KABARBURSA.COM – Salah satu strategi investasi Wall Street yang banyak dipantau resmi menghapus Bitcoin dari portofolionya.
Dilansir BeInCrypto, Kepala Strategi Ekuitas Global Jefferies memindahkan alokasi Bitcoin ke emas fisik dan saham tambang emas, dengan alasan kekhawatiran jangka panjang atas keamanan dan komputasi kuantum.
Keputusan tersebut bukan didorong oleh volatilitas harga jangka pendek. Wood justru menyoroti keraguan terhadap daya tahan Bitcoin dalam jangka panjang, terutama terkait isu keamanan struktural yang berpotensi muncul seiring perkembangan teknologi komputasi kuantum.
Dalam portofolio model Jefferies, Wood memangkas alokasi Bitcoin sebesar 10 persen. Porsi tersebut kemudian dialihkan secara merata ke emas fisik dan saham perusahaan pertambangan emas. Kebijakan ini dijelaskan dalam edisi terbaru buletin Greed & Fear, yang secara rutin menjadi rujukan investor institusional global.
“Ancaman komputasi kuantum yang dahulu terasa jauh sekarang membuat salah satu analis pasar yang paling diperhatikan memutuskan untuk meninggalkan Bitcoin,” lapor Bloomberg mengutip pernyataan Wood dalam buletin tersebut, seraya menyoroti bagaimana risiko yang sebelumnya bersifat teoretis mulai diperhitungkan dalam konstruksi portofolio utama.
Langkah ini tergolong signifikan mengingat Wood merupakan salah satu pendukung institusional awal Bitcoin. Ia pertama kali memasukkan aset kripto tersebut ke dalam portofolio modelnya pada Desember 2020, di tengah kebijakan stimulus besar-besaran era pandemi dan kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang. Pada 2021, eksposur tersebut bahkan ditingkatkan hingga 10 persen.
Sejak penambahan awal itu, harga Bitcoin tercatat telah naik sekitar 325 persen, sementara emas menguat sekitar 145 persen. Meski demikian, Wood menegaskan bahwa kinerja historis tidak lagi menjadi pertimbangan utama dalam keputusannya saat ini.
Menurut Wood, kemajuan komputasi kuantum telah melemahkan argumen Bitcoin sebagai penyimpan nilai jangka panjang, terutama bagi investor dengan horizon panjang seperti dana pensiun.
Ia menilai potensi ancaman terhadap sistem kriptografi Bitcoin kini semakin relevan untuk diperhitungkan.
“Ada kekhawatiran yang semakin besar di komunitas Bitcoin bahwa komputasi kuantum mungkin hanya tinggal beberapa tahun lagi, bukan satu dekade atau lebih,” tulis Wood.
Keamanan Bitcoin saat ini bergantung pada sistem kriptografi yang membuat komputer konvensional nyaris mustahil menurunkan private key dari public key. Namun, kehadiran cryptographically relevant quantum computers dinilai berpotensi mengubah keseimbangan tersebut, dengan risiko penyerang mampu merekonstruksi private key dalam hitungan jam atau hari.
Isu ini juga memunculkan perdebatan terkait tata kelola jaringan. Nic Carter, Partner di Castle Island Ventures, sebelumnya menyoroti ketegangan antara pengelola modal dan pengembang blockchain dalam menghadapi skenario pasca-kuantum.
Sejumlah solusi yang diusulkan, seperti membakar koin yang rentan atau memaksa migrasi ke kriptografi pasca-kuantum, memunculkan pertanyaan terkait hak kepemilikan dan perubahan aturan jaringan.
Jefferies mencatat bahwa meski Bitcoin pernah mengalami fork di masa lalu, langkah yang melibatkan pembatalan atau penyitaan koin berpotensi merusak prinsip dasar yang menopang kepercayaan terhadap jaringan tersebut.
Laporan itu juga menyoroti bahwa sebagian besar suplai Bitcoin berpotensi terdampak dalam skenario kuantum, termasuk koin era Satoshi di alamat Pay-to-Public-Key, koin yang hilang, serta alamat yang digunakan berulang kali dalam banyak transaksi, dengan total mencapai jutaan BTC.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh Coinbase. Kepala Riset Investasi Coinbase, David Duong, menyatakan bahwa komputasi kuantum membawa risiko jangka panjang, tidak hanya terhadap keamanan private key, tetapi juga terhadap model ekonomi dan keamanan jaringan Bitcoin.
Meski teknologi saat ini belum mampu membobol sistem Bitcoin, Duong memperkirakan sekitar 6,5 juta BTC berpotensi rentan terhadap serangan kuantum dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Wood menilai ketidakpastian teknologi dan tata kelola tersebut justru memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai jangka panjang, mengacu pada rekam jejak emas yang dinilai bebas dari risiko teknologi.
Perubahan sikap ini mencerminkan dinamika baru dalam cara pandang institusional terhadap Bitcoin. Pendiri dan Chief Investment Officer Cyber Capital, Justin Bons, sebelumnya menyatakan Bitcoin berpotensi menghadapi tekanan serius setelah 2033, seiring menyusutnya subsidi miner pasca-halving dan rendahnya biaya transaksi.
Bons menilai kondisi tersebut dapat membuka peluang serangan 51 persen dengan biaya relatif rendah, yang berpotensi memicu risiko double-spend di exchange bernilai besar. (*)