Logo
>

Aksi Borong Komisaris Belum Angkat Harga HEAL, Analis Sarankan ini

Hasmoro menambah kepemilikan saham HEAL pada harga Rp945 per saham. Namun setelah transaksi itu, harga justru terkoreksi tajam. Apakah ini sinyal bahaya atau peluang yang mulai terbuka?

Ditulis oleh Yunila Wati
Aksi Borong Komisaris Belum Angkat Harga HEAL, Analis Sarankan ini
Jika dihitung dari harga pembelian Hasmoro di Rp945 hingga penutupan Rp825 pada 5 Juni, saham HEAL telah terkoreksi sekitar 12,7 persen. (Foto: dok HEAL)

KABARBURSA.COM – Aksi Komisaris PT Medikalola Hermina Tbk (HEAL) Hasmoro, memborong 852.100 saham, belum cukup untuk menggerakan HEAL ke zona hijau. Hasmoro yang menambah kepemilikan dengan membeli saham di harga Rp945, membuatnya naik dari 4,9524 persen menjadi 4,9579 persen.

Sayangnya, dari grafik HEAL ada cerita yang cukup kontras. Harga yang saat itu berada di sekitar Rp945 terus bergerak turun dalam beberapa hari berikutnya. Dari data historis terlihat bahwa pada 2 Juni HEAL ditutup di Rp910, kemudian kembali turun ke Rp815 pada 3 Juni setelah anjlok 10,44 persen dalam sehari. 

Tekanan berlanjut pada 4 Juni dengan penurunan tipis ke Rp810 sebelum akhirnya mulai menunjukkan tanda perlawanan pada 5 Juni dengan kenaikan ke Rp825.

Jika dihitung dari harga pembelian Hasmoro di Rp945 hingga penutupan Rp825 pada 5 Juni, saham HEAL telah terkoreksi sekitar 12,7 persen. Artinya, aksi beli komisaris sejauh ini belum mampu menjadi penahan tekanan jual yang terjadi di pasar.

Sejak awal tahun, tren utama HEAL masih bergerak menurun. Harga terus membentuk pola lower high dan lower low yang merupakan ciri klasik tren bearish. Bahkan pada awal Juni, saham ini sempat menyentuh area terendah di Rp765, sebelum akhirnya memantul kembali.

Golden Cross Buka Peluang

Namun justru di tengah tekanan itulah mulai muncul sinyal yang menarik. Indikator stochastic yang menjadi dasar rekomendasi Sukadana Prima Sekuritas menunjukkan terjadinya golden cross. Dalam analisis teknikal, golden cross stochastic terjadi ketika garis %K memotong ke atas garis %D dari area jenuh jual. 

Sinyal ini sering dianggap sebagai indikasi awal bahwa momentum penurunan mulai melemah dan pembeli mulai kembali masuk ke pasar.

Yang membuat sinyal tersebut semakin menarik adalah posisinya muncul setelah koreksi yang sangat dalam. Dengan kata lain, stochastic tidak memberikan sinyal beli ketika harga sedang tinggi, tetapi justru setelah saham mengalami tekanan yang cukup panjang.

Tekanan Jual Mulai Berkurang

Data historis juga menunjukkan adanya tanda-tanda bahwa tekanan jual mulai berkurang. Pada 2 Juni, investor asing membukukan net sell Rp12,86 miliar. Sehari kemudian net sell masih besar di Rp8,61 miliar. Pada 4 Juni, tekanan asing mulai menurun menjadi Rp1,89 miliar.

Secara kumulatif, memang masih terjadi net sell asing sekitar Rp23,36 miliar dalam tiga hari perdagangan. Namun yang menarik adalah laju keluarnya dana asing mulai melambat. Ini sering menjadi salah satu indikasi bahwa fase distribusi mulai mendekati titik jenuh.

Pergerakan volume juga memberikan petunjuk yang serupa. Saat harga jatuh tajam menuju area Rp765-Rp810, volume perdagangan justru meningkat. Kondisi ini mengindikasikan adanya pertarungan yang lebih aktif antara pihak yang menjual dan pihak yang mulai melakukan akumulasi.

Entry Buy di Area ini

Karena itu, strategi yang direkomendasikan Sukadana Prima Sekuritas tidak mengarahkan investor untuk mengejar harga setelah kenaikan. Sebaliknya, mereka menyarankan area entry buy di Rp805-Rp815, tepat di sekitar area konsolidasi saat ini.

Pendekatan tersebut cukup masuk akal. Harga penutupan Rp810 pada 4 Juni berada tepat dalam zona akumulasi yang direkomendasikan. Sementara support berada di Rp795-Rp800 dan batas cut loss ditempatkan di bawah Rp790. Dengan risiko yang relatif terbatas, target kenaikan menuju Rp835 menjadi cukup menarik bagi trader jangka pendek.

Meski demikian, investor perlu memahami bahwa sinyal golden cross stochastic belum otomatis mengubah tren utama menjadi bullish. Tren besar HEAL masih cenderung menurun dan tekanan asing secara keseluruhan masih dominan. 

Oleh karena itu, strategi yang lebih tepat saat ini adalah trading jangka pendek berbasis momentum, bukan investasi agresif dengan asumsi tren naik baru telah terbentuk.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79