Logo
>

Yield AS Naik, Daya Tarik Aset RI Menyempit

Penyempitan spread obligasi dan penguatan dolar mempengaruhi aliran dana global ke pasar domestik.

Ditulis oleh Syahrianto
Yield AS Naik, Daya Tarik Aset RI Menyempit
Penyempitan selisih yield antara obligasi AS dan Indonesia menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor global. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – Kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) di tengah lonjakan harga energi mulai mengubah daya tarik relatif aset keuangan Indonesia. Penyempitan selisih yield antara obligasi AS dan Indonesia menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor global.

Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam riset yang diterima Kabarbursa.com, menyatakan perubahan kondisi tersebut mendorong pergeseran aliran dana global. Investor cenderung mengurangi eksposur pada pasar negara berkembang dan beralih ke aset yang dianggap lebih stabil.

“Investor global melakukan deleveraging dari emerging markets dan memindahkan dana ke aset safe haven seperti dolar Amerika Serikat dan US Treasury,” tulis Kiwoom, dikutip Rabu, 18 Maret 2026.

Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat berada di kisaran 4,27 persen. Sementara itu, yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun berada di level sekitar 6,82 persen.

Spread Menyempit, Daya Saing Aset Tertekan

Selisih imbal hasil antara kedua instrumen tersebut menjadi perhatian pelaku pasar. Penyempitan spread dinilai mengurangi daya tarik relatif aset keuangan domestik bagi investor global.

Dalam kondisi normal, selisih yield yang lebih lebar memberikan kompensasi risiko bagi investor untuk masuk ke pasar negara berkembang. Namun ketika spread menyempit, insentif tersebut menjadi berkurang.

Perubahan ini terjadi seiring meningkatnya tekanan inflasi global akibat lonjakan harga energi. Harga minyak Brent tercatat berada di kisaran USD100 setelah sebelumnya sempat mendekati USD120.

Kenaikan harga energi tersebut mempengaruhi ekspektasi kebijakan moneter global. Pasar kini memperkirakan pemangkasan suku bunga Federal Reserve atau The Fed menjadi lebih terbatas dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Di sisi lain, kondisi ini juga berdampak pada pergerakan nilai tukar. Rupiah tercatat berada di kisaran 16.978 per dolar Amerika Serikat, mendekati level psikologis 17.000.

Pergerakan ini mencerminkan peningkatan permintaan terhadap dolar di tengah ketidakpastian global. Penguatan dolar biasanya terjadi seiring meningkatnya preferensi terhadap aset safe haven.

Kiwoom mencatat bahwa kondisi ini berpotensi mempengaruhi aliran dana ke pasar domestik. Perubahan arah kebijakan global dan dinamika energi menjadi faktor utama yang diperhatikan investor.

Selain itu, tekanan eksternal juga dipengaruhi faktor domestik. Ketergantungan terhadap impor energi membuat Indonesia lebih sensitif terhadap lonjakan harga minyak global.

Di sisi fiskal, wacana pelebaran defisit anggaran di atas 3 persen turut menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi ini dinilai dapat mempengaruhi persepsi risiko terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Dalam konteks regional, sejumlah pasar Asia juga mengalami tekanan akibat kenaikan harga energi. Namun sensitivitas masing-masing negara berbeda tergantung pada ketergantungan terhadap impor energi.

Lebih lanjut, Kiwoom menyebut kombinasi faktor global dan domestik tersebut menjadi latar belakang pergerakan pasar dalam beberapa waktu terakhir.

“Pasar saat ini mencermati kombinasi tekanan global dan sensitivitas domestik,” tulis riset tersebut. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Syahrianto

Jurnalis ekonomi yang telah berkarier sejak 2019 dan memperoleh sertifikasi Wartawan Muda dari Dewan Pers pada 2021. Sejak 2024, mulai memfokuskan diri sebagai jurnalis pasar modal.

Saat ini, bertanggung jawab atas rubrik "Market Hari Ini" di Kabarbursa.com, menyajikan laporan terkini, analisis berbasis data, serta insight tentang pergerakan pasar saham di Indonesia.

Dengan lebih dari satu tahun secara khusus meliput dan menganalisis isu-isu pasar modal, secara konsisten menghasilkan tulisan premium (premium content) yang menawarkan perspektif kedua (second opinion) strategis bagi investor.

Sebagai seorang jurnalis yang berkomitmen pada akurasi, transparansi, dan kualitas informasi, saya terus mengedepankan standar tinggi dalam jurnalisme ekonomi dan pasar modal.