KABARBURSA.COM – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatatkan kinerja kuartal I-2026 yang cukup berat. Laba bersih emiten telekomunikasi pelat merah ini turun 22 persen secara tahunan menjadi sekitar Rp4,3 triliun dan hasilnya berada jauh di bawah ekspektasi pasar.
Dalam beberapa pekan terakhir, saham TLKM juga mengalami tekanan jual asing dengan akumulasi net foreign sell besar di pasar reguler.
Sejak 20 Mei hingga 2 Juni 2026, asing konsisten keluar dari TLKM. Bahkan pada 22 Mei tercatat net foreign sell mencapai Rp152,17 miliar. Lalu, kembali terjadi distribusi sebesar Rp134,66 miliar pada 21 Mei dan Rp104,43 miliar pada 29 Mei.
Harga saham TLKM pun ikut tertekan. Saham ini turun dari area 3.100 pada 20 Mei menjadi 2.910 pada penutupan 3 Juni 2026.
Secara historis, tekanan asing di TLKM sebenarnya bukan semata karena laba bersih turun. Pasar membaca adanya pelemahan kualitas pertumbuhan laba dan kenaikan biaya operasional yang lebih agresif dibanding pertumbuhan pendapatan.
IPOT Turunkan Target Harga
Indo Premier Sekuritas (IPOT) menyebut, kinerja TLKM di kuartal I-2026 tergolong soft quarter. EBITDA TLKM tercatat Rp17,97 triliun atau turun 1,4 persen secara tahunan, sementara pertumbuhan pendapatan hanya 1,5 persen.
Di sisi lain, beban operasional naik 5,5 persen secara tahunan. Kenaikan biaya itu dipicu ekspansi bisnis dengan margin lebih rendah, seperti voucher gim dan peningkatan biaya perangkat pelanggan atau consumer premises equipment (CPE) senilai Rp325 miliar.
IPOT juga menyoroti laba inti TLKM yang turun cukup dalam. Core net profit tercatat Rp4,5 triliun, turun 18 persen secara tahunan dan berada di bawah estimasi pasar.
“Kuartal ini tergolong lemah terutama akibat kenaikan opex dan ekspansi bisnis margin rendah,” tulis IPOT dalam risetnya.
Meski demikian, IPOT masih mempertahankan rekomendasi BUY untuk TLKM. Namun target harga diturunkan setelah memangkas proyeksi EBITDA 2026-2028 sekitar 4–5 persen.
Menurut IPOT, tekanan masih akan muncul karena restrukturisasi bisnis B2B ICT dan ekspansi bisnis baru yang margin-nya lebih tipis. Tetapi dividen dinilai masih menarik dengan estimasi yield 5–7 persen.
Stockbit: Dividen Jaga Peluang TLKM
Stockbit Sekuritas juga menilai hasil kuartal I-2026 berada di bawah ekspektasi. Laba bersih TLKM hanya setara 19 persen dari estimasi laba sepanjang 2026, jauh lebih rendah dibanding kontribusi kuartal I-2025 terhadap laba tahunan sebelumnya yang mencapai 31 persen.
Stockbit menilai pelemahan utama berasal dari kontraksi margin EBITDA menjadi 48,3 persen dari sebelumnya 49,8 persen pada kuartal I-2025.
Kenaikan beban operasi, maintenance, dan telekomunikasi melonjak 15 persen secara tahunan. Hal itu dipicu kenaikan aktivitas jaringan, biaya leased line, dan biaya layanan digital.
Meski begitu, manajemen TLKM masih optimistis mencapai target tahunan 2026. Pendapatan kuartal I masih tumbuh sekitar 2 persen secara tahunan dan berada dalam rentang guidance tahunan sebesar 1–3 persen.
Fokus utama TLKM saat ini mulai bergeser ke kualitas pelanggan dibanding sekadar jumlah pelanggan.
Jumlah pelanggan Telkomsel turun menjadi 153,7 juta atau turun 3,2 persen secara tahunan. Namun ARPU atau rata-rata pendapatan per pengguna masih naik menjadi Rp45,1 ribu.
Manajemen menyebut lebih dari 90 persen pelanggan saat ini merupakan pelanggan jangka panjang dengan masa berlangganan lebih dari 12 bulan. Strategi ini dilakukan untuk menjaga kualitas monetisasi di tengah kompetisi industri yang semakin ketat.
IPOT memperkirakan ARPU TLKM masih bisa naik menjadi Rp46,3 ribu sepanjang 2026. Namun pasar tetap berhati-hati karena kondisi makroekonomi masih lemah dan berpotensi memengaruhi daya beli pelanggan.
Selain tekanan operasional, pasar juga menyoroti proses streamlining bisnis TLKM. Perseroan tengah melakukan perampingan sejumlah anak usaha dan membuka peluang value unlocking dari bisnis data center serta fiber.
TLKM disebut sedang dalam tahap lanjut untuk melepas sekitar 46 persen saham bisnis data center kepada investor strategis. Transaksi itu ditargetkan selesai sebelum akhir 2026.
Stockbit menilai langkah ini berpotensi menjadi katalis penting ke depan. Apalagi TLKM juga masih menjaga peluang pembagian dividen yang atraktif dalam RUPS pada 8 Juni 2026.
Area 2.900 Diuji Pasar
Namun untuk jangka pendek, tekanan asing masih menjadi perhatian utama pasar. Struktur perdagangan beberapa pekan terakhir menunjukkan investor institusi asing masih cenderung melakukan distribusi di area 3.000–3.100.
Area 2.900 kini menjadi level penting yang mulai diuji pasar. Jika tekanan asing berlanjut dan level ini gagal bertahan, pasar mulai membuka ruang pelemahan lebih dalam.
Sebaliknya, apabila distribusi asing mulai mereda dan TLKM mampu kembali bertahan di atas 3.000, perhatian pasar akan mulai bergeser ke potensi dividend yield dan proses monetisasi aset yang sedang berjalan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.