Logo
>

The Fed Tahan Suku Bunga bikin Wall Street Rontok: Dow Jones Terparah

Wall Street melemah setelah The Fed menahan suku bunga dan memberi sinyal terbatas soal pemangkasan.

Ditulis oleh Syahrianto
The Fed Tahan Suku Bunga bikin Wall Street Rontok: Dow Jones Terparah
Ilustrasi: Plang nama jalan Wall Street (Foto: PxHere)

KABARBURSA.COM – Wall Street ditutup melemah tajam pada Rabu, 18 Maret 2026, setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) dan memproyeksikan hanya satu kali penurunan suku bunga sepanjang tahun ini.

Sebagimana dilansir Reuters, hal ini terjadi seiring pejabat mencermati risiko ekonomi yang berasal dari lonjakan harga minyak serta perang antara AS dan Israel dengan Iran.

Proyeksi terbaru dari pembuat kebijakan bank sentral AS menunjukkan bahwa suku bunga acuan overnight The Fed akan turun hanya sebesar seperempat poin persentase hingga akhir tahun ini, tanpa indikasi waktu yang jelas.

Indeks saham utama memperpanjang pelemahan setelah Ketua The Fed Jerome Powell menggelar konferensi pers dan menegaskan ketidakpastian yang ditimbulkan oleh perang terhadap prospek ekonomi.

Para ekonom sebelumnya tidak memperkirakan The Fed akan mengubah suku bunganya.

“The Fed tetap menahan suku bunga. Dengan inflasi yang masih berada di atas target dan ekonomi yang berjalan di atas tren, serta ketidakpastian tinggi terkait arah perang Iran, tidak ada alasan untuk melonggarkan kebijakan,” kata Michael Rosen, Chief Investment Officer di Angeles Investments di Santa Monica, California.

“Tantangan yang lebih besar bagi The Fed, yang diperburuk oleh perang, adalah menyeimbangkan mandat gandanya untuk mencapai lapangan kerja penuh dan inflasi yang stabil. Jika perang berlanjut dan harga minyak tetap tinggi, hal itu akan memicu perlambatan ekonomi. Namun pelonggaran kebijakan moneter akan menjadi kesalahan karena hanya akan mendorong inflasi,” tambahnya.

Sebelumnya, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) naik 3,4 persen secara tahunan, melampaui perkiraan ekonom sebesar 2,9 persen. Harga berpotensi meningkat lebih lanjut seiring konflik Timur Tengah mendorong biaya pengiriman dan harga minyak.

Harga minyak Brent melanjutkan kenaikan dan mendekati USD110 per barel setelah kantor berita Iran melaporkan bahwa sejumlah fasilitas milik industri minyak Iran di South Pars dan Asaluyeh diserang.

Indeks S&P 500 turun 1,36 persen dan ditutup di level 6.624,70 poin, merupakan penutupan terendah dalam hampir empat bulan. Secara tahun berjalan, indeks ini turun sekitar 3 persen.

Indeks Nasdaq turun 1,46 persen ke level 22.152,42 poin, sementara Dow Jones Industrial Average melemah 1,63 persen ke 46.225,15 poin.

Seluruh 11 sektor dalam S&P 500 ditutup melemah, dipimpin oleh sektor barang konsumsi pokok yang turun 2,44 persen, diikuti sektor konsumsi diskresioner yang turun 2,32 persen.

Saham AMD naik 1,6 persen setelah menyepakati kerja sama dengan Samsung Electronics untuk memperluas kemitraan strategis dalam pasokan chip memori untuk infrastruktur kecerdasan buatan. Saham Nvidia turun 0,8 persen setelah memperoleh persetujuan dari Beijing untuk menjual chip kecerdasan buatan dengan kemampuan kedua tertinggi di China.

Saham Micron Technology turun 4,3 persen dalam perdagangan setelah jam bursa setelah produsen chip memori tersebut memproyeksikan penjualan kuartalan di atas ekspektasi Wall Street dan menyatakan akan meningkatkan belanja modal fiskal 2026.

Saham Apollo Global Management naik 2,1 persen, pulih dari penurunan tajam pada pekan sebelumnya terkait kekhawatiran kredit swasta berkualitas.

Saham Lululemon melonjak 3,8 persen setelah laporan kinerja kuartalan perusahaan. Pendiri Chip Wilson, yang tengah berselisih dengan manajemen, menyatakan keputusan direktur utama David Mussafer untuk mundur merupakan langkah yang tepat dan menegaskan perlunya perombakan dewan direksi.

Saham Macy’s naik 4,7 persen setelah perusahaan ritel tersebut menyatakan bahwa dampak tarif diperkirakan lebih kecil pada paruh kedua tahun ini dan melaporkan laba kuartalan di atas estimasi.

Jumlah saham yang turun melampaui saham yang naik dalam indeks S&P 500 dengan rasio 5,2 banding 1.

S&P 500 mencatat 17 saham mencetak tertinggi baru dan 15 saham mencatat terendah baru. Nasdaq mencatat 42 saham mencetak tertinggi baru dan 218 saham mencatat terendah baru.

Volume perdagangan di bursa AS relatif ringan, dengan 19,4 miliar saham berpindah tangan, dibandingkan rata-rata 19,8 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan sebelumnya. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.