KABARBURSA.COM - Pergerakan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dalam beberapa bulan terakhir membentuk satu pola yang cukup jelas, yakni fase distribusi yang berlangsung bertahap sejak awal tahun.
Data bulanan menunjukkan harga sempat berada di level 5.275 pada Februari setelah naik 9,44 persen, namun langsung berbalik turun tajam pada Maret sebesar 10,52 persen ke 4.720 dan kembali melemah ke 4.670 pada awal April.
Jika ditarik lebih dalam, perubahan arah ini berjalan seiring dengan pergerakan dana asing. Pada Februari, saat harga menguat, asing justru mencatatkan net buy sebesar Rp2,77 triliun. Namun setelah itu, arus berbalik cukup agresif.
Pada Maret, asing mencatatkan net sell Rp1,25 triliun, dan tekanan ini berlanjut di April dengan net sell Rp1,10 triliun. Bahkan jika ditarik ke Januari, tekanan sudah mulai terlihat dengan net sell Rp4,15 triliun.
Artinya, fase distribusi asing sudah berlangsung sejak awal tahun dan menjadi latar utama pelemahan harga.
Masuk Technical Rebound
Masuk ke time frame harian, pola yang sama masih terlihat, tetapi dengan intensitas yang mulai mereda. Pada 7 April, asing masih mencatatkan net sell Rp371,50 miliar, diikuti 6 April Rp148,96 miliar dan 2 April Rp205,43 miliar.
Namun pada 8 April, data menunjukkan belum adanya tekanan lanjutan dari asing, sementara harga justru menguat 3,33 persen ke level 4.660.
Pergerakan ini terjadi dalam struktur teknikal yang menarik. Harga saat ini sudah berada di atas MA5 di kisaran 4.632, tetapi masih berada di bawah MA10 (4.715), MA20 (4.799), hingga MA50 (4.938).
Ini menempatkan BMRI dalam kondisi awal pembalikan jangka pendek, tetapi belum mengubah tren menengah yang masih berada dalam tekanan.
Dari sisi level teknikal, pivot point berada di 4.540. Selama harga bertahan di atas level ini, area 4.580 hingga 4.650 menjadi zona uji berikutnya.
Sementara, pada perdagangan hari ini, harga sudah mendekati area 4.650 yang merupakan resistance penting. Jika mampu bertahan dan menembus area ini, ruang pergerakan berikutnya mengarah ke 4.690.
Namun jika dilihat dari struktur historis, area 4.700 ke atas merupakan zona yang sebelumnya menjadi titik distribusi. Hal ini terlihat dari data Maret, di mana harga sempat berada di kisaran 5.125–5.175 sebelum mengalami tekanan jual yang cukup besar. Artinya, setiap kenaikan menuju area tersebut berpotensi kembali bertemu dengan supply.
Aktivitas Perdagangan Menurun
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume pada 8 April tercatat 1,29 juta lot dengan frekuensi 19,67 ribu kali. Angka ini lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai 1,91 juta lot dan frekuensi 41,11 ribu kali.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga belum disertai lonjakan partisipasi yang besar, sehingga dorongan naik masih berada dalam fase awal.
Jika seluruh data ditarik dalam satu garis, BMRI saat ini berada dalam fase transisi. Tekanan jual asing yang mendominasi sejak awal tahun mulai mereda, sementara harga mencoba bertahan di atas support jangka pendek.
Namun secara struktur tren, harga masih berada di bawah mayoritas moving average, yang menandakan bahwa perubahan arah belum sepenuhnya terkonfirmasi.
Dalam kondisi seperti ini, pergerakan BMRI belum menunjukkan dominasi arah yang kuat. Kenaikan yang terjadi lebih mencerminkan fase technical rebound setelah tekanan panjang. Sementara, area atas masih menyimpan lapisan supply yang sebelumnya terbentuk saat fase distribusi berlangsung.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.