Logo
>

Trump Bawa Isu Greenland ke Forum Ekonomi Davos, Demokrat Sebut Berbahaya

Pidato Donald Trump di Forum Ekonomi Dunia Davos menuai kritik dari tokoh Demokrat. Isu penguasaan Greenland dinilai berisiko bagi keamanan nasional dan hubungan internasional AS.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Trump Bawa Isu Greenland ke Forum Ekonomi Davos, Demokrat Sebut Berbahaya
Pidato Trump di Davos soal Greenland menuai kritik Demokrat. Isu ini dinilai berbahaya dan berpotensi merusak keamanan serta diplomasi Amerika Serikat. Foto: IG @realdonaldtrump

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump di forum ekonomi paling bergengsi dunia kembali memantik kontroversi. Bukan karena strategi ekonomi global atau arah kebijakan iklim, melainkan karena keinginan Amerika Serikat untuk menguasai Greenland. Kali ini, reaksi keras datang dari dalam negeri AS sendiri.

    Gubernur Kentucky dari Partai Demokrat, Andy Beshear, secara terbuka mengecam pidato Donald Trump di ajang World Economic Forum di Davos, Swiss. Dalam pernyataan yang ia unggah di platform X, Beshear menyebut pidato Trump sebagai sesuatu yang “berbahaya, tidak sopan, dan tidak terkendali.”

    “Pidato Presiden di Davos ini berbahaya, tidak sopan, dan tidak terkendali. Mulai dari menghina sekutu-sekutu kita sampai mengatakan kepada warga Amerika yang sedang kesulitan bahwa inflasi sudah beres dan ekonomi kita luar biasa, Presiden justru merusak keamanan finansial keluarga kita sekaligus keamanan nasional,” ujar Beshear, dikutip dari The Hill, Kamis, 22 Januari 2026.

    Dalam pidatonya, Trump kembali mempromosikan gagasan bahwa Amerika Serikat perlu memperoleh Greenland—wilayah otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark. Ia menegaskan kepada para pemimpin dunia bahwa dirinya tidak mempertimbangkan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau tersebut, meski sebelumnya pernah menyiratkan opsi itu.

    Trump bahkan memuji Greenland dan Denmark, seraya mengatakan bahwa ia memiliki “rasa hormat yang besar terhadap rakyat Greenland dan Denmark.” Namun pujian itu dibarengi klaim sepihak bahwa secara realistis, tidak ada negara atau kelompok negara mana pun yang mampu mengamankan Greenland selain Amerika Serikat.

    Ia mendesak agar negosiasi segera dilakukan untuk pengambilalihan wilayah tersebut dan berupaya menarik kembali pernyataannya di masa lalu soal kemungkinan invasi militer. Menurut Trump, alasan utama Amerika Serikat membutuhkan Greenland adalah keamanan nasional.

    “Kami mungkin tidak akan mendapatkan apa pun kecuali saya memutuskan menggunakan kekuatan dan tekanan berlebihan, di mana kami akan benar-benar tak terbendung,” kata Trump.

    “Tapi saya tidak akan melakukan itu. Saya tidak harus menggunakan kekuatan. Saya tidak ingin menggunakan kekuatan. Saya tidak akan menggunakan kekuatan. Yang diminta Amerika Serikat hanyalah sebuah tempat bernama Greenland,” imbuhnya.

    Nada pidato Trump ini justru memancing ejekan dari Beshear. Dalam unggahan lanjutannya, ia menyinggung kekeliruan Trump yang disebut-sebut salah menyebut Greenland sebagai Islandia.

    “Oh ya, Greenland ini begitu penting sampai dia menyebutnya Islandia,” tulis Beshear dengan nada sindiran.

    Trump juga melontarkan tuduhan bahwa Denmark bersikap “tidak tahu berterima kasih” kepada Amerika Serikat, meski telah menerima bantuan selama Perang Dunia II. Ia bahkan menyebut tanpa bantuan AS, Denmark kemungkinan besar akan “berbicara bahasa Jerman dan sedikit bahasa Jepang.”

    Kritik terhadap pidato Trump tidak hanya datang dari Beshear. Gubernur California, Gavin Newsom, yang juga kerap disebut-sebut sebagai figur potensial kandidat presiden 2028 dari Partai Demokrat, menyaksikan langsung pidato Trump di Davos, terutama ketika Trump menyinggung negara bagian California.

    “Kami akan membantu rakyat California,” kata Trump.

    “Kami ingin tidak ada kejahatan. Saya tahu Gavin ada di sini. Dulu saya sangat akur dengan Gavin saat saya presiden. Gavin orang yang baik. Dan kalau kalian butuh, kami akan membantu secepat kilat. Kami memang banyak membantu Los Angeles di awal-awal masa jabatan saya ketika mereka punya masalah,” ujarnya lagi.

    Namun usai pidato tersebut, Newsom justru memberi penilaian yang dingin. Dalam wawancara dengan CNN, ia menyebut pidato Trump “sangat membosankan” dan menilai retorika “api dan amarah” Trump tidak berarti apa-apa.

    “Pidatonya sangat tidak signifikan,” ujar Newsom. “Dia tidak pernah benar-benar akan menginvasi Greenland; itu tidak pernah nyata. Jadi semua itu selalu palsu. Lalu dia bilang, ‘kita harus bernegosiasi.’ Semua orang di sini sudah bersedia bernegosiasi selama setahun.”

    Bagi sebagian pengamat, pidato Trump di Davos kali ini lebih menyerupai panggung politik domestik ketimbang forum ekonomi global. Alih-alih membahas isu perdagangan, inflasi global, atau transisi energi, Trump justru menghidupkan kembali narasi lama yang kontroversial. Ini tentu memicu kritik tajam dari para rival politiknya sendiri.

    Di tengah forum yang seharusnya menjadi ruang diplomasi dan koordinasi global, pidato tersebut justru memperlihatkan betapa isu geopolitik bisa berubah menjadi alat retorika politik, bahkan ketika dunia tengah menghadapi tantangan ekonomi yang jauh lebih mendesak.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).