KABARBURSA.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta sejumlah negara ikut membantu mengamankan Selat Hormuz setelah konflik dengan Iran memicu lonjakan harga minyak dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Namun hingga kini belum ada negara yang secara tegas menyatakan kesediaannya untuk bergabung dalam upaya tersebut.
Trump sebelumnya mengambil keputusan menyerang Iran bersama Israel tanpa banyak koordinasi diplomatik dengan sekutu. Kini ketika dampak ekonomi dan geopolitik perang mulai terasa luas, pemerintah Amerika Serikat justru meminta bantuan negara lain untuk menstabilkan situasi.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur ini sehingga gangguan keamanan di kawasan tersebut langsung berdampak pada pasar energi global.
Trump mengaku telah meminta sekitar setengah lusin negara mengirim kapal perang guna membuka kembali jalur pelayaran bagi kapal tanker minyak yang melintas di kawasan tersebut. Namun hingga saat ini belum ada komitmen konkret dari negara yang dimintai bantuan.
Ia bahkan menyebut akan memanfaatkan rencana kunjungannya ke China untuk menekan Beijing agar bergabung dalam koalisi baru yang bertujuan memastikan jalur pelayaran minyak tetap berjalan.
“Kami sangat mendorong negara-negara lain yang ekonominya jauh lebih bergantung pada selat itu dibandingkan kami. Kami ingin mereka datang membantu kami menjaga selat tersebut,” kata Trump di Gedung Putih, dikutip dari AP, Selasa, 17 Maret 2026.
Trump menyebut sejumlah negara yang diharapkan ikut terlibat, antara lain Jepang, China, Korea Selatan serta beberapa negara di Eropa. Ia menilai Amerika Serikat sebenarnya tidak terlalu bergantung pada jalur itu karena memiliki pasokan minyak sendiri.
Namun respons negara-negara tersebut cenderung hati-hati. China belum memberikan komitmen jelas. Prancis menyatakan kemungkinan membantu pengawalan kapal hanya jika situasi memungkinkan. Sementara Inggris disebut kecil kemungkinan mengirim kapal perang ke kawasan tersebut.
Menurut Trump, sikap negara-negara tersebut justru memperkuat pandangannya bahwa kerja sama keamanan internasional sering kali tidak seimbang. “Saya selalu merasa itu kelemahan NATO. Kita akan melindungi mereka, tetapi saya selalu mengatakan bahwa ketika kita membutuhkan bantuan, mereka tidak akan melindungi kita,” ujarnya.
Meski begitu, Trump juga menegaskan Amerika Serikat sebenarnya tidak membutuhkan bantuan siapa pun karena menurutnya negara tersebut memiliki kekuatan militer terbesar di dunia. Tekanan dari Gedung Putih kepada negara-negara sekutu tetap berlanjut. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan negara lain seharusnya ikut membantu karena mereka juga memperoleh manfaat dari upaya Amerika Serikat menekan Iran.
“Ini bukan hanya sesuatu yang diinginkan Amerika Serikat, tetapi juga telah menjadi kesepakatan dunia Barat selama bertahun-tahun,” kata Leavitt.
Trump juga sempat memberi sinyal bahwa kunjungannya ke Beijing pada akhir Maret dapat ditunda jika China tidak menunjukkan komitmen untuk membantu menjaga keamanan jalur tersebut. China merupakan salah satu negara yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.
Namun Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mencoba meredam spekulasi tersebut. Ia mengatakan kemungkinan penundaan kunjungan ke China lebih berkaitan dengan persoalan logistik, bukan konflik terkait Selat Hormuz. “Jika pertemuan itu dijadwalkan ulang karena alasan tertentu, itu akan terjadi karena alasan logistik,” kata Bessent dalam wawancara dengan CNBC dari Paris, baru-baru ini.
Di tengah situasi tersebut, perang dengan Iran juga memicu lonjakan harga minyak dunia. Kondisi itu membuat harga bahan bakar di Amerika Serikat ikut meningkat di tengah mulai memanasnya musim pemilu paruh waktu.
Namun Bessent menilai lonjakan harga minyak tidak perlu dibesar-besarkan. “Saya tidak tahu berapa minggu situasi ini akan berlangsung, tetapi setelah semuanya selesai dunia akan menjadi lebih aman dan pasokan energi akan lebih terjamin,” ujarnya.
Sementara itu China yang juga menghadapi tekanan ekonomi baru-baru ini menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonominya pada 2026 menjadi sekitar 4,5 persen hingga 5 persen. Angka ini menjadi proyeksi pertumbuhan paling lambat sejak 1991 sehingga gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memberikan dampak jangka panjang bagi ekonomi negara tersebut.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.