KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 42,58 poin atau 0,47 persen ke level 9.117,99 pada Senin, 19 Januari 2026. Sepanjang sesi, indeks bergerak dalam rentang 9.026,00 hingga menyentuh level tertinggi 9.130,82, dengan area psikologis 9.120 dan 9.100 menjadi perhatian pelaku pasar.
Dari sisi aktivitas perdagangan, total transaksi di seluruh pasar tercatat cukup solid. Volume perdagangan mencapai 818,71 juta lot dengan nilai transaksi sebesar Rp34,37 triliun dan frekuensi 3,84 juta kali transaksi. Pada pasar reguler, volume tercatat 575,51 juta lot dengan nilai transaksi Rp26,25 triliun dan frekuensi 3,83 juta kali transaksi. Data ini menunjukkan minat transaksi masih terjaga, meski pergerakan saham berlangsung selektif.
Di tengah penguatan indeks, tekanan justru terlihat jelas pada sejumlah saham yang masuk dalam daftar peringkat terbawah. Sepuluh saham dengan kinerja terlemah pada perdagangan hari ini didominasi oleh emiten berkapitalisasi kecil hingga menengah, dengan koreksi harga yang relatif dalam dan disertai volume transaksi yang cukup signifikan.
Saham PT Mitra Investindo Tbk atau MITI menjadi salah satu yang paling tertekan. Saham ini ditutup melemah 16 poin atau setara 3,76 persen ke level 410, dengan nilai transaksi sekitar Rp2,21 miliar. Tekanan jual yang muncul mengindikasikan aksi ambil untung jangka pendek setelah pergerakan saham yang sebelumnya cukup fluktuatif.
Tekanan juga dialami PT Transkon Jaya Tbk dengan kode saham TRJA. Saham TRJA turun 7 poin atau 3,74 persen ke level 180, dengan nilai transaksi mencapai Rp614,86 juta. Pelemahan ini mencerminkan masih adanya kehati-hatian investor terhadap sektor logistik dan transportasi, terutama di tengah dinamika biaya operasional dan persaingan usaha.
Saham PT Metro Healthcare Indonesia Tbk atau CARE turut masuk dalam jajaran saham terlemah. CARE ditutup melemah 25 poin atau 3,62 persen ke level 665, dengan nilai transaksi sekitar Rp886,65 juta. Tekanan pada saham sektor kesehatan ini menunjukkan investor masih menunggu katalis lanjutan terkait ekspansi bisnis dan perbaikan kinerja keuangan.
Dari sektor konstruksi, saham PT Acset Indonusa Tbk atau ACST juga mengalami koreksi. ACST turun 6 poin atau 3,59 persen ke level 161, dengan nilai transaksi tercatat Rp9,64 miliar. Pelemahan ini terjadi seiring sentimen pasar yang masih mencermati prospek proyek infrastruktur dan arus kas emiten konstruksi.
Saham PT Temas Tbk dengan kode TMAS juga tercatat melemah 6 poin atau 3,55 persen ke level 163. Nilai transaksi saham ini mencapai Rp4,14 miliar. Tekanan pada TMAS sejalan dengan pergerakan sektor pelayaran dan logistik yang masih bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian permintaan.
PT Bumi Benowo Sukses Sejahtera Tbk atau BBSS tidak luput dari tekanan jual. Saham BBSS turun 16 poin atau 3,51 persen ke level 440, dengan nilai transaksi sekitar Rp2,54 miliar. Koreksi ini menunjukkan minat beli yang masih terbatas pada saham-saham sektor pengelolaan limbah dan energi alternatif.
Saham PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk atau RISE mencatatkan penurunan cukup tajam secara nominal. RISE turun 350 poin atau 3,48 persen ke level 9.700, dengan nilai transaksi sebesar Rp11,28 miliar. Pergerakan ini menandakan adanya aksi distribusi pada saham dengan harga relatif tinggi.
Dari sektor media, saham PT Global Mediacom Tbk atau BMTR ditutup melemah 6 poin atau 3,47 persen ke level 167. Nilai transaksi BMTR tercatat Rp9,28 miliar. Tekanan pada saham media ini mencerminkan sikap wait and see investor terhadap prospek belanja iklan dan transformasi digital.
Saham PT Lupromax Pelumas Indonesia Tbk atau LMAX juga masuk daftar saham terbawah. LMAX turun 7 poin atau 3,40 persen ke level 199, dengan nilai transaksi sekitar Rp805,72 juta. Pelemahan ini terjadi di tengah minimnya sentimen baru yang mendorong minat beli investor.
Sementara itu, saham PT Pelat Timah Nusantara Tbk dengan kode NIKL ditutup melemah 14 poin atau 3,30 persen ke level 410. Nilai transaksi saham ini tercatat Rp1,84 miliar. Tekanan pada NIKL sejalan dengan pergerakan saham sektor logam yang masih sensitif terhadap dinamika harga komoditas global.
Secara keseluruhan, penguatan IHSG hari ini menunjukkan pasar masih memiliki daya tahan yang cukup baik, meski tekanan jual pada sejumlah saham tetap terjadi. (*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.