KABARBURSA.COM – Di tengah tensi geopolitik global yang memanas akibat konflik di Timur Tengah, PT Pertamina International Shipping (PIS) memastikan keamanan jalur distribusi energi nasional. Dua kapal tanker raksasa, PIS Rinjani dan PIS Paragon, dilaporkan sukses melintasi titik kritis Selat Hormuz.
Langkah strategis ini menjadi kunci dalam mengamankan stok BBM nasional di tengah ketidakpastian jalur maritim dunia.
"Dari empat unit kapal milik PIS, dua kapal tercatat telah beranjak dari area konflik, yaitu kapal PIS Rinjani dan kapal PIS Paragon," jelas Pjs Corporate Secretary PIS Vega Vita, dikutip dari keterangan resminya, Kamis, 12 Maret 2026.
Keberhasilan navigasi ini memastikan tambahan pasokan energi masif guna memperkuat ketahanan stok nasional hingga menyentuh angka aman 30 hari.
Ketersediaan Pasokan Nasional
Secara teknis, kekuatan angkut kedua kapal ini membawa dampak besar bagi stabilitas stok.
PIS Rinjani yang merupakan kelas Aframax membawa bobot mati sekitar 109.900 ton, yang jika dikonversi setara dengan 129,6 juta liter. Sementara itu, PIS Paragon mengangkut 45.920 ton atau sekitar 54,2 juta liter produk BBM.
Jika digabungkan, muatan keduanya mencapai 183,8 juta liter, cukup untuk memenuhi kebutuhan harian nasional yang berada di kisaran 230.000 KL per hari.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengimbau masyarakat agar tidak perlu panik. Ia mengibaratkan stok BBM nasional seperti "toren air" yang terus terisi secara dinamis melalui produksi kilang domestik dan diversifikasi impor dari negara mitra seperti Malaysia dan Singapura.
"Jangan dipikir 21 atau 23 hari itu minyak kita habis. Itu daya tampungnya. Begitu stok keluar, produksi kilang masuk lagi untuk mengisi," tegas Bahlil dalam keterangan resmi, Rabu, 11 Maret 2026.
Pasokan ini sangat vital mengingat konsumsi harian per SPBU yang fluktuatif. Dalam kondisi normal, sebuah SPBU rata-rata menyalurkan 29.000 hingga 30.000 liter per hari.
Namun, memasuki proyeksi Lebaran 2026, konsumsi Gasoline (Pertalite dan Pertamax) diprediksi melonjak 12 persen, yang dapat mendorong penjualan di SPBU jalur mudik hingga di atas 50.000 liter per hari.
Sebaliknya, konsumsi Gasoil (Solar) diperkirakan turun 14,5 persen karena pembatasan truk logistik.
Rencana Kenaikan Harga BBM
Di sisi kebijakan, keberhasilan pengamanan stok ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk meredam dampak lonjakan harga minyak dunia yang kini menembus USD100 per barel.
Meskipun harga BBM non-subsidi telah naik per 1 Maret 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga Idulfitri 1447 Hijriah berakhir.
"Negara akan hadir dengan menambah anggaran subsidi. Selisih kenaikan harga minyak dunia itu masih ditanggung oleh negara," ujarnya.
Namun, pemerintah tetap waspada terhadap tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa jika harga minyak terus merangkak naik dan memberikan beban ekstrem, pemerintah harus menyiapkan langkah antisipatif agar defisit fiskal tidak melampaui batas aman.
Purbaya mensimulasikan jika harga minyak menetap di level tinggi dalam waktu lama, defisit bisa melebar ke angka 3,6 persen hingga 3,7 persen dari produk domestik bruto (PDB).
"Kalau anggarannya sudah tidak kuat, tidak ada jalan lain, kita harus berbagi beban dengan masyarakat. Namun, sampai sekarang belum ada kebijakan untuk mengubah subsidi BBM," pungkas Purbaya.
Saat ini, Pertamina terus memperketat pengawasan armada di zona merah dan melakukan diversifikasi pasokan guna menjaga ketahanan energi nasional tetap kokoh di tengah badai geopolitik global.(*)