Logo
>

IHSG Dibuka Melemah ke 5.907, Asing Jual Bersih Hampir Rp1 Triliun

Total volume transaksi di seluruh pasar mencapai 3,75 miliar saham dengan nilai perdagangan Rp291,32 miliar dari 47,25 ribu kali transaksi.

Ditulis oleh Desty Luthfiani
IHSG Dibuka Melemah ke 5.907, Asing Jual Bersih Hampir Rp1 Triliun
Hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Hingga pukul 09.00 WIB, indeks turun 33,58 poin atau 0,57 persen ke level 5.907,49. Sepanjang perdagangan awal, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 5.924,51 dan terendah 5.905,14.

Total volume transaksi di seluruh pasar mencapai 3,75 miliar saham dengan nilai perdagangan Rp291,32 miliar dari 47,25 ribu kali transaksi. Tekanan jual masih mendominasi pasar seiring berlanjutnya aksi pelepasan saham oleh investor asing.

Data perdagangan menunjukkan nilai beli investor asing mencapai Rp9,88 triliun, sedangkan nilai jual mencapai Rp10,88 triliun. Dengan demikian, tercatat net foreign sell sebesar Rp993,29 miliar di seluruh pasar. Di pasar reguler, investor asing membukukan jual bersih Rp864,07 miliar, sementara di pasar tunai dan negosiasi tercatat net sell Rp129,21 miliar.

Mayoritas sektor berada di zona merah pada awal perdagangan. Sektor basic materials menjadi penekan terbesar dengan koreksi 2,40 persen, disusul sektor energi yang turun 1,70 persen, infrastruktur 1,54 persen, industri 1,12 persen, properti 1,05 persen, barang konsumsi primer 0,87 persen, kesehatan 0,84 persen, teknologi 0,71 persen, keuangan 0,58 persen, serta barang konsumsi non-primer 0,92 persen. Di tengah tekanan tersebut, sektor transportasi dan logistik menjadi satu-satunya sektor yang masih menguat sebesar 0,91 persen.

Pada jajaran top gainers, saham PT Megapower Makmur Tbk (MPOW) yang bergerak di sektor energi memimpin kenaikan setelah melonjak 15,45 persen ke level Rp127 per saham. Posisi berikutnya ditempati PT Kokoh Exa Nusantara Tbk (KOCI) dari sektor perdagangan dan distribusi yang naik 15,05 persen ke Rp107. Saham PT Haloni Jane Tbk (HALO) yang bergerak di sektor barang konsumsi non-primer menguat 8,82 persen ke Rp74, sementara PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ) dari sektor makanan dan minuman naik 8,77 persen ke Rp62. Adapun saham PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk (JMAS) dari sektor keuangan menguat 7,69 persen ke Rp308.

Di sisi lain, saham PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) yang bergerak di sektor jasa keuangan menjadi top loser setelah turun 14,79 persen ke Rp605. Saham PT Indonesia Prima Property Tbk (OMRE) dari sektor properti terkoreksi 14,29 persen ke Rp1.170. Selanjutnya, PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk (PMUI) yang bergerak di sektor perdagangan melemah 14,10 persen ke Rp67, PT Esta Multi Usaha Tbk (ESTA) dari sektor transportasi turun 12 persen ke Rp176, dan PT Krida Jaringan Nusantara Tbk (KJEN) yang bergerak di sektor logistik terkoreksi 11,69 persen ke Rp136.

Tekanan terhadap pasar saham domestik masih berlangsung setelah IHSG sehari sebelumnya mengalami penurunan tajam hingga 4,11 persen dan sempat menyentuh area 5.882, mendekati level terendah yang pernah tercatat pada 2025. Pelemahan tersebut juga terjadi bersamaan dengan depresiasi nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.950 per dolar AS serta berlanjutnya arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia.

Analis MNC Sekuritas menilai posisi IHSG saat ini masih berada dalam fase koreksi yang merupakan bagian dari gelombang A dari gelombang (2). Setelah mencapai target koreksi awal, indeks diperkirakan masih berpotensi bergerak menuju area 5.755 hingga 5.814. Sementara itu, area penguatan terdekat berada pada rentang 5.958 hingga 5.984 dengan level support di 5.899 dan 5.755 serta resistance di 6.111 dan 6.286. 

Sementara itu, dalam riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menilai tekanan yang terjadi di pasar tidak lagi semata-mata dipicu oleh faktor ekonomi, melainkan mulai menyentuh persoalan kepercayaan investor terhadap Indonesia. 

Menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, terdapat lima faktor utama yang saat ini membebani sentimen pasar, yakni kekhawatiran terhadap tata kelola dan kredibilitas kebijakan setelah munculnya outlook negatif dari lembaga pemeringkat internasional, pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, menyusutnya kelas menengah yang selama ini menjadi penggerak konsumsi domestik, berlanjutnya arus keluar dana asing, serta meningkatnya risiko komunikasi kebijakan dan kepemimpinan di mata investor global.

 Dalam jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah agenda penting bulan Juni, termasuk MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell Global Equity Index Series Review. Pertanyaan yang kini mengemuka, menurut Kiwoom, bukan lagi mengapa IHSG jatuh, melainkan apakah pasar sedang menilai risiko Indonesia secara objektif atau justru menghukum Indonesia lebih keras dibandingkan kondisi fundamental yang sebenarnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Desty Luthfiani

Desty Luthfiani seorang jurnalis muda yang bergabung dengan KabarBursa.com sejak Desember 2024 lalu. Perempuan yang akrab dengan sapaan Desty ini sudah berkecimpung di dunia jurnalistik cukup lama. Dimulai sejak mengenyam pendidikan di salah satu Universitas negeri di Surakarta dengan fokus komunikasi jurnalistik. Perempuan asal Jawa Tengah dulu juga aktif dalam kegiatan organisasi teater kampus, radio kampus dan pers mahasiswa jurusan. Selain itu dia juga sempat mendirikan komunitas peduli budaya dengan konten-konten kebudayaan bernama "Mata Budaya". 

Karir jurnalisnya dimulai saat Desty menjalani magang pendidikan di Times Indonesia biro Yogyakarta pada 2019-2020. Kemudian dilanjutkan magang pendidikan lagi di media lokal Solopos pada 2020. Dilanjutkan bekerja di beberapa media maenstream yang terverifikasi dewan pers.

Ia pernah ditempatkan di desk hukum kriminal, ekonomi dan nasional politik. Sekarang fokus penulisan di KabarBursa.com mengulas informasi seputar ekonomi dan pasar modal.

Motivasi yang diilhami Desty yakni "do anything what i want artinya melakukan segala sesuatu yang disuka. Melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin, berpegang teguh pada kebenaran dan menjadi bermanfaat untuk Republik".