KABARBURSA.COM – Pasar kripto kembali memasuki fase tekanan pada perdagangan Kamis pagi, 4 Juni 2026. Berdasarkan pantauan CoinMarketCap pukul 07.50 WIB, Bitcoin (BTC) turun 5,48 persen dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan di level USD63.229 atau sekitar Rp1,07 miliar per koin.
Pelemahan Bitcoin terjadi di tengah koreksi yang melanda hampir seluruh aset kripto utama dunia. Kapitalisasi pasar kripto global tercatat turun 4,29 persen menjadi USD2,21 triliun atau setara sekitar Rp37.349 triliun.
Penurunan tersebut memperlihatkan tekanan jual tidak hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga menjalar ke berbagai aset digital berkapitalisasi besar lainnya.
Ethereum (ETH), aset kripto terbesar kedua dunia, tercatat turun 4,05 persen ke level USD1.790. Sementara Binance Coin (BNB) terkoreksi lebih dalam sebesar 6,04 persen ke posisi USD614.Tekanan juga terlihat pada Solana (SOL) yang melemah 5,66 persen dalam sehari terakhir. XRP turun 2,71 persen, sedangkan Dogecoin (DOGE) terkoreksi 2,97 persen.
Di antara aset berkapitalisasi besar, hanya sedikit yang mampu bertahan di zona hijau. Hyperliquid (HYPE) justru mencatat kenaikan 5 persen dan menjadi salah satu pengecualian di tengah gelombang pelemahan pasar.
Sentimen pasar juga tercermin dari indikator Fear and Greed Index CoinMarketCap yang berada di level 20 dari 100. Posisi tersebut menunjukkan pasar sedang berada dalam kategori ketakutan ekstrem atau extreme fear, sebuah kondisi yang biasanya muncul ketika investor memilih mengurangi risiko dan cenderung menahan diri dari pembelian aset berisiko.
Sementara itu, indeks CMC20 yang merepresentasikan pergerakan aset-aset kripto terbesar dunia turun 5,07 persen ke level 130,75. Koreksi ini mengindikasikan pelemahan yang relatif merata di pasar aset digital.
Secara struktur pasar, dominasi Bitcoin masih sangat kuat. Dengan kapitalisasi mencapai USD1,27 triliun, Bitcoin menguasai lebih dari separuh nilai pasar kripto global. Ethereum berada di posisi kedua dengan kapitalisasi USD216,24 miliar, disusul Tether (USDT) sebesar USD187,28 miliar dan BNB sebesar USD82,8 miliar.
Tekanan yang terjadi saat ini sejalan dengan meningkatnya arus keluar dana dari produk ETF Bitcoin serta menurunnya minat investor institusional terhadap aset berisiko dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah laporan pasar global juga mencatat keluarnya miliaran dolar dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat, sementara investor mulai mengalihkan perhatian ke aset lain seperti saham teknologi berbasis kecerdasan buatan atau AI.
Di saat yang sama, Bitcoin juga masih dibayangi sentimen negatif akibat meningkatnya aksi ambil untung setelah reli besar yang terjadi sebelumnya. Beberapa analis pasar memperingatkan bahwa arus keluar ETF dan melemahnya permintaan institusional dapat membuat volatilitas Bitcoin tetap tinggi dalam jangka pendek.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar mulai melihat kondisi extreme fear sebagai indikasi bahwa pasar mendekati fase jenuh jual. Sejumlah indikator teknikal menunjukkan Bitcoin telah memasuki area oversold, meski arah pemulihan masih memerlukan konfirmasi dari masuknya kembali arus modal dan membaiknya sentimen risiko global.
Dana Institusi Keluar
Tekanan yang membayangi harga Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir ternyata tidak hanya berasal dari sentimen geopolitik global atau aksi ambil untung investor ritel. Di balik pelemahan harga, terdapat sinyal yang lebih penting, yakni mulai keluarnya dana institusi dari pasar aset kripto melalui instrumen ETF Bitcoin Spot di Amerika Serikat.
Data menunjukkan ETF Bitcoin Spot AS mencatat arus keluar (outflow) sekitar USD2,8 miliar atau setara Rp47,3 triliun dalam sembilan sesi perdagangan berturut-turut hingga akhir Mei 2026. Periode tersebut menjadi gelombang outflow terpanjang sejak ETF Bitcoin Spot pertama kali diluncurkan.
Bagi pasar, fenomena ini memiliki arti yang jauh lebih besar dibanding sekadar koreksi harga harian. ETF Spot selama ini menjadi pintu masuk utama investor institusi seperti manajer investasi, dana pensiun, hingga hedge fund untuk memperoleh eksposur terhadap Bitcoin. Ketika dana justru mengalir keluar, pasar membaca bahwa investor besar sedang mengurangi porsi aset berisiko di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Tekanan tersebut kemudian diperparah oleh gelombang likuidasi besar-besaran di pasar derivatif kripto. Saat Bitcoin menembus area psikologis USD70.000, sistem perdagangan otomatis mulai menutup paksa posisi investor yang menggunakan leverage tinggi.
Akibatnya, dalam kurun 24 jam, nilai likuidasi pasar kripto mencapai sekitar USD744 juta hingga mendekati USD800 juta atau sekitar Rp13,4 triliun. Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa koreksi yang terjadi bukan lagi sekadar aksi jual biasa, melainkan telah berkembang menjadi forced selling yang mempercepat penurunan harga.
Situasi ini menciptakan efek berantai. Ketika harga turun, posisi leverage ditutup paksa. Penutupan paksa itu memicu penjualan tambahan yang kembali menekan harga lebih dalam. Siklus tersebut membuat volatilitas Bitcoin meningkat tajam dalam waktu singkat.
Dari sisi teknikal, pelaku pasar kini memusatkan perhatian pada area USD70.000 sebagai level pertahanan utama. Jika level tersebut gagal dipertahankan secara konsisten, ruang penurunan berikutnya terbuka menuju kisaran USD65.000 hingga USD60.000 atau sekitar Rp1,01 miliar per koin.
Sebaliknya, untuk mengembalikan sentimen bullish, Bitcoin perlu kembali menembus area resistensi kuat di rentang USD78.000 hingga USD82.000. Level tersebut menjadi batas penting yang sejauh ini beberapa kali gagal ditembus dalam upaya pemulihan harga.(*)