan premi risiko geopolitik.
Pada perdagangan terakhir sebelum akhir pekan, harga minyak mentah Brent ditutup di USD72,48 per barel, naik 2,45 persen. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat berakhir di USD67,02 per barel, naik 2,78 persen.
Menurut McNally, risiko terbesar bukan sekadar kenaikan harga awal, melainkan potensi Iran membuat Selat Hormuz tidak aman bagi lalu lintas komersial. Dalam kondisi tersebut, harga minyak dapat menembus USD100 per barel.
Pasar, kata dia, belum sepenuhnya memperhitungkan fakta bahwa Teheran memiliki persediaan ranjau dan rudal jarak pendek yang dapat mengganggu arus pelayaran secara signifikan.
“Penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang hampir pasti memicu resesi global,” ujarnya.
Di lapangan, aktivitas pengapalan mulai menunjukkan respons terhadap ketegangan tersebut. Analis minyak Kpler, Matt Smith, menyebut lebih dari 20 juta barel minyak mentah dimuat untuk ekspor dari kawasan Teluk oleh Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar.
Sejumlah kapal tanker, kata Smith, telah terpantau mengalihkan rute untuk menghindari jalur yang berpotensi berisiko.
Jika jalur tersebut terganggu, dampaknya tidak hanya pada minyak mentah. Sekitar 20 persen ekspor gas alam cair dunia juga melewati Selat Hormuz, terutama dari Qatar, sehingga memperluas potensi gangguan energi global.
McNally menilai dalam kondisi penutupan berkepanjangan, negara-negara Asia sebagai pengimpor utama minyak dan gas berpotensi melakukan penimbunan pasokan.
“Yang akan terjadi adalah aksi penimbunan,” katanya. “Kita akan menyaksikan perang penawaran terbesar.”
Ia menambahkan, harga minyak dalam situasi ekstrem harus naik cukup tinggi untuk menekan permintaan dan menyeimbangkan pasar melalui perlambatan ekonomi.
“Tidak ada cukup permintaan minyak yang bersifat elastis atau diskresioner,” ujarnya.
Dalam konteks sistem energi global yang masih sangat bergantung pada pasokan dari kawasan Teluk, ketegangan ini menjadi faktor risiko baru yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia dalam waktu dekat. (*)