KABARBURSA.COM - PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) terus memperkuat perannya dalam memfasilitasi pembelian saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Langkah ini sejalan dengan meningkatnya animo investor ritel, khususnya dari kalangan domestik, yang kian agresif menjajaki pasar saham.
“Kami melihat minat investor ritel terhadap IPO terus meningkat. Karena itu, kami ingin menghadirkan akses yang lebih inklusif, cepat, dan berbasis teknologi, sehingga investor dapat mengambil keputusan investasi secara lebih presisi,” ujar Chief Marketing Officer IPOT, Sergio Ticoalu, dalam keterangannya di Jakarta, Senin 6 April 2026.
Sergio memaparkan sejumlah inovasi yang diusung perseroan. Di antaranya, sistem pengembalian dana (refund) yang lebih sigap serta tampilan saham dalam portofolio bahkan sebelum hari pencatatan. Tak hanya itu. IPOT juga menghadirkan fitur indikator real-time, sebuah perangkat analitik yang memungkinkan investor mencermati dinamika harga saham IPO sejak hari pertama diperdagangkan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa investor kini dapat melakukan pemesanan saham IPO secara langsung melalui platform digital. Prosesnya terbilang ringkas namun sistematis—dimulai dari registrasi akun, pengisian dana pada Rekening Dana Nasabah (RDN), hingga pemesanan saham melalui fitur e-IPO yang telah terintegrasi.
“Fitur real-time indicator menjadi diferensiasi krusial, terutama untuk saham IPO yang belum memiliki rekam jejak historis. Dengan ini, investor dapat membaca arah pergerakan pasar sejak fase awal,” kata Sergio.
Ia menambahkan, fitur tersebut juga mempermudah investor dalam memantau status penjatahan secara langsung melalui aplikasi. Transparansi menjadi kunci. Akses informasi pun semakin terbuka.
Saat ini, salah satu emiten yang tengah memasuki masa penawaran umum adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA). Periode penawaran berlangsung pada 1 hingga 8 April 2026, dengan rencana pencatatan resmi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 April 2026.
Dalam aksi korporasi ini, WBSA menawarkan sebanyak-banyaknya 1,8 miliar saham, setara 20,75 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Potensi dana yang dapat dihimpun mencapai Rp306 miliar—sebuah angka yang mencerminkan skala ambisi ekspansi perusahaan.
Mengacu pada Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK) No. 25/2025, investor ritel kini memperoleh jaminan penjatahan minimum sebesar 10 lot per Single Investor Identification (SID) untuk emisi tertentu. WBSA sendiri termasuk dalam kategori Golongan III, yang masuk dalam skema tersebut.
Regulasi ini membuka ruang partisipasi yang lebih luas. Peluang menjadi semakin egaliter bagi investor ritel di pasar saham Indonesia.
Meski demikian, terdapat batasan yang tetap harus dicermati. Investor dibatasi melakukan pemesanan maksimal sebesar 10 persen dari total nilai IPO, atau setara Rp30,6 miliar per SID. Selain itu, ketersediaan dana menjadi syarat mutlak dalam sistem “No Funds, No Order”—sebuah mekanisme yang menegaskan disiplin dalam transaksi pasar modal.(*)