Logo
>

Awal Juni, DKFT Terjun 10,3 Persen: ke Mana Peluangnya?

DKFT baru saja meraih penghargaan Best of The Best kategori Small Cap berkat kinerja keuangan dan tata kelola yang dinilai unggul. Namun sahamnya justru terus melemah di tengah tekanan jual dan likuiditas yang menurun.

Ditulis oleh Yunila Wati
Awal Juni, DKFT Terjun 10,3 Persen: ke Mana Peluangnya?
DKFT baru saja menerima penghargaan Best of The Best Small Cap dalam ajang The Best Investortrust Awards 2026. (Foto: dok DKFT)

KABARBURSA.COM - PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) baru saja menerima penghargaan Best of The Best Small Cap dalam ajang The Best Investortrust Awards 2026. Penghargaan tersebut merupakan sebuah pengakuan yang diberikan atas kinerja keuangan, penerapan tata kelola perusahaan (GCG), dan efisiensi operasional.

Namun pasar saham sering kali tidak bergerak berdasarkan apa yang sudah terjadi, melainkan apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya. Itulah sebabnya penghargaan prestisius tersebut gagal menahan tekanan jual yang terjadi pada saham DKFT.

Sejak awal Juni, saham DKFT masih berada dalam tren menurun. Pada 2 Juni saham ditutup di level 680. Sehari kemudian turun 7,35 persen menjadi 630 sebelum sempat rebound tipis ke 640 pada 4 Juni. Namun pemulihan itu tidak bertahan lama. Pada 5 Juni, DKFT kembali jatuh 4,69 persen ke level 610.

Artinya, hanya dalam tiga hari perdagangan, saham ini telah kehilangan sekitar 10,3 persen nilainya dari level 680 ke 610.

Pendapatan Naik 20 Persen

Yang menarik, pelemahan tersebut terjadi ketika fundamental perusahaan justru menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan.

Pada kuartal I-2026, DKFT membukukan pendapatan Rp506 miliar, meningkat sekitar 20 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp421 miliar. Pertumbuhan laba bahkan jauh lebih impresif. Laba bersih kuartal I-2026 mencapai Rp238 miliar, melonjak sekitar 72 persen dibanding Rp138 miliar pada kuartal I-2025.

Kenaikan laba tersebut tercermin dalam EPS yang naik dari 24,45 menjadi 42,29. Jika kinerja kuartal pertama ini dapat dipertahankan, laba tahunan perusahaan berpotensi mendekati Rp954 miliar, jauh di atas realisasi 2025 sebesar Rp573 miliar.

Valuasi juga terlihat menarik. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp3,41 triliun dan laba tahunan yang diproyeksikan mendekati Rp954 miliar, pasar sebenarnya sedang memberikan valuasi yang relatif rendah dibanding pertumbuhan labanya. 

Bahkan dividend yield historisnya mendekati 10 persen, angka yang jarang ditemukan pada saham berkapitalisasi kecil.

Lalu mengapa harga justru turun? Jawabannya terlihat dari perilaku perdagangan dan struktur orderbook.

Antrean Bid Jauh di Bawah Harga Pasar

Pada orderbook terakhir, antrean beli memang jauh lebih tebal dibanding antrean jual. Total bid mencapai sekitar 54.957 lot, sedangkan offer hanya sekitar 15.863 lot. Secara teori ini menunjukkan minat beli masih lebih besar dibanding tekanan jual.

Namun ada detail yang lebih penting. Sebagian besar bid berada jauh di bawah harga pasar, yakni di area 605 hingga 570. Pembeli sepertinya masih menunggu harga yang lebih murah. Mereka tidak agresif mengejar harga naik.

Di sisi lain, antrean jual pada level 610 hingga 640 relatif tipis. Kondisi seperti ini biasanya menunjukkan pasar sedang kehilangan momentum. Penjual tidak terlalu banyak, tetapi pembeli juga belum cukup yakin untuk mendorong harga lebih tinggi.

Net Buy Asing Rp183 Juta

Data historis memberikan gambaran yang lebih jelas.

Pada 2 Juni, asing mencatat net buy Rp210 juta. Pada 3 Juni berbalik menjadi net sell Rp1,03 miliar. Kemudian pada 4 Juni kembali masuk dengan net buy Rp627 juta.

Secara kumulatif memang masih terjadi net buy asing sekitar Rp183 juta selama tiga hari perdagangan tersebut. Namun nilainya sangat kecil dibanding perubahan harga yang terjadi. Ini menunjukkan bahwa pergerakan saham DKFT saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh investor domestik dibanding investor asing.

Yang lebih mengkhawatirkan justru terlihat pada aktivitas perdagangan tanggal 5 Juni. Nilai transaksi hanya sekitar Rp600 juta dengan frekuensi transaksi 172 kali. Angka ini jauh lebih rendah dibanding perdagangan 3 dan 4 Juni yang mencapai miliaran rupiah.

Penurunan volume dan nilai transaksi ketika harga turun biasanya menjadi tanda bahwa minat pasar sedang melemah. Investor cenderung memilih menunggu daripada melakukan akumulasi agresif.

Di sinilah pandangan teknikal dari Sukadana Prima Sekuritas menjadi penting untuk diperhatikan. Meskipun fundamental DKFT terlihat menarik, strategi trading jangka pendek tetap harus berfokus pada perilaku harga dan volume.

Kondisi saat ini menunjukkan saham masih berada dalam fase koreksi setelah gagal mempertahankan rebound ke area 640. Dengan likuiditas yang menurun dan belum adanya dorongan volume besar dari pembeli, peluang pergerakan masih cenderung terbatas dalam jangka pendek.

Bagi trader, pendekatan yang lebih rasional adalah menunggu munculnya konfirmasi akumulasi melalui peningkatan volume dan kemampuan harga bertahan di atas area support terdekat. Sebab tanpa dukungan volume, perbaikan fundamental sering kali membutuhkan waktu lebih lama untuk tercermin pada harga saham.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79