Logo
>

Barclays Revisi Harga Minyak 2026, ini Alasannya

Barclays menaikkan proyeksi harga minyak Brent akibat gangguan Selat Hormuz, dengan risiko kenaikan hingga USD110 per barel.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Barclays Revisi Harga Minyak 2026, ini Alasannya
Ilustrasi Barclays menaikkan proyeksi harga minyak Brent untuk 2026. Foto: dok KabarBursa.com

Poin Penting :

KABARBURSA.COM – Ketegangan yang belum mereda di Selat Hormuz mendorong Barclays menaikkan proyeksi harga minyak Brent untuk 2026 menjadi USD100 per barel dari sebelumnya USD85 per barel.

Melansir Reuters, 1 Mei 2026, upaya yang dilakukan Barclays tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggapan dari menyusutnya arus minyak melalui jalur utama tersebut serta percepatan penarikan stok global.

Bank tersebut memperkirakan pasar menghadapi defisit pasokan sekitar 6,6 juta barel per hari. Dalam skenario gangguan berkepanjangan, harga Brent bahkan berpotensi bergerak ke USD110 per barel.

“Semakin lama kondisi ini berlangsung, semakin besar dan semakin menetap dampak kenaikan harga yang terjadi,” tulis Barclays dalam laporannya, 1 Mei 2026.

Sementara itu, Trading Economics pada Minggu, 3 Mei 2026 melaporkan, harga minyak masih bertahan tinggi meski mengalami koreksi jangka pendek.

Brent turun ke USD108,17 per barel pada Jumat, 1 Mei 2026, melemah 2,02 persen dari hari sebelumnya, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun ke USD101,94 per barel, terkoreksi 2,98 persen.

Secara bulanan, Brent turun tipis 0,79 persen, namun masih melonjak 76,49 persen dibandingkan setahun sebelumnya. WTI juga terkoreksi 8,61 persen dalam sebulan, tetapi tetap naik 74,88 persen secara tahunan. Pergerakan ini menunjukkan tekanan harga masih bersifat struktural di tengah gangguan pasokan.

Revisi proyeksi Barclays mencerminkan perubahan persepsi pasar terhadap krisis Selat Hormuz. Bank tersebut menilai gangguan distribusi tidak lagi bersifat sementara, melainkan berpotensi berlangsung lebih lama seiring terbatasnya arus minyak dan percepatan penarikan stok global. Risiko harga pun dinilai tetap condong ke arah kenaikan selama jalur ekspor dari kawasan Teluk belum sepenuhnya pulih.

Selat Hormuz sendiri tetap menjadi titik krusial dalam rantai pasok energi global. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi jalur ini pada 2024, setara dengan sekitar 20 persen konsumsi petroleum liquids dunia.

IEA mencatat, volume tersebut juga mewakili sekitar 25 persen perdagangan minyak laut global, dengan sekitar 80 persen pasokan mengalir ke Asia. Dengan struktur tersebut, gangguan di Hormuz secara langsung menekan distribusi energi ke kawasan Asia.

Dampak ke Indonesia

Bagi Indonesia, dampak utama muncul pada sisi fiskal dan impor energi. Reuters melaporkan pemerintah mengalokasikan Rp381,3 triliun atau sekitar USD22,4–22,5 miliar untuk subsidi energi dan kompensasi kepada Pertamina serta PLN pada 2026.

Anggaran ini disusun dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia sebesar USD70 per barel dan kurs Rp16.500 per dolar AS yang jauh di bawah harga pasar saat ini.

Bahkan, tambahan kebutuhan subsidi akibat eskalasi konflik Iran diperkirakan bisa mencapai USD5,9 miliar. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga minyak global berpotensi lebih dahulu membebani APBN sebelum berdampak langsung ke konsumen.

Harga BBM domestik hingga awal Mei masih relatif stabil. Per Jumat, 1 Mei 2026, Pertalite berada di kisaran Rp10.000 per liter, Biosolar Rp6.800 per liter, dan Pertamax sekitar Rp12.300 per liter di wilayah utama. Kebijakan penahanan harga ini membuat tekanan eksternal dialihkan ke fiskal, bukan langsung ke harga ritel.

Di sisi struktural, posisi Indonesia sebagai importir minyak memperbesar dampak kenaikan harga global. Data EIA mencatat impor minyak mentah dan kondensat Indonesia mencapai sekitar 354.000 barel per hari pada 2024, dengan tren meningkat sejak 2021.

Reuters juga menyebut Pertamina masih mengandalkan impor untuk menjaga pasokan energi domestik. Dengan kondisi ini, kenaikan harga minyak global secara langsung meningkatkan biaya impor, menekan neraca perdagangan migas, dan memperbesar kebutuhan kompensasi jika harga domestik ditahan.

Ke depan, proyeksi harga minyak menunjukkan tren yang sama—condong naik, meski dengan besaran berbeda. Barclays menempatkan Brent 2026 di USD100 per barel.

Goldman Sachs memperkirakan Brent berada di USD90 per barel pada kuartal IV 2026 dan WTI di USD83 per barel. Sementara Citi memproyeksikan Brent di USD110 per barel pada kuartal II 2026, turun ke USD95 pada kuartal III dan USD80 pada kuartal IV, dengan skenario ekstrem hingga USD150 per barel jika gangguan berlanjut.

Sementara itu, World Bank memperkirakan rata-rata Brent 2026 di USD86 per barel, dengan risiko naik ke kisaran USD95–115 per barel.

Perbedaan proyeksi ini menegaskan satu hal: pasar belum menemukan titik keseimbangan baru, namun sepakat bahwa risiko harga minyak masih bergerak ke atas selama krisis Selat Hormuz belum mereda.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.