KABARBURSA.COM –Harga minyak dunia masih dalam tren kenaikan. Struktur sentimen pasar bergerak sangat cepat di tengah eskalasi geopolitik. Harga minyak tidak hanya naik, tetapi melonjak dalam ritme volatil yang menunjukkan ketegangan antara kekhawatiran pasokan dan harapan deeskalasi yang belum sepenuhnya terbentuk.
Sejak awal sesi, kenaikan harga minyak didorong dari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menegaskan kelanjutan serangan terhadap Iran. Pernyataan ini langsung diterjemahkan pasar sebagai ancaman nyata terhadap stabilitas pasokan energi global. Reaksi pasar pun terlihat instan, harga melonjak hampir tanpa jeda.
Brent ditutup di atas USD109 per barel, sementara WTI melampaui USD111 per barel. Angka ini mencatat kenaikan absolut terbesar sejak 2020. Lonjakan tersebut bukan sekadar respons teknikal, melainkan refleksi dari meningkatnya premi risiko yang kini kembali masuk ke dalam harga.
Pasar mulai memasukkan kemungkinan gangguan pasokan yang tidak lagi bersifat sementara, melainkan bisa berlangsung lebih panjang.
Dinamika Selat Hormuz
Namun di balik lonjakan tersebut, terdapat dinamika yang lebih kompleks. Harga minyak masih berada di bawah puncak USD120 yang sempat tercapai di awal konflik. Artinya, pasar belum sepenuhnya mengasumsikan skenario terburuk.
Di titik ini, harga mencerminkan kondisi “menunggu kepastian”, di mana risiko besar sudah diakui, tetapi arah akhirnya masih terbuka.
Faktor kunci yang terus menjadi pusat perhatian adalah Selat Hormuz. Jalur sempit ini menjadi nadi bagi sekitar 20 persen aliran minyak dan gas alam cair global, sehingga setiap gangguan memiliki dampak sistemik terhadap harga.
Penutupan efektif oleh Iran sejak akhir Februari menciptakan tekanan berlapis, yang tidak hanya berpengaruh pada harga energi, tetapi juga pada ekspektasi inflasi global.
Upaya Iran bersama Oman untuk menyusun mekanisme pemantauan lalu lintas menjadi satu-satunya titik terang dalam lanskap yang masih gelap. Harapan pembukaan kembali jalur ini mulai membentuk ekspektasi bahwa tekanan pasokan dapat mereda.
Namun, absennya kepastian dari sisi militer, terutama setelah pernyataan Trump, membuat pasar tetap menahan optimisme.
Pergerakan Harga WTI
Ketidakpastian ini tercermin dalam struktur harga yang tidak biasa. WTI diperdagangkan dengan premi hampir USD3 di atas Brent. Kondisi ini jarang terjadi dan menjadi yang tertinggi dalam satu tahun terakhir.
Perbedaan ini menunjukkan adanya dislokasi jangka pendek dalam distribusi dan kontrak pengiriman, sekaligus mempertegas bahwa pasar sedang berada dalam fase ketidakseimbangan.
Di sisi lain, pandangan pelaku pasar mulai terbelah antara risiko jangka pendek dan ekspektasi jangka menengah. Harga kontrak forward yang lebih rendah dibandingkan harga spot menunjukkan bahwa sebagian investor masih melihat gangguan ini sebagai fenomena temporer.
Namun, selama jalur distribusi utama belum kembali normal, tekanan pada harga tetap memiliki ruang untuk bertahan.
Faktor tambahan datang dari potensi kerusakan infrastruktur energi Iran. Kekhawatiran ini menjadi elemen penting karena dapat memperlambat pemulihan pasokan meskipun konflik mereda. Dengan kata lain, bahkan jika eskalasi berhenti, dampak terhadap suplai belum tentu langsung pulih dalam waktu singkat.
Harga Minyak Dunia Diprediksi Masih Naik
Proyeksi dari lembaga keuangan global mulai mencerminkan skenario yang lebih agresif. Citigroup menempatkan Brent pada kisaran USD95 dalam skenario dasar dan USD130 dalam skenario yang lebih tinggi.
Sementara JPMorgan membuka kemungkinan harga menembus USD150 jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga pertengahan Mei. Rentang proyeksi ini menunjukkan tingkat ketidakpastian yang masih sangat lebar.
Di sisi pasokan, respons produsen mulai terlihat, meskipun masih terbatas. Kenaikan jumlah rig di Amerika Serikat menjadi sinyal awal bahwa produsen mulai mempertimbangkan peningkatan output. Namun keputusan ekspansi produksi tetap bergantung pada keberlanjutan harga tinggi, sehingga respons ini belum bersifat agresif.
Tekanan juga datang dari faktor eksternal lain yang mempersempit ruang pasokan global. Gangguan pada infrastruktur energi Rusia akibat serangan Ukraina mengurangi kapasitas ekspor hingga sekitar 1 juta barel per hari.
Kondisi ini memperkuat tekanan yang sudah ada, menciptakan kombinasi gangguan pasokan dari dua kawasan sekaligus.
Dampak Ekonomi dan Upaya Diplomatik
Di tengah situasi tersebut, dampak ekonomi mulai terasa, terutama di Eropa. International Energy Agency mencatat bahwa efek gangguan energi mulai masuk ke aktivitas ekonomi sejak April, menandakan bahwa transmisi dari harga energi ke sektor riil sudah mulai berjalan.
Upaya diplomatik terus berlangsung, namun belum memberikan kepastian yang cukup kuat untuk mengubah arah pasar secara signifikan. Pertemuan yang melibatkan puluhan negara untuk membahas pembukaan Selat Hormuz menunjukkan urgensi global terhadap isu ini.
Di saat yang sama, potensi peningkatan produksi oleh OPEC+ masih belum dapat menggantikan peran jalur distribusi yang terganggu.
Dengan seluruh dinamika tersebut, pergerakan harga minyak saat ini tidak hanya ditentukan oleh keseimbangan supply dan demand, tetapi juga oleh kecepatan perubahan situasi geopolitik.
Selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda secara konkret dan jalur distribusi utama belum kembali normal, tekanan terhadap harga minyak masih memiliki ruang untuk bergerak naik, meskipun dengan volatilitas yang tetap tinggi di setiap fase pergerakannya.(*)