KABARBURSA.COM - Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings menegaskan bahwa arah peringkat kredit Indonesia ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah mempertebal bantalan fiskal. Upaya ini dinilai krusial. Terutama untuk meredam guncangan eksternal yang bersumber dari konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Dalam sebuah forum daring yang membahas prospek ekonomi Indonesia, S&P menyampaikan bahwa hingga kini belum ada langkah penurunan peringkat maupun perubahan prospek. Situasi masih dijaga. Pemerintah dinilai tengah mengupayakan berbagai langkah mitigasi guna menahan transmisi dampak perang terhadap perekonomian domestik. Seperti dilansir reuters di Jakarta, Jumat 1 Mei 2026.
Namun demikian, ruang fiskal Indonesia disebut relatif terbatas. Kondisi ini menjadikan ekonomi nasional lebih rentan dibandingkan sejumlah negara lain di Asia Tenggara. Meski begitu, intervensi kebijakan yang terukur diyakini mampu menghindarkan Indonesia dari tekanan yang lebih dalam dan destruktif.
S&P menyoroti sejumlah strategi yang tengah dijalankan pemerintah. Di antaranya adalah rasionalisasi anggaran, termasuk penyesuaian pada program makan gratis, serta optimalisasi penerimaan dari sektor ekspor seiring lonjakan harga komoditas global. Langkah-langkah ini dipandang sebagai bantalan awal. Belum sepenuhnya kokoh, tetapi cukup relevan dalam konteks saat ini.
Di sisi lain, tekanan fiskal tetap terasa. Rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan negara tercatat meningkat, mencerminkan pelemahan kapasitas penerimaan pemerintah. Ini menjadi sinyal yang tak bisa diabaikan. Terutama dalam menjaga kesinambungan fiskal jangka menengah.
S&P menilai bahwa hanya skenario krisis Timur Tengah yang berlangsung panjang dan intens yang berpotensi menggerus dukungan terhadap ekonomi Indonesia secara signifikan. Dalam kondisi ekstrem tersebut, barulah implikasi terhadap peringkat kredit menjadi lebih nyata dan terukur.
Sebagai catatan, dalam penilaian terakhir pada Juli tahun lalu, S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB/A-2 dengan prospek stabil. Hingga kini, lembaga tersebut juga tercatat sebagai satu-satunya yang belum merilis pembaruan tahunan untuk Indonesia.
Sementara itu, lanskap penilaian global menunjukkan dinamika yang berbeda. Fitch Ratings pada bulan sebelumnya telah menurunkan prospek Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, mengutip meningkatnya ketidakpastian serta penurunan kredibilitas kebijakan. Langkah serupa juga diambil Moody’s pada Februari, yang menyoroti kekhawatiran terhadap tata kelola fiskal dan ketahanan keuangan negara.(*)