KABARBURSA.COM - Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Maret 2026 tumbuh lebih tinggi.
Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono mengatakan pada Maret 2026, M2 tumbuh sebesar 9,7 persen year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Februari 2026 sebesar 8,7 persen (yoy) sehingga mencapai Rp10.355,1 triliun.
"Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,4 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 5,2 persen (yoy)," ujar dia dalam keterangannya, Kamis, 23 April 2026.
Anton menyebut perkembangan M2 pada bulan ketiga tahun ini terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan penyaluran kredit.
Ia menyampaikan, tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 39,2 persen (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Februari 2026 sebesar 25,6 persen (yoy).
"Sementara itu, penyaluran kredit pada Maret 2026 tumbuh sebesar 8,9 persen (yoy), stabil dibandingkan pertumbuhan pada Februari 2026," ungkapnya.
Di sisi lain, hasil survei perbankan BI mengindikasikan penyaluran kredit baru pada kuartal I 2026 tetap tumbuh, meski lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2025, sesuai dengan pola historisnya.
Anton mengatakan kondisi itu tecermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru sebesar 38,74 persen pada kuartal I 2026.
"Pertumbuhan kredit tersebut utamanya didorong oleh kredit konsumsi. Selanjutnya pada triwulan II 2026, penyaluran kredit baru diprakirakan meningkat dengan SBT sebesar 96,65 persen," ungkap dia.
Anton membeberkan standar penyaluran kredit perbankan pada kuartal I 2026 terindikasi lebih berhati-hati dibandingkan kuartal IV 2025. Hal ini, kata dia, tecermin dari Indeks Lending Standard (ILS) positif sebesar 0,15.
Ia menjelaskan kebijakan penyaluran kredit yang lebih berhati-hati tersebut, antara lain pada aspek jangka waktu kredit dan persyaratan administrasi.
Selanjutnya, pada kuartal II 2026, BI memperkirakan standar penyaluran kredit akan lebih longgar, dengan ILS negatif sebesar 2,88.
"Responden memprakirakan outstanding kredit sampai dengan akhir tahun 2026 terus tumbuh. Kondisi tersebut antara lain ditopang oleh prospek kondisi ekonomi dan moneter yang tetap positif serta risiko dalam penyaluran kredit yang terjaga," pungkas Anton. (*)