Logo
>

Bitcoin Limbung, Dana Asing Keluar USD1 Miliar

Arus keluar dana institusional, tensi geopolitik Greenland, dan goyahnya harapan regulasi AS menekan Bitcoin, membuat aset kripto ini kembali diperlakukan pasar sebagai instrumen berisiko tinggi.

Ditulis oleh Yunila Wati
Bitcoin Limbung, Dana Asing Keluar USD1 Miliar
Bitcoin memulai perdagangan hari ini dengan jatuh 0,35 persen. Foto: Unsplash/Kanchanara.

KABARBURSA.COM – Perdagangan Bitcoin global Kembali berada dalam fase rapuh. Sejak Jumat pagi, 23 Januari 2026, Bitcoin, baik di pasar internasional maupun domestik, mengalami penurunan tajam. Pasar memilih mundur usai dana asing mengalir keluar dengan deras.

Harga Bitcoin global bergerak di kisaran USD89.703, turun 0,35 persen secara harian, dengan tekanan yang sudah terasa sejak awal sesi. Harga sempat dibuka di USD90.016, namun gagal mempertahankan level tersebut dan turun mendekati area terendah harian di USD88.408. 

Pelemahan yang sama tercermin di pasar domestik. Harga BTC/IDR tercatat di sekitar Rp1,51 miliar, terkoreksi 0,88 persen dari hari sebelumnya. Penurunan di pasar rupiah relatif lebih dalam dibanding pasar dolar dan pergerakan ini memperpanjang koreksi Bitcoin dalam sepekan terakhir, yang secara global sudah mencapai sekitar 7,5 persen.

Sentimen utama yang membebani Bitcoin kali ini datang dari arus dana institusional. Investor menarik hampir USD1 miliar dari ETF kripto berbasis spot dalam satu hari perdagangan. Arus keluar terbesar terjadi pada ETF Bitcoin spot di AS sebesar USD709 juta, disusul ETF Ethereum spot yang kehilangan USD287 juta. 

Ini menjadi arus keluar harian terbesar sejak November, sekaligus sinyal bahwa investor besar memilih mengurangi eksposur risiko di tengah ketidakpastian global. 

Konflik Geopolitik Greenland

Pemicu awalnya berasal dari faktor geopolitik. Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait “kerangka kesepakatan” mengenai Greenland sempat memicu gejolak pasar. Meski kemudian Trump melunakkan sikapnya, ketidakpastian terlanjur menekan aset berisiko. 

Pasar sempat memantul setelah pernyataan tersebut, namun bagi kripto, rebound itu tidak cukup kuat untuk menghapus tekanan jual yang sudah terbentuk sebelumnya.

Fenomena ini kembali menegaskan karakter Bitcoin saat ini di mata investor global. Alih-alih diperlakukan sebagai aset lindung nilai, Bitcoin justru bergerak layaknya aset high-beta yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen makro, mirip dengan saham teknologi. 

Penurunan tajam dalam sepekan terakhir memperlihatkan bahwa narasi “digital gold” belum sepenuhnya dipercaya pasar. Saat risiko global meningkat, Bitcoin justru menjadi salah satu aset pertama yang dilepas, bukan tempat berlindung.

Coinbase Tarik Dukungan

Tekanan juga datang dari sisi struktural pasar kripto. Harapan terhadap regulasi kripto di AS kembali terguncang setelah Coinbase menarik dukungannya terhadap rancangan undang-undang struktur pasar kripto. 

Langkah ini menambah lapisan pesimisme, karena sebelumnya pasar sempat memupuk optimisme bahwa regulasi yang lebih jelas akan menjadi katalis positif jangka pendek. Mundurnya salah satu pemain utama industri dari dukungan regulasi membuat sebagian pelaku pasar memilih bersikap defensif.

Di tengah tekanan pada Bitcoin, Ethereum juga belum mampu keluar dari bayang-bayang koreksi. Secara global, ETH telah turun sekitar 12 persen dalam sepekan, dan di pasar IDR, pergerakannya cenderung stagnan hingga melemah tipis. 

Harga ETH/IDR berada di kisaran Rp49,8 juta, dengan pergerakan yang sempit, mencerminkan minat beli yang masih terbatas.

Menariknya, tidak semua altcoin bergerak searah. Di pasar rupiah, Dogecoin (DOGE/IDR) justru mencatat kenaikan mendekati 0,9 persen, sementara Cardano (ADA/IDR) menguat sekitar 0,3 persen. Pergerakan ini menunjukkan adanya rotasi jangka pendek ke koin tertentu yang dianggap lebih spekulatif atau memiliki katalis komunitas tersendiri. 

Namun kenaikan ini masih bersifat terbatas dan belum cukup kuat untuk mengubah nada pasar kripto secara keseluruhan. Litecoin (LTC/IDR) cenderung datar hingga melemah tipis, menegaskan bahwa minat risiko masih selektif.

Secara keseluruhan, pelemahan Bitcoin kali ini bukan dipicu oleh satu faktor tunggal, melainkan akumulasi dari arus keluar dana institusional, ketidakpastian geopolitik, kekecewaan terhadap progres regulasi, dan perubahan perilaku investor yang semakin memperlakukan Bitcoin sebagai aset berisiko tinggi. 

Selama faktor-faktor tersebut belum mereda, pergerakan Bitcoin—baik di pasar global maupun dalam denominasi rupiah—masih akan sangat sensitif terhadap setiap perubahan sentimen makro dan kebijakan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79