Logo
>

Akibat Perang! Pasar Energi Waspada, Minyak Bisa Tembus USD90

Eskalasi konflik Israel-AS vs Iran dan penutupan Selat Hormuz mendorong harga minyak dunia naik, dengan potensi menembus USD80–90 per barel.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Akibat Perang! Pasar Energi Waspada, Minyak Bisa Tembus USD90
Ilustrasi harga minyak dunia. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Peningkatan eskalasi geopolitik antara Israel-AS Vs Iran mengerek harga minyak dunia. Babak baru perang di Timur tengah ini berimbas kepada penutupan Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi jalur lintas kapal tanker pengangkut minyak ke sejumlah negara.

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memprediksi harga minyak dunia bakal meningkat dalam jangka pendek jika Israel dan AS terus mengeroyok Iran.

"Secara jangka pendek, kemungkinan harga bisa USD80-90 per barrel kemungkinan tercapai. Kalau untuk Brent kemungkinan USD90, kalau untuk Crude Oil itu 80," ujarnya saat dihubungi KabarBursa.com, Selasa, 3 Maret 2026.

Ibrahim melanjutkan, bisa saja harga minyak dunia terkerek lebih tinggi. Namun, ia memandang hal tersebut akan sulit dicapai dalam jangka pendek.

"Ada juga yang mengatakan bahwa kalau secara jangka pendek atau jangka panjang ini masih terus berlanjut, bisa di atas 100 dolar per barrel. Tapi, saya belum memandang ke situ. Karena kemarin kan sempat di atas USD70. Anggaplah harga USD76 hampir ke USD77 untuk Brent, kemudian kalau untuk Crude Oil ini lompatannya kalau enggak salah ke USD71 atau 72," ujarnya.

Ibrahim menilai, lonjakan harga minyak ini terjadi karena tensi perang yang dimulai hari Sabtu, 28 Februari 2026 atau ketika pasar sedang libur. 

"Kemudian perang berlanjut hari Minggu (1 Maret 2026), dan pada Senin (3 Maret 2026) saat pembukaan pasar, harga itu langsung lompat. Itu hal yang wajar terjadi. Nah, setelah itu stabil atau normal lagi. Bahkan hari ini pun juga saya lihat melandai," paparnya.

Menurut pengamatan Ibrahim pada sore 3 Maret 2026, harga minyak berada di level USD73 per barrel. Kemudian kalau melihat harga gasoline sudah di level 3000 mendekati 3100.

Meski demikian, ia mewanti-wanti terjadinya krisis berdasarkan acuan harga US dolar dan minyak dunia. 

"Artinya ada dua produk komoditas yang memang berhubungan dengan Selat Hormuz ini terus mengalami kenaikan secara bersamaan. Dolar pun juga menguat. Nah, ini mengindikasikan kalau seandainya dolar mengalami penguatan, harga komoditas mengalami kenaikan, ini yang jadi tanda-tanda akan jadi krisis," tegasnya.

"Biasanya kan kalau dolarnya melemah, harga-harga komoditas naik. Tetapi kalau tensi geopolitik, dolarnya menguat, harga komoditas juga menguat. Termasuk di sini untuk harga emas dunia pun juga sama, walaupun terkoreksi tetapi ada indikasi akan kembali menguat, bakal menuju ke level 600," sambung Ibrahim. 

Ia juga menambahkan, kondisi ini perlu dicermati para spekulan dan investor untuk mengambil posisi investasi long term atau jangka panjang. "Posisi long term minyak dunia berada di level USD80 sampai di level 90-an," tutup Ibrahim.

Sebagai informasi, harga minyak Brent pada 3 Maret 2026 pukil 20.33 WIB terpantau di level 83.71 atau naik 7,68 persen. Sedangkan harga minyak mentah atau crude oil tercatat di level 76.34 atau naik 7,27 persen. Di sisi lain, harga USD1 per 3 Maret 2026 mencapai Rp16.916.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.