KABARBURSA.COM – Perdagangan saham di Wall Street pada Jumat waktu setempat, atau Sabtu dinihari WIB, 7 Maret 2026, ditutup melemah dengan tekanan terjadi pada tiga indeks utama. Pelemaham berlangsung di tengah lonjakan harga minyak global dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan rilis data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang menunjukkan pelemahan.
Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,95 persen ke level 47.501,55. Indeks S&P 500 terkoreksi 1,33 persen ke posisi 6.740,00, sementara Nasdaq Composite melemah 1,59 persen dan berakhir di level 22.387,68.
Secara mingguan, Dow Jones mencatat penurunan terdalam sejak awal April 2025. Begitu pula dengan S&P 500 yang membukukan kinerja pekanan terburuk sejak pertengahan Oktober. Sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 mengalami pelemahan mingguan paling tajam sejak awal Agustus.
Tekanan terjadi pada berbagai kelompok saham, mulai dari emiten berkapitalisasi besar hingga saham teknologi dan perusahaan kecil.
Lonjakan Energi dan Tingkat Pengangguran
Lonjakan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang memicu volatilitas pasar. Harga minyak melonjak tajam setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu gangguan pada jalur pengiriman energi di Selat Hormuz.
Harga minyak mentah Amerika Serikat (WTI) naik lebih dari 12 persen dan bergerak di atas level USD90 per barel. Sementara itu, minyak Brent internasional menguat sekitar 8,5 persen hingga berada di kisaran USD92 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut terjadi setelah Qatar memperingatkan bahwa harga minyak global berpotensi meningkat hingga USD150 per barel jika gangguan pasokan berlanjut.
Ketidakpastian pasar juga tercermin dari lonjakan indeks volatilitas. Indeks Cboe Volatility Index (VIX), yang sering digunakan sebagai indikator kecemasan investor di Wall Street, naik 5,74 poin menjadi 29,49. Level tersebut menjadi penutupan tertinggi sejak April 2022.
Selain faktor geopolitik, pasar juga merespons data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat. Laporan pasar tenaga kerja menunjukkan tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,4 persen. Data payrolls tercatat berada di bawah ekspektasi pasar, dengan gangguan aktivitas kerja dipengaruhi pemogokan tenaga kesehatan serta kondisi cuaca musim dingin yang ekstrem.
Pergerakan Saham Individu
Pergerakan sektor di Wall Street menunjukkan dinamika yang berbeda antar industri. Indeks saham perbankan dalam S&P 500 turun 2,03 persen. Sementara itu, indeks maskapai penerbangan penumpang terkoreksi lebih dalam sebesar 4,07 persen seiring kenaikan biaya bahan bakar.
Sejumlah saham individu juga mengalami pergerakan signifikan. BlackRock turun 7,1 persen setelah perusahaan tersebut membatasi penarikan dana dari salah satu produk private credit besar. Western Alliance melemah 8,4 persen, sedangkan Jefferies anjlok 13,5 persen setelah muncul sengketa terkait pinjaman yang terhubung dengan kebangkrutan pemasok suku cadang otomotif First Brands Group.
Di sisi lain, sektor energi menjadi satu-satunya kelompok yang mencatat penguatan. Indeks saham energi dalam S&P 500 naik 0,13 persen seiring kenaikan harga minyak global.
Pergerakan aset di luar pasar saham juga menunjukkan dinamika berbeda. Harga emas sebagai aset lindung nilai menguat 1,83 persen, sementara bitcoin turun 4,30 persen pada periode yang sama.
Di tengah tekanan pasar secara keseluruhan, beberapa saham teknologi justru mencatat lonjakan signifikan. Marvell Technology menguat 18,4 persen setelah perusahaan semikonduktor tersebut memproyeksikan pendapatan fiskal 2028 berada di atas estimasi pasar.
Aktivitas perdagangan di bursa saham Amerika Serikat juga meningkat. Total volume transaksi mencapai 19,95 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata perdagangan harian dalam 20 sesi terakhir yang berada di kisaran 17,82 miliar saham.(*)