Logo
>

Trump tak Mau Damai, Perang Iran Berakhir Jika Para Pemimpinnya Habis

Trump menolak negosiasi dengan Iran dan menyebut perang bisa berakhir jika militer serta kepemimpinan Teheran tidak lagi tersisa.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Trump tak Mau Damai, Perang Iran Berakhir Jika Para Pemimpinnya Habis
Trump menolak negosiasi perang Iran dan mengisyaratkan konflik baru berakhir jika militer serta kepemimpinan Teheran dilumpuhkan. Foto: pbs.org

KABARBURSA.COM — Perang yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran memasuki fase yang semakin keras. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyiratkan konflik ini tidak akan berhenti sebelum kekuatan militer Iran lumpuh dan para pemimpinnya tidak lagi berkuasa.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada Sabtu, 7 Maret 2026. Ia mengatakan kampanye udara yang sedang berlangsung bisa membuat pembicaraan damai menjadi tidak relevan apabila semua calon pemimpin Iran terbunuh dan kekuatan militernya hancur.

“Pada suatu titik, saya tidak berpikir akan ada siapa pun yang tersisa mungkin untuk mengatakan ‘Kami menyerah’,” kata Trump, dikutip dari Reuters, Ahad, 8 Maret 2026.

Ucapan tersebut memberi gambaran keras tentang bagaimana Washington memandang perang ini. Bagi Trump, Iran dianggap sebagai ancaman yang harus disingkirkan, meski pemerintah Amerika tidak menyertakan bukti rinci yang menunjukkan ancaman itu benar-benar mendesak.

Sementara itu Israel melanjutkan serangan udara ke berbagai wilayah Iran pada Ahad. Media pemerintah melaporkan ledakan besar terdengar di sejumlah kawasan Teheran setelah fasilitas peluncur rudal dan pusat komando militer menjadi sasaran.

Ketegangan tidak berhenti di situ. Sebuah gedung kantor pemerintah di Kuwait dilaporkan terbakar hebat setelah dihantam drone. Konflik yang telah memasuki pekan kedua ini perlahan menyeret kawasan Timur Tengah ke situasi yang semakin tidak stabil.

Pemerintah Amerika dan Israel bahkan disebut sempat mendiskusikan kemungkinan pengiriman pasukan khusus ke Iran pada tahap berikutnya perang. Tujuannya untuk mengamankan cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi di negara tersebut. Gedung Putih belum memberikan komentar resmi mengenai laporan tersebut.

Presiden Iran Minta Maaf

Di tengah eskalasi konflik, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mencoba meredakan ketegangan dengan negara-negara tetangga di Teluk. Ia menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara yang terkena dampak serangan Iran terhadap fasilitas militer Amerika di wilayah mereka.

“Saya secara pribadi meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak oleh tindakan Iran,” ujar Pezeshkian.

Ia juga meminta negara-negara tersebut tidak bergabung dalam operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Namun pernyataan itu justru memicu kritik dari kelompok garis keras di dalam negeri. Pezeshkian menolak tuntutan Trump agar Republik Islam menyerah tanpa syarat dan menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak realistis.

Ia mengatakan kepemimpinan sementara Iran telah sepakat menghentikan serangan terhadap negara tetangga selama wilayah mereka tidak digunakan sebagai basis serangan terhadap Iran. Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan militernya akan merespons dengan keras jika serangan terhadap Iran datang dari pangkalan Amerika di kawasan.

Arab Saudi dilaporkan telah memperingatkan Teheran bahwa serangan lanjutan terhadap kerajaan dan sektor energinya bisa memaksa Riyadh melakukan balasan serupa. Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab melaporkan adanya serangan drone Iran pada Sabtu hingga Ahad pagi dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda.

Media pemerintah Iran juga menyebut Garda Revolusi menargetkan pasukan Amerika di sebuah pangkalan militer di Bahrain.

Sementara di Eropa, sebuah ledakan terjadi di dekat Kedutaan Besar Amerika Serikat di Oslo, Norwegia, pada Ahad pagi. Polisi setempat mengatakan ledakan tersebut hanya menyebabkan kerusakan ringan dan tidak menimbulkan korban jiwa. Penyebabnya masih diselidiki.

Pemerintah Amerika untuk sementara menunda penerbitan peringatan keamanan nasional yang sebelumnya direncanakan terkait meningkatnya ancaman terhadap wilayah Amerika akibat konflik Iran. Namun penilaian intelijen Amerika sebelumnya telah menyebut Iran dan kelompok sekutunya kemungkinan besar memiliki kemampuan melakukan serangan terarah terhadap kepentingan Amerika.

Israel Tekan Hezbollah dan Lebanon

Perang ini juga merambat ke Lebanon. Israel memperingatkan pemerintah Lebanon agar menahan kelompok militan Hezbollah yang bersekutu dengan Iran. Israel menyatakan Lebanon akan membayar “harga yang sangat mahal” jika tidak mengendalikan kelompok tersebut.

Serangan udara Israel menghantam sejumlah basis Hezbollah, termasuk wilayah pinggiran selatan Beirut. Rekaman video menunjukkan beberapa bangunan di kawasan itu runtuh menjadi puing-puing. Sejak awal pekan, korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon dilaporkan mencapai sekitar 300 orang.

Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Amir Saeid Iravani mengatakan serangan Amerika dan Israel telah menewaskan sedikitnya 1.332 warga sipil Iran dan melukai ribuan lainnya.

Pejabat Amerika juga menyebut sebuah sekolah perempuan di Iran yang hancur kemungkinan terkena serangan militer Amerika dan menewaskan puluhan anak. Namun Trump menolak tuduhan tersebut dan mengatakan Iran sendiri yang bertanggung jawab. “Kami pikir itu dilakukan oleh Iran karena mereka sangat tidak akurat dengan persenjataan mereka. Mereka sama sekali tidak memiliki akurasi. Itu dilakukan oleh Iran,” kata Trump.

Menteri Pertahanan Amerika Pete Hegseth yang berdiri di belakang Trump mengatakan insiden tersebut masih dalam penyelidikan. Di sisi lain, serangan balasan Iran dilaporkan menewaskan 10 orang di Israel. Sedikitnya enam tentara Amerika juga tewas dan jenazah mereka dipulangkan ke pangkalan udara di Delaware.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).