KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia kembali menguat pada akhir perdagangan Jumat waktu Amerika Serikat, 13 Maret 2026, setelah eskalasi konflik di Timur Tengah meningkat. Serangan militer Amerika Serikat terhadap fasilitas Iran serta gangguan pasokan di Selat Hormuz menjadi sentimen utama yang membentuk pergerakan pasar energi global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa militer AS telah melancarkan serangan terhadap seluruh target militer di Pulau Kharg, Iran. Pulau tersebut merupakan salah satu pusat ekspor minyak utama negara tersebut yang selama ini berperan penting dalam distribusi energi dari kawasan Teluk ke pasar global.
Trump menyampaikan bahwa pemerintahannya memilih untuk tidak menghancurkan infrastruktur minyak di pulau tersebut. Namun ia memperingatkan bahwa keputusan tersebut dapat berubah apabila Iran atau pihak lain mencoba mengganggu jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Pernyataan ini langsung meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan lebih besar pada distribusi minyak dunia. Apalagi selama ini Selat Hormuz menjadi jalur utama pengiriman sekitar seperlima perdagangan minyak global. Tak ayal, setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi langsung mempengaruhi harga energi internasional.
Sentimen geopolitik tersebut tercermin pada pergerakan harga minyak mentah. Kontrak berjangka Brent pada perdagangan Jumat ditutup di level USD103,14 per barel atau naik USD2,68 setara 2,67 persen dibandingkan sesi sebelumnya.
Kenaikan harga minyak terjadi meskipun Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) telah berupaya menstabilkan pasar melalui pelepasan cadangan strategis. Namun ketidakpastian mengenai durasi konflik di Timur Tengah membuat tekanan pada pasar energi tetap bertahan.
Prediksi Lembaga Keuangan Barclays
Lembaga keuangan Barclays bahkan menaikkan proyeksi harga minyak Brent untuk 2026 menjadi sekitar USD85 per barel. Revisi tersebut didasarkan pada gangguan pasokan yang terjadi akibat konflik Iran yang secara signifikan mengurangi arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Barclays mencatat bahwa aliran minyak melalui jalur pelayaran tersebut kini turun drastis. Pada saat yang sama, penghentian produksi di sejumlah negara Teluk dilaporkan telah mencapai lebih dari 10 juta barel per hari.
Proyeksi tersebut mengasumsikan bahwa situasi di Selat Hormuz dapat kembali normal dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Namun apabila pasar memperkirakan pemulihan jalur distribusi membutuhkan waktu lebih lama, harga minyak berpotensi mengalami penyesuaian lebih tinggi.
Menurut Barclays, jika gangguan berlangsung hingga empat sampai enam minggu, harga Brent untuk 2026 berpotensi bergerak menuju level USD100 per barel. Lembaga tersebut menilai arah pergerakan harga minyak saat ini masih cenderung meningkat hingga terdapat titik balik yang jelas dalam konflik geopolitik tersebut.
Produksi Minyak AS Meningkat
Di sisi lain, aktivitas eksplorasi energi di Amerika Serikat mulai menunjukkan peningkatan moderat. Perusahaan jasa energi Baker Hughes melaporkan bahwa jumlah rig pengeboran minyak dan gas di Amerika Serikat naik selama dua minggu berturut-turut.
Dalam laporan terbaru yang dirilis pada Jumat, jumlah total rig minyak dan gas naik dua unit menjadi 553 rig pada pekan yang berakhir 13 Maret 2026. Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak November 2025.
Peningkatan tersebut mencerminkan indikator awal potensi kenaikan produksi energi dalam beberapa periode mendatang. Dari total tersebut, jumlah rig minyak naik satu unit menjadi 412 rig, sementara rig gas juga meningkat satu unit menjadi 133 rig.
Kendati demikian, jumlah total rig masih berada sekitar 39 unit lebih rendah atau sekitar tujuh persen di bawah posisi pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini merupakan strategi industri energi Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir, yang lebih berfokus pada pengembalian nilai kepada pemegang saham dibandingkan ekspansi produksi agresif.
Data historis menunjukkan jumlah rig minyak dan gas di Amerika Serikat telah menurun sekitar tujuh persen sepanjang 2025, setelah sebelumnya turun sekitar lima persen pada 2024 dan bahkan merosot sekitar 20 persen pada 2023.
Penurunan tersebut terjadi ketika perusahaan energi memilih untuk mengurangi belanja modal serta memperkuat neraca keuangan.
Firma jasa keuangan TD Cowen menyebutkan bahwa 18 perusahaan eksplorasi dan produksi yang dipantau lembaga tersebut berencana mengurangi belanja modal sekitar satu persen pada 2026 dibandingkan 2025. Tren ini melanjutkan penurunan sekitar empat persen yang terjadi pada 2025 setelah belanja modal relatif stagnan pada 2024.
Perubahan strategi investasi tersebut terjadi setelah lonjakan besar pengeluaran sektor energi pada periode sebelumnya. Belanja modal perusahaan eksplorasi dan produksi meningkat sekitar 27 persen pada 2023 dan bahkan melonjak sekitar 40 persen pada 2022 ketika harga energi global berada pada level tinggi.
Proyeksi Produksi Energi AS
Sementara itu, proyeksi produksi energi Amerika Serikat masih menunjukkan tren peningkatan dalam jangka menengah. Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat atau Energy Information Administration (EIA) memperkirakan produksi minyak mentah negara tersebut akan meningkat dari rekor 13,59 juta barel per hari pada 2025 menjadi sekitar 13,61 juta barel per hari pada 2026.
Pada sektor gas alam, produksi juga diperkirakan meningkat dari sekitar 107,7 miliar kaki kubik per hari pada 2025 menjadi sekitar 109,5 miliar kaki kubik per hari pada 2026. Peningkatan tersebut diperkirakan terjadi seiring kenaikan harga gas di pusat perdagangan Henry Hub di Louisiana yang diproyeksikan naik sekitar tujuh persen pada 2026.
Pergerakan pasar energi saat ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi faktor dominan yang memengaruhi harga minyak global. Gangguan pasokan, perubahan jalur distribusi energi, serta dinamika produksi di Amerika Serikat menjadi variabel yang terus dipantau oleh pelaku pasar dalam menentukan arah perdagangan komoditas energi dunia.(*)